وَالتِّيْنِ وَالزَّيْتُوْنِۙ
Wat-tīni waz-zaitūn(i).
Demi (buah) tin dan (buah) zaitun,
Demi buah Tin dan Zaitun,
Dalam ayat ini, Allah bersumpah dengan tin dan zaitun. Ada yang berpendapat bahwa tin dan zaitun adalah nama buah yang dikenal sekarang, yang menunjukkan kelebihan kandungan yang dimiliki kedua buah itu. Ada pula yang berpendapat bahwa yang dimaksud adalah tempat banyaknya tin dan zaitun itu tumbuh, yaitu Yerusalem, tempat Nabi Isa lahir dan menerima wahyu.
Dua nama tumbuhan, ara (at-tīn) dan zaitun (az-zaitūn), dan dua tempat (Bukit Sinai—tempat Nabi Musa memerima wahyu; dan kota yang aman (Mekah)—tempat Nabi Muhammad menerima wahyu), digunakan Allah untuk menjadi semacam bukti kebenaran sumpah-Nya. Beberapa ulama menyatakan bahwa at-tīn dan az-zaitūn sebenarnya juga menunjuk pada dua tempat. At-Tīn adalah bukit di sekitar Damaskus, Siria. Sementara az-zaitūn adalah tempat Nabi Isa menerima wahyu.
Ada juga yang memahami at-tīn dan az-zaitūn sebagai jenis tumbuhan. Buah ara (at-tīn) adalah buah dari sejenis pohon yang banyak tumbuh di kawasan Timur Tengah. Buahnya bila telah matang berwarna coklat, dan mempunyai biji seperti tomat. Rasanya manis dan dinilai memiliki gizi yang tinggi.
Penelitian ilmiah menunjukkan bahwa buah ara memiliki kandungan serat yang sangat tinggi dibandingkan buah lainnya. Satu buah ara yang sudah dikeringkan mengandung 20% serat dari yang dianjurkan untuk dikonsumsi orang setiap harinya. Sebagaimana diketahui, penelitian yang dilakukan dalam beberapa dekade terakhir menunjukkan bahwa serat dari tumbuhan sangat penting agar alat pencernaan dapat berfungsi dengan baik. Serat akan membantu sistem pencernaan dan juga dapat mencegah seseorang terkena kanker usus.
Kandungan yang dimiliki oleh buah ara juga sangat menjanjikan. Buah ini mengandung antioksidan yang dapat mencegah timbulnya beberapa penyakit. Antioksidan berperan untuk menetralisir beberapa unsur yang merusak (free radicals), baik yang dihasilkan di dalam tubuh (karena beberapa reaksi kimia dalam pencernaan) atau masuk ke dalam tubuh dari luar. Kandungan Phenol pada buah ara juga tinggi. Bahan Phenol ini berfungsi sebagai antiseptik untuk membunuh mikroba.
Penelitian di Universitas Rutgers di Amerika Serikat mengungkapkan bahwa kandungan yang tinggi dari omega-3, omega-6 dan phytosterol, maka buah ara sangat potensial untuk menurunkan kadar kolesterol dalam darah. Sebagaimana diketahui, omega-3 dan omega-6 tidak dapat diproduksi oleh tubuh. Keduanya hanya dapat diperoleh dari asupan makanan. Kedua jenis asam lemak ini juga sangat berpengaruh terhadap kinerja jantung, otak, dan sistem syaraf. Phytosterol sendiri berfungsi untuk menghilangkan kolesterol yang diperoleh dari daging, sebelum kolesterol tersebut masuk ke dalam sistem jaringan darah.
Pohon ara mengandung mineral yang cukup lengkap dibandingkan buah lainnya. Dari 40 gram buah ara mengandung 244 mg kalium (sebanyak 7% dari kebutuhan per hari), 53 mg kalsium (6% dari kebutuhan per hari), dan 1,2 mg besi (6% dari kebutuhan per hari). Tingginya kadar kalsium ini hanya dikalahkan oleh jeruk.
Buah ara juga dipercaya mempercepat penyembuhan pada seseorang yang sedang sakit. Buah ini mengandung bahan-bahan yang diperlukan agar badan si pasien cepat segar dan berenergi. Komponen nutrisi utama yang dikandung buah ara adalah gula. Persentasenya cukup tinggi, yaitu sebanyak 51% sampai 74% dari seluruh bagian buah.
Demikian pula halnya dengan zaitun. Sederetan penelitian telah mengungkapkan berbagai manfaat buah zaitun untuk kesehatan manusia. Zaitun, yang diberi pujian sebagai “pohon yang penuh berkah” dalam ayat 35 Surah an-Nūr/24, adalah tumbuhan perdu. Jenis-jenisnya tersebar di kawasan sekitar Laut Tengah. Pohonnya dapat mencapai umur ratusan tahun. Buah zaitun dapat dipanen untuk masa yang sangat panjang.
Sebagai bahan makanan, buah zaitun mengandung beberapa unsur yang diperlukan manusia, seperti protein yang cukup tinggi, zat garam, besi dan fosfor, vitamin A dan B. Zaitun juga dikenal sebagai penghalus kulit dan digunakan dalam industri sabun. Minyaknya juga memiliki kelebihan-kelebihan yang tidak dimiliki minyak hewani atau minyak nabati lainnya. Diketahui bahwa minyak zaitun menyehatkan jantung dan pembuluh darah.
Beberapa kegunaan minyak zaitun adalah untuk kesehatan jantung dan pembuluh darah, pencegahan kanker, arthistis, memperlambat proses penuaan, membantu pertumbuhan pada anak-anak, menurunkan tekanan darah tinggi, serta kegunaan lain bagi berbagai organ bagian dalam.
Ṭūr Sinīn طُوْرِ سِيْنِيْن (at-Tīn/95: 2)
Ketiga ayat pertama dalam Surah at-Tīn ini menggunakan buah tin dan zaitun, Gunung Sinai, dan negeri yang aman (Mekah) sebagai pernyataan sumpah. Keempat nama itu melambangkan: (1) tempat kelahiran Nabi Isa dan Masjid Baitulmakdis, (2) gunung tempat Nabi Musa menerima wahyu, dan (3) kota tempat kelahiran Nabi Muhammad. Para mufasir mengatakan sebagian bersumber dari Ibnu ‘Abbās dan beberapa orang tabiin di tiga tempat itu, Allah mengutus masing-masing satu orang nabi ulul azmi (yang sabar dan tabah menghadapi segala cobaan), yang membawa hukum syariat yang besar, yaitu Nabi Musa, Isa, dan Muhammad saw.
Pohon ara dan zaitun banyak tumbuh di negeri-negeri yang berbatasan dengan Laut Mediterania bagian timur, sebagian di semenanjung Arab, terutama di Palestina dan Suria.
Taurat diberikan kepada Nabi Musa melalui wahyu (al-Mā’idah/5: 44 dan 46), dan Injil juga diberikan kepada Nabi Isa melalui wahyu dari Allah yang disebutkan sebagai penerus Taurat. Sama dengan dua kitab di atas, Al-Qur’an juga diwahyukan kepada Nabi Muhammad (Āli ‘Imrān/3: 3).
Kata ṭūr dalam Al-Qur’an terdapat dalam 10 ayat, yaitu al-Baqarah/2: 63 dan 93, an-Nisā’/4: 154, Maryam/19: 52, Ṭāhā/20: 80, al-Mu’minūn/23: 20, al-Qaṣaṣ/28: 29 dan 46, aṭ-Ṭūr/52: 1, dan at-Tīn/95: 2). Arti kata ṭūr ini sangat beragam sebagai kata benda, yang secara etimologi bukan dari bahasa Arab, tetapi dari bahasa Suryani (Syriac), yang berarti gunung. Tur Sinai atau Gunung Hareh, berasal dari bahasa Ibrani, Har Sinai, atau Jabal Musa dalam bahasa Arab.
Dalam ayat ini, ṭūr berarti gunung secara umum, dengan catatan, antara lain kata Ibnu Kaṡīr, semua gunung yang ditumbuhi pepohonan disebut ṭūr, bila tanpa tumbuhan disebut jabal. Di atas Ṭūr (Gunung) Sinai ini, Nabi Musa menerima Taurat, wahyu yang sangat menentukan hukum syariat Musa. Agaknya ini yang kemudian dikenal dengan sebutan al-waṣāyā al-‘asyr (Kesepuluh Firman atau Ten Commandments). Allah berfirman:
وَاذْكُرْ فِى الْكِتٰبِ مُوْسٰٓىۖ اِنَّهٗ كَانَ مُخْلَصًا وَّكَانَ رَسُوْلًا نَّبِيًّا ٥١ وَنَادَيْنٰهُ مِنْ جَانِبِ الطُّوْرِ الْاَيْمَنِ وَقَرَّبْنٰهُ نَجِيًّا ٥٢
Dan ceritakanlah (Muhammad), kisah Musa di dalam Kitab (Al-Qur’an). Dia benar-benar orang yang terpilih, seorang rasul dan nabi. Dan Kami telah memanggilnya dari sebelah kanan gunung (Sinai) dan Kami dekatkan dia untuk bercakap-cakap. (Maryam/19: 51-52)
Dalam pembukaan Surah aṭ-Ṭūr/52, kata ṭūr dipakai sebagai sumpah, “Demi Gunung” seperti yang terdapat juga dalam Surah at-Tīn/95, tetapi yang terakhir ini sekaligus menyebutkan empat nama sebagai simbol sumpah: Tin, Zaitun, Gunung Sinai, dan kota Mekah. Pengucapan sumpah ini merupakan suatu isyarat betapa hebatnya ayat-ayat berikutnya sesudah ayat pembukaan itu.
Gunung Sinai terkenal sebagai tempat yang penting turunnya wahyu dalam sejarah agama Yahudi ketika Tuhan dikatakan menampakkan diri kepada Musa dan memberikan Kesepuluh Firman (Keluaran 20, Ulangan 5). Menurut tradisi Yahudi, tidak saja Decalogue (Kesepuluh Firman), tetapi seluruh tulisan teks Bibel dan penafsirannya. Dalam tradisi Kristen dan Islam, gunung ini dipandang suci, dan sejak dulu sudah diterima sebagai situs dalam tradisi Yahudi, Kristen, dan Islam. Ketinggian gunung ini 2.285 meter di atas permukaan laut, dan secara geografis masuk dalam kawasan Mesir. Tempat ini kemudian menjadi tempat ziarah dan kunjungan wisata.












































