ثُمَّ رَدَدْنٰهُ اَسْفَلَ سٰفِلِيْنَۙ
Ṡumma radadnāhu asfala sāfilīn(a).
Kemudian, kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya,
Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya, yaitu ke neraka, bila mereka durhaka kepada Allah dan tidak menaati utusan-Nya. Ketika itu, kesempurnaan fisik, akal, dan sifat mereka tidak akan menyelamatkannya dari azab Allah.
Manusia yang paling baik dan sempurna kejadiannya itu akan menjadi tidak berguna bila tidak dijaga pertumbuhannya dan tidak dipelihara kesehatannya. Manusia yang paling sempurna rohaninya itu akan menjadi jahat dan merusak di muka bumi ini bila tidak diberi agama dan pendidikan yang baik. Manusia yang lemah akan menjadi beban, dan manusia yang jahat akan merusak masyarakatnya. Akhirnya di akhirat ia akan masuk neraka. Dengan demikian, manusia itu akan menjadi makhluk terhina.
Asfala أَسْفَلَ (at-Tīn/95: 5)
Kata asfala adalah bentuk superlatif dari kata as-sufl, as-safl, as-sufālah/ as-safālah. Dalam bahasa Arab, kata asfala dan derivasinya bermakna rendah, antonim tinggi. Dengan demikian asfala berarti paling rendah. Mulanya ia menunjukkan setiap tempat yang rendah, tetapi kemudian maknanya berkembang dalam bentuk metafor yang menunjukkan kerendahan martabat dan kehinaan. Al-Fayrūzabādi dalam bukunya Baṣā’ir Żawit-Tamyīz menyebutkan, dalam Al-Qur’an ditemukan setidaknya tiga makna kata asfal; pertama: pada Surah al-Anfāl/8: 42 bermakna "paling bawah" (adwan); kedua: Surah aṣ-Ṣāffāt/37: 98 berarti yang "paling merugi" dalam siksaan, dan ketiga: Surah at-Tīn/95: 5 bermakna "paling hina" (arżal). Kata ini menjadi sifat dari kata berikutnya yaitu sāfilīn (tempat-tempat yang paling rendah dan hina). Jika dikaitkan dengan kalimat sebelumnya (ṡumma radadnāhu), maka kedudukannya adalah untuk menggambarkan keadaan saat manusia dikembalikan, yaitu dikembalikan ke tempat (neraka) yang paling rendah dan hina. Ulama lain, seperti Ikrimah dan Qatadah, memahami ayat tersebut dengan pengembalian kepada keadaan lemah dan bentuk yang tidak lagi bagus karena lanjut usia, setelah sebelumnya tercipta dalam bentuk yang sebaik-baiknya.













































