فَاَقْبَلَتِ امْرَاَتُهٗ فِيْ صَرَّةٍ فَصَكَّتْ وَجْهَهَا وَقَالَتْ عَجُوْزٌ عَقِيْمٌ
Fa aqbalatimra'atuhū fī ṣarratin fa ṣakkat wajhahā wa qālat ‘ajūzun ‘aqīm(un).
Istrinya datang sambil berteriak (terperanjat) lalu menepuk-nepuk wajahnya sendiri dan berkata, “(Aku ini) seorang perempuan tua yang mandul.”
Ketika mendengar berita yang disampaikan para tamu itu tentang akan lahirnya seorang anak yang alim, maka kemudian istrinya, yaitu Sarah datang memekik dengan tercengang karena heran dan gembira. Namun setelah menyadari keadaan dirinya, ia lalu menepuk wajah-nya sendiri seraya berkata, “Aku ini seorang perempuan tua yang mandul, bagaimana mungkin aku bisa melahirkan anak.”
Ayat ini mengungkapkan bahwa istrinya Sarah setelah mendengar berita tersebut, ia datang dengan pekikan suara yang kuat lalu menepuk mukanya sendiri seraya mengatakan, bagaimana mungkin aku akan melahirkan seorang anak, padahal aku adalah seorang perempuan tua yang mandul?
1. Ḍaifi Ibrāhīm ضَيْفِ إِبْرَاهِيْمَ (aż-Żāriyāt/51: 24)
Kata ḍaifi adalah kata jadian (maṣdar), jamaknya adalah aḍyāf, ḍuyūf, ḍīfan. Kata ini pada mulanya berarti condong atau cenderung kepada sesuatu. Ungkapan ḍāfat asy-syamsu lil-gurūb berarti matahari itu condong ke barat untuk terbenam. Tamu dikatakan ḍaif karena mampir (condong) ke tempat orang yang dikunjunginya. Dalam terminologi ilmu gramatika bahasa Arab (naḥw) ada ungkapan iḍafah seperti ungkapan ‘Abdullāh yang terdiri dari dua kata yaitu ‘Abd dan Allāh. Kemudian yang pertama (‘abd) di-iḍafah-kan kepada yang kedua (Allāh). Iḍāfah di sini berarti kalimat pertama digabungkan (dicondongkan) ke kalimat kedua menjadi satu ungkapan. Yang dimaksud dengan “Ḍaif Ibrāhīm” pada ayat ini adalah para malaikat yang akan memberitahukan kepada Nabi Ibrahim bahwa Nabi Ibrahim akan dikaruniai seorang anak dan memberitahukan bahwa kaumnya Nabi Lut akan dihancurkan.
2. Faṣakkat wajhahā فَصَكَّتْ وَجْهَهَا (aż-Żāriyāt/51: 29)
Kata ṣakkat pada mulanya berarti benturan dua benda secara keras. Kata ṣakkal-bāb artinya dia menutup pintu dengan keras. Ungkapan iṣṭakkatir-rukbatu artinya kedua lututnya berbenturan. Pada ayat ini kata ṣakkat wajhaha artinya istri Nabi Ibrahim (Sarah) memukul (menempeleng) wajahnya atau mengumpulkan jari-jarinya dan memukulkannya di dahinya sebagaimana adat kebiasaan perempuan jika tidak mempercayai sesuatu atau merasa keheranan.












































