فٰكِهِيْنَ بِمَآ اٰتٰىهُمْ رَبُّهُمْۚ وَوَقٰىهُمْ رَبُّهُمْ عَذَابَ الْجَحِيْمِ
Fākihīna bimā ātāhum rabbuhum, wa waqāhum rabbuhum ‘ażābal-jaḥīm(i).
Mereka bersuka ria dengan apa yang Tuhan anugerahkan kepada mereka. Tuhan menjaga mereka dari azab (neraka) Jahim.
Di surga itu mereka selalu bersuka ria dan berbahagia dengan apa yang diberikan Tuhan Yang Maha Pengasih kepada mereka; dan selain itu, Tuhan Yang Maha Pemberi senantiasa memelihara mereka dari azab neraka yang panas dan pedihnya tidak terkira.
Dalam ayat ini digambarkan bahwa mereka merasakan suka cita dan kebahagiaan yang penuh karena anugrah dan hadiah-hadiah yang dilimpah-kan Allah kepadanya. Mereka tidak pernah terganggu oleh segala macam was-was atau dihinggapi oleh perasaan lelah. Mereka betul-betul berada dalam kesenangan dan kenikmatan serta kelezatan luar biasa, muka mereka berseri-seri, ceria, dan riang gembira. Mereka telah diselamatkan oleh Tuhannya dari azab. Mereka kini merasakan segala kenikmatan dan jauh dari kesengsaraan. Itulah kesenangan yang benar dan nikmat yang abadi.
Maṣfūfah مَصْفُوْفَة (aṭ-Ṭur/52: 20)
Kata maṣfūfah adalah isim maf‘ūl. Ia dari kata ṣaffa-yaṣuffu-ṣufūfan , yang artinya barisan. Seperti dikatakan dalam urusan salat: sawwū ṣufūfakum (luruskan barisanmu semua). Secara bahasa, maṣfūfah dalam ayat ini artinya dibariskan atau tersusun secara rapi, tidak dalam keadaan berserak tak teratur. Ia merupakan sifat dari kata sururin yang adalah jama‘ (plural) dari kata sarīrun yang artinya ranjang/dipan tempat beristirahat. “Dipan-dipan itu disifati dengan maṣfūfah (yang tersusun rapi) karena dipan yang satu diletakkan di samping yang lain “qad wuḍi‘a ba‘ḍuha ilā janbi ba‘ḍin,” menurut Ibn al-Jauzi dalam tafsirnya. Tetapi, bagaimana keadaan yang sebenarnya maksud ungkapan “dipan-dipan yang tersusun rapi itu,” wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb. Hanya Allah swt yang paling mengetahui hakikatnya.

















































