Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 4 - Surat At-Tīn (Buah Tin)
التّين
Ayat 4 / 8 •  Surat 95 / 114 •  Halaman 597 •  Quarter Hizb 60.5 •  Juz 30 •  Manzil 7 • Makkiyah

لَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ فِيْٓ اَحْسَنِ تَقْوِيْمٍۖ

Laqad khalaqnal-insāna fī aḥsani taqwīm(in).

sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.

Makna Surat At-Tin Ayat 4
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk fisik yang sebaik-baiknya, jauh lebih sempurna daripada hewan. Kami juga bekali mereka dengan akal dan sifat-sifat yang unggul. Dengan kelebihan-kelebihan itulah Kami amanati manusia sebagai khalifah di bumi.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Setelah bersumpah dengan buah-buahan yang bermanfaat atau tempat-tempat yang mulia itu, Allah menegaskan bahwa Dia telah menciptakan manusia dengan kondisi fisik dan psikis terbaik. Dari segi fisik, misalnya, hanya manusia yang berdiri tegak sehingga otaknya bebas berpikir, yang menghasilkan ilmu, dan tangannya juga bebas bergerak untuk merealisasikan ilmunya itu, sehingga melahirkan teknologi. Bentuk manusia adalah yang paling indah dari semua makhluk-Nya. Dari segi psikis, hanya manusia yang memiliki pikiran dan perasaan yang sempurna. Dan lebih-lebih lagi, hanya manusia yang beragama. Banyak lagi keistimewaan manusia dari segi fisik dan psikis itu yang tidak mungkin diuraikan di sini.

Penegasan Allah bahwa Dia telah menciptakan manusia dengan kondisi fisik dan psikis terbaik itu mengandung arti bahwa fisik dan psikis manusia itu perlu dipelihara dan ditumbuhkembangkan. Fisik manusia dipelihara dan ditumbuhkembangkan dengan memberinya gizi yang cukup dan menjaga kesehatannya. Dan psikis manusia dipelihara dan ditumbuhkembangkan dengan memberinya agama dan pendidikan yang baik. Bila fisik dan psikis manusia dipelihara dan ditumbuhkembangkan, maka manusia akan dapat memberikan kemanfaatan yang besar kepada alam ini. Dengan demikianlah ia akan menjadi makhluk termulia.

Isi Kandungan Kosakata

Ṭūr Sinīn طُوْرِ سِيْنِيْن (at-Tīn/95: 2)

Ketiga ayat pertama dalam Surah at-Tīn ini menggunakan buah tin dan zaitun, Gunung Sinai, dan negeri yang aman (Mekah) sebagai pernyataan sumpah. Keempat nama itu melambangkan: (1) tempat kelahiran Nabi Isa dan Masjid Baitulmakdis, (2) gunung tempat Nabi Musa menerima wahyu, dan (3) kota tempat kelahiran Nabi Muhammad. Para mufasir mengatakan sebagian bersumber dari Ibnu ‘Abbās dan beberapa orang tabiin di tiga tempat itu, Allah mengutus masing-masing satu orang nabi ulul azmi (yang sabar dan tabah menghadapi segala cobaan), yang membawa hukum syariat yang besar, yaitu Nabi Musa, Isa, dan Muhammad saw.

Pohon ara dan zaitun banyak tumbuh di negeri-negeri yang berbatasan dengan Laut Mediterania bagian timur, sebagian di semenanjung Arab, terutama di Palestina dan Suria.

Taurat diberikan kepada Nabi Musa melalui wahyu (al-Mā’idah/5: 44 dan 46), dan Injil juga diberikan kepada Nabi Isa melalui wahyu dari Allah yang disebutkan sebagai penerus Taurat. Sama dengan dua kitab di atas, Al-Qur’an juga diwahyukan kepada Nabi Muhammad (Āli ‘Imrān/3: 3).

Kata ṭūr dalam Al-Qur’an terdapat dalam 10 ayat, yaitu al-Baqarah/2: 63 dan 93, an-Nisā’/4: 154, Maryam/19: 52, Ṭāhā/20: 80, al-Mu’minūn/23: 20, al-Qaṣaṣ/28: 29 dan 46, aṭ-Ṭūr/52: 1, dan at-Tīn/95: 2). Arti kata ṭūr ini sangat beragam sebagai kata benda, yang secara etimologi bukan dari bahasa Arab, tetapi dari bahasa Suryani (Syriac), yang berarti gunung. Tur Sinai atau Gunung Hareh, berasal dari bahasa Ibrani, Har Sinai, atau Jabal Musa dalam bahasa Arab.

Dalam ayat ini, ṭūr berarti gunung secara umum, dengan catatan, antara lain kata Ibnu Kaṡīr, semua gunung yang ditumbuhi pepohonan disebut ṭūr, bila tanpa tumbuhan disebut jabal. Di atas Ṭūr (Gunung) Sinai ini, Nabi Musa menerima Taurat, wahyu yang sangat menentukan hukum syariat Musa. Agaknya ini yang kemudian dikenal dengan sebutan al-waṣāyā al-‘asyr (Kesepuluh Firman atau Ten Commandments). Allah berfirman:

وَاذْكُرْ فِى الْكِتٰبِ مُوْسٰٓىۖ اِنَّهٗ كَانَ مُخْلَصًا وَّكَانَ رَسُوْلًا نَّبِيًّا ٥١ وَنَادَيْنٰهُ مِنْ جَانِبِ الطُّوْرِ الْاَيْمَنِ وَقَرَّبْنٰهُ نَجِيًّا ٥٢

Dan ceritakanlah (Muhammad), kisah Musa di dalam Kitab (Al-Qur’an). Dia benar-benar orang yang terpilih, seorang rasul dan nabi. Dan Kami telah memanggilnya dari sebelah kanan gunung (Sinai) dan Kami dekatkan dia untuk bercakap-cakap. (Maryam/19: 51-52)

Dalam pembukaan Surah aṭ-Ṭūr/52, kata ṭūr dipakai sebagai sumpah, “Demi Gunung” seperti yang terdapat juga dalam Surah at-Tīn/95, tetapi yang terakhir ini sekaligus menyebutkan empat nama sebagai simbol sumpah: Tin, Zaitun, Gunung Sinai, dan kota Mekah. Pengucapan sumpah ini merupakan suatu isyarat betapa hebatnya ayat-ayat berikutnya sesudah ayat pembukaan itu.

Gunung Sinai terkenal sebagai tempat yang penting turunnya wahyu dalam sejarah agama Yahudi ketika Tuhan dikatakan menampakkan diri kepada Musa dan memberikan Kesepuluh Firman (Keluaran 20, Ulangan 5). Menurut tradisi Yahudi, tidak saja Decalogue (Kesepuluh Firman), tetapi seluruh tulisan teks Bibel dan penafsirannya. Dalam tradisi Kristen dan Islam, gunung ini dipandang suci, dan sejak dulu sudah diterima sebagai situs dalam tradisi Yahudi, Kristen, dan Islam. Ketinggian gunung ini 2.285 meter di atas permukaan laut, dan secara geografis masuk dalam kawasan Mesir. Tempat ini kemudian menjadi tempat ziarah dan kunjungan wisata.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto