يُبَشِّرُهُمْ رَبُّهُمْ بِرَحْمَةٍ مِّنْهُ وَرِضْوَانٍ وَّجَنّٰتٍ لَّهُمْ فِيْهَا نَعِيْمٌ مُّقِيْمٌۙ
Yubasysyiruhum rabbuhum biraḥmatim minhu wa riḍwāniw wa jannātil lahum fīhā na‘īmum muqīm(un).
Tuhan mereka memberi kabar gembira kepada mereka dengan rahmat dari-Nya, dan keridaan serta surga-surga. Bagi mereka kesenangan yang kekal di dalamnya.
Inilah kemenangan dan keberuntungan hakiki yang mereka peroleh, yakni Tuhan akan senantiasa menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat yang sangat luas, dan mengistimewakan mereka dengan keridaan-Nya. Inilah balasan yang sesungguhnya. Dan, bukan hanya itu, di akhirat kelak mereka akan dimasukkan ke dalam surga. Mereka memperoleh kesenangan yang kekal di dalamnya.
Ayat ini menerangkan bahwa Allah memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang hijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka akan mendapat balasan rahmat yang luas, keridaan yang sempurna dan surga yang menjadi tempat tinggal mereka selama-lamanya. Pahala terbesar adalah memperoleh rida Allah sebagaimana firman-Nya:
وَعَدَ اللّٰهُ الْمُؤْمِنِيْن َ وَالْمُؤْمِنٰت ِ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَا وَمَسٰكِنَ طَيِّبَةً فِيْ جَنّٰتِ عَدْنٍ ۗوَرِضْوَانٌ مِّنَ اللّٰهِ اَكْبَرُ ۗذٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ ࣖ ٧٢
Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, dan (mendapat) tempat yang baik di surga ‘Adn. Dan keridaan Allah lebih besar. Itulah kemenangan yang agung. (at-Taubah/9: 72)
Hal ini disebutkan juga dalam hadis Nabi Muhammad saw:
إِنَّ اللّٰهَ يَقُوْلُ ِلاَهْلِ الْجَنَّةِ: يَا اَهْلَ الْجَنَّةِ فَيَقُوْلُوْنَ لَبَّيْكَ رَبَّنَا وَسَعْدَيْكَ. فَيَقُوْلُ: هَلْ رَضِيْتُمْ؟ فَيَقُوْلُوْنَ وَمَا لَنَا لاَ نَرْضَى وَقَدْ أَعْطَيْتَنَا مَالَمْ تُعْطِ أَحَداً مِنْ خَلْقِكَ؟ فَيَقُوْلُ: اَنَا اُعْطِيْكُمْ اَفْضَلَ مِنْ ذٰلِكَ. فَيَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا وَ اَيُّ شَيْءٍ اَفْضَلُ مِنْ ذٰلِكَ؟ فَيَقُوْلُ: اُحِلَّ عَلَيْكُمْ رِضْوَانِي فَلاَ اَسْخَطُ عَلَيْكُمْ بَعْدَهُ اَبَداً (رواه البخاري ومسلم والترمذي والنسائي عن أبي سعيد الخدري)
Allah berkata kepada ahli surga, “Wahai ahli surga.” Mereka menjawab, “Kami patuh kepada Engkau ya Tuhan kami.” Allah berkata, “Apakah kamu sekalian telah rida.” Mereka menjawab, “Bagaimanakah kami tidak akan rida sedangkan kami telah Engkau karuniakan sesuatu yang belum pernah Engkau karuniakan kepada siapapun.” Allah berkata lagi, “Aku akan memberikan kepadamu sesuatu yang lebih utama dari apa yang telah Kuberikan.” Mereka bertanya, “Ya Tuhan kami pemberian apakah yang lebih utama itu?” Allah berkata, “Aku telah meridai kamu sekalian dan tidak akan memurkaimu sesudah itu selama-lamanya.” (Riwayat al-Bukhārī, Muslim, at-Tirmiżī dan an-Nasā’i dari Abi Sa’id al-Khudrī)
Jāhadū جَاهَدُوْا (at-Taubah/9: 20)
Lafal jāhadū (ﺟﺎﻫﺪﻭﺍ) adalah fi’il māḍī yang dihubungkan dengan ḍamīr wau jamā yang berarti mereka berjihad atau berjuang sungguh-sungguh di jalan Allah, baik dengan mengorbankan harta maupun jiwa. Taṣrifnya yaitu jāhada-yujāhidu-jāhid-jih ādan. Akar kata yang terdiri dari (ج - هـ - د) mempunyai arti kesulitan atau kekuatan. Secara garis besar kata ini berarti mengerahkan segala kekuatan dan kemampuan untuk menghasilkan apa yang dicita-citakan. Dalam Al-Qur’an banyak sekali dipergunakan kata jihad, baik dalam bentuk fi’il māḍi, fi’il muḍāri’ dan fi’il amr, maupun dalam bentuk isim maṣdar (bentuk kata benda) atau verbal noun. Juga dalam bentuk isim fā’il (orang yang mengerjakan) yaitu mujāhid. Untuk dapat menciptakan suasana yang aman, damai dan sejahtera, serta dapat melaksanakan tuntunan agama sebaik-baiknya memang perlu perjuangan yang sungguh-sungguh. Nabi dan Sahabat berjuang dulu dengan keras seperti hijrah dan berperang mempertahankan diri dari kejahatan orang-orang kafir, baru dapat merasakan ketenangan hidup, bekerja, dan melaksanakan ibadah dengan sebaik-baiknya tanpa takut mendapat gangguan dari siapa pun.













































