وَطُوْرِ سِيْنِيْنَۙ
Wa ṭūri sīnīn(a).
demi gunung Sinai,
demi gunung Sinai,
Setelah itu, Allah bersumpah dengan Gunung Sinai, tempat Nabi Musa menerima wahyu (Taurat). Mengenai bahwa Nabi Musa menerima wahyu di tempat itu dikisahkan pula antara lain dalam Surah al-A‘rāf/7: 144. Allah berfirman:
قَالَ يٰمُوْسٰٓى اِنِّى اصْطَفَيْتُكَ عَلَى النَّاسِ بِرِسٰلٰتِيْ وَبِكَلَامِيْ ۖفَخُذْ مَآ اٰتَيْتُكَ وَكُنْ مِّنَ الشّٰكِرِيْنَ ١٤٤
(Allah) berfirman, “Wahai Musa! Sesungguhnya Aku memilih (melebihkan) engkau dari manusia yang lain (pada masamu) untuk membawa risalah-Ku dan firman-Ku, sebab itu berpegang-teguhlah kepada apa yang Aku berikan kepadamu dan hendaklah engkau termasuk orang-orang yang bersyukur.” (al-A'rāf/7: 144)
Dalam ayat sebelumnya dikisahkan bagaimana Nabi Musa naik bukit Sinai untuk menerima wahyu. Dalam ayat ini dinyatakan pengangkatan Musa sebagai nabi dan menerima wahyu yaitu kitab Taurat.
Ṭūr Sinīn طُوْرِ سِيْنِيْن (at-Tīn/95: 2)
Ketiga ayat pertama dalam Surah at-Tīn ini menggunakan buah tin dan zaitun, Gunung Sinai, dan negeri yang aman (Mekah) sebagai pernyataan sumpah. Keempat nama itu melambangkan: (1) tempat kelahiran Nabi Isa dan Masjid Baitulmakdis, (2) gunung tempat Nabi Musa menerima wahyu, dan (3) kota tempat kelahiran Nabi Muhammad. Para mufasir mengatakan sebagian bersumber dari Ibnu ‘Abbās dan beberapa orang tabiin di tiga tempat itu, Allah mengutus masing-masing satu orang nabi ulul azmi (yang sabar dan tabah menghadapi segala cobaan), yang membawa hukum syariat yang besar, yaitu Nabi Musa, Isa, dan Muhammad saw.
Pohon ara dan zaitun banyak tumbuh di negeri-negeri yang berbatasan dengan Laut Mediterania bagian timur, sebagian di semenanjung Arab, terutama di Palestina dan Suria.
Taurat diberikan kepada Nabi Musa melalui wahyu (al-Mā’idah/5: 44 dan 46), dan Injil juga diberikan kepada Nabi Isa melalui wahyu dari Allah yang disebutkan sebagai penerus Taurat. Sama dengan dua kitab di atas, Al-Qur’an juga diwahyukan kepada Nabi Muhammad (Āli ‘Imrān/3: 3).
Kata ṭūr dalam Al-Qur’an terdapat dalam 10 ayat, yaitu al-Baqarah/2: 63 dan 93, an-Nisā’/4: 154, Maryam/19: 52, Ṭāhā/20: 80, al-Mu’minūn/23: 20, al-Qaṣaṣ/28: 29 dan 46, aṭ-Ṭūr/52: 1, dan at-Tīn/95: 2). Arti kata ṭūr ini sangat beragam sebagai kata benda, yang secara etimologi bukan dari bahasa Arab, tetapi dari bahasa Suryani (Syriac), yang berarti gunung. Tur Sinai atau Gunung Hareh, berasal dari bahasa Ibrani, Har Sinai, atau Jabal Musa dalam bahasa Arab.
Dalam ayat ini, ṭūr berarti gunung secara umum, dengan catatan, antara lain kata Ibnu Kaṡīr, semua gunung yang ditumbuhi pepohonan disebut ṭūr, bila tanpa tumbuhan disebut jabal. Di atas Ṭūr (Gunung) Sinai ini, Nabi Musa menerima Taurat, wahyu yang sangat menentukan hukum syariat Musa. Agaknya ini yang kemudian dikenal dengan sebutan al-waṣāyā al-‘asyr (Kesepuluh Firman atau Ten Commandments). Allah berfirman:
وَاذْكُرْ فِى الْكِتٰبِ مُوْسٰٓىۖ اِنَّهٗ كَانَ مُخْلَصًا وَّكَانَ رَسُوْلًا نَّبِيًّا ٥١ وَنَادَيْنٰهُ مِنْ جَانِبِ الطُّوْرِ الْاَيْمَنِ وَقَرَّبْنٰهُ نَجِيًّا ٥٢
Dan ceritakanlah (Muhammad), kisah Musa di dalam Kitab (Al-Qur’an). Dia benar-benar orang yang terpilih, seorang rasul dan nabi. Dan Kami telah memanggilnya dari sebelah kanan gunung (Sinai) dan Kami dekatkan dia untuk bercakap-cakap. (Maryam/19: 51-52)
Dalam pembukaan Surah aṭ-Ṭūr/52, kata ṭūr dipakai sebagai sumpah, “Demi Gunung” seperti yang terdapat juga dalam Surah at-Tīn/95, tetapi yang terakhir ini sekaligus menyebutkan empat nama sebagai simbol sumpah: Tin, Zaitun, Gunung Sinai, dan kota Mekah. Pengucapan sumpah ini merupakan suatu isyarat betapa hebatnya ayat-ayat berikutnya sesudah ayat pembukaan itu.
Gunung Sinai terkenal sebagai tempat yang penting turunnya wahyu dalam sejarah agama Yahudi ketika Tuhan dikatakan menampakkan diri kepada Musa dan memberikan Kesepuluh Firman (Keluaran 20, Ulangan 5). Menurut tradisi Yahudi, tidak saja Decalogue (Kesepuluh Firman), tetapi seluruh tulisan teks Bibel dan penafsirannya. Dalam tradisi Kristen dan Islam, gunung ini dipandang suci, dan sejak dulu sudah diterima sebagai situs dalam tradisi Yahudi, Kristen, dan Islam. Ketinggian gunung ini 2.285 meter di atas permukaan laut, dan secara geografis masuk dalam kawasan Mesir. Tempat ini kemudian menjadi tempat ziarah dan kunjungan wisata.








































