Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 6 - Surat At-Tīn (Buah Tin)
التّين
Ayat 6 / 8 •  Surat 95 / 114 •  Halaman 597 •  Quarter Hizb 60.5 •  Juz 30 •  Manzil 7 • Makkiyah

اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ فَلَهُمْ اَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُوْنٍۗ

Illal-lażīna āmanū wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti falahum ajrun gairu mamnūn(in).

kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan. Maka, mereka akan mendapat pahala yang tidak putus-putusnya.

Makna Surat At-Tin Ayat 6
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Kami masukkan manusia ke neraka, kecuali orang-orang yang benar-benar beriman dan mengerjakan kebajikan, baik spiritual maupun sosial, secara ikhlas dan sesuai syariat Islam; maka mereka akan mendapat pahala yang tidak ada putus-putusnya dan tidak pula berkurang. Kami selamatkan mereka dari neraka dan Kami berikan itu semua kepada mereka sebagai ganjaran dari Kami.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Yang terhindar dari kehinaan itu adalah orang-orang yang beriman dan berbuat baik. Dengan demikian, tolok ukur kemuliaan adalah iman dan perbuatan baik itu. Hal itu karena iman berarti mengakui adanya Allah dan nilai-nilai yang diajarkan-Nya. Pengakuan itu akan menjadi jalan hidup atau akidahnya, dan karena telah menjadi akidahnya, maka nilai-nilai itu akan dilaksanakannya dengan sepenuh hatinya. Karena nilai-nilai yang diajarkan Allah seluruhnya baik, maka manusia yang melaksanakannya akan menjadi manusia baik pula. Semakin tinggi akidah seseorang semakin baik perbuatannya, sehingga ia akan menjadi manusia terbaik dan termulia.

Manusia yang memiliki sikap hidup yang didasarkan atas iman dan perbuatan baik itu akan memperoleh balasan dari Allah tanpa putus-putusnya. Iman dan perbuatan baiknya itu akan berbuah di dunia, berupa kesentosaan hidup baginya dan bagi masyarakatnya, dan kebahagiaan hidup di akhirat di dalam surga.

Isi Kandungan Kosakata

Asfala أَسْفَلَ (at-Tīn/95: 5)

Kata asfala adalah bentuk superlatif dari kata as-sufl, as-safl, as-sufālah/ as-safālah. Dalam bahasa Arab, kata asfala dan derivasinya bermakna rendah, antonim tinggi. Dengan demikian asfala berarti paling rendah. Mulanya ia menunjukkan setiap tempat yang rendah, tetapi kemudian maknanya berkembang dalam bentuk metafor yang menunjukkan kerendahan martabat dan kehinaan. Al-Fayrūzabādi dalam bukunya Baṣā’ir Żawit-Tamyīz menyebutkan, dalam Al-Qur’an ditemukan setidaknya tiga makna kata asfal; pertama: pada Surah al-Anfāl/8: 42 bermakna "paling bawah" (adwan); kedua: Surah aṣ-Ṣāffāt/37: 98 berarti yang "paling merugi" dalam siksaan, dan ketiga: Surah at-Tīn/95: 5 bermakna "paling hina" (arżal). Kata ini menjadi sifat dari kata berikutnya yaitu sāfilīn (tempat-tempat yang paling rendah dan hina). Jika dikaitkan dengan kalimat sebelumnya (ṡumma radadnāhu), maka kedudukannya adalah untuk menggambarkan keadaan saat manusia dikembalikan, yaitu dikembalikan ke tempat (neraka) yang paling rendah dan hina. Ulama lain, seperti Ikrimah dan Qatadah, memahami ayat tersebut dengan pengembalian kepada keadaan lemah dan bentuk yang tidak lagi bagus karena lanjut usia, setelah sebelumnya tercipta dalam bentuk yang sebaik-baiknya.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto