Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 41 - Surat Aż-Żāriyāt (Yang Menerbangkan)
الذّٰريٰت
Ayat 41 / 60 •  Surat 51 / 114 •  Halaman 522 •  Quarter Hizb 53 •  Juz 27 •  Manzil 7 • Makkiyah

وَفِيْ عَادٍ اِذْ اَرْسَلْنَا عَلَيْهِمُ الرِّيْحَ الْعَقِيْمَۚ

Wa fī ‘ādin iż arsalnā ‘alaihimur-rīḥal-‘aqīm(a).

(Begitu pula Kami meninggalkan) pada (kaum) ‘Ad (tanda-tanda kekuasaan Allah) ketika Kami mengirim kepada mereka angin yang membinasakan.

Makna Surat Az-Zariyat Ayat 41
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Dan perhatikanlah pula tanda-tanda kekuasaan Kami pada kisah kaum ‘Ad. Ingatlah ketika Kami kirimkan kepada mereka angin beku atau angin panas yang membinasakan mereka.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Kemudian dalam ayat ini Allah swt menceritakan tentang kisah binasanya kaum ‘Ād. Bahwa bencana yang menimpa kaum itu mestinya dijadikan iktibar bagi orang-orang yang berpikir. Yaitu ke­tika Allah swt menu­runkan angin panas yang membinasakan mereka sehingga tidak satu pun yang tersisa kecuali kehancuran dan kemusnahan, baik manusia dan hewan maupun bangunan. Tegasnya tidak seorang pun dari mereka yang selamat akibat angin panas dan hembusan api itu, lagi pula tidak satu bangunan pun yang tidak musnah, semuanya menjadi puing-puing dan hancur lebur.

Isi Kandungan Kosakata

1. Biruknihi بِرُكْنِهِ (aż-Żāriyāt/51: 39)

Kata di atas terambil dari kata rakina-yarkanu atau rakana-yarkunu yang berarti sudut atau tepi yang dijadikan sebagai tempat bersandar atau tinggal. Rukun menjadi istilah untuk sisi-sisi yang harus dilengkapi dalam sebuah ibadah. Ibarat sebuah bangunan, rukun adalah tiang penyangga yang dengannya bangunan akan kokoh dan kuat. Tanpa tiang penyangga, maka bangunan tersebut akan roboh atau hancur. Seseorang yang mening-galkan rukun ibadah, maka ibadah tersebut akan hancur atau batal. Untuk itu, lafal ini juga diartikan dengan kekuatan yang menjadikannya sebagai tempat bersandar.

Pada ayat ini Allah menjelaskan tentang kisah Musa dengan Fira‘un. Nabi Musa diutus oleh Allah untuk mengajak Fira‘un menyembah Allah swt dengan berbagai mukjizat yang nyata yang diberikan Allah, Musa menun-jukkan bahwa dia memang benar-benar utusan Allah yang Mahaperkasa. Akan tetapi, Fira‘un menolak ajakan tersebut dengan alasan bahwa ia telah memiliki kekuatan (rukn) yang tidak ada tandingannya. Kekuatan disini diartikan dengan kekayaan harta yang berlimpah ruah, kekuasaan yang sangat kuat, pengetahuan yang luas dan kepemilikan bala tentara yang setiap saat patuh dan tunduk padanya. Atas dasar inilah kemudian Fira‘un menolak dengan angkuh ajakan Musa bahkan ia mengaku sebagai tuhan yang mahatinggi. Karena kesombongannya, Allah membinasakan Fira‘un dengan menenggelamkan beserta pengikutnya ke lautan.

2. Al-‘Aqīm اَلْعَقِيْمُ (aż-Żāriyāt/51: 41)

Al-‘Aqīm adalah isim fā‘il dari kata ‘aqama yang berarti suatu keadaan yang tidak bisa menerima aṡar atau tidak berpengaruh. Żā ‘uqām artinya penyakit yang tidak bisa menerima kesembuhan. Al-‘Aqīm juga diartikan sebutan untuk wanita yang sel telurnya tidak bisa menerima pembuahan sperma laki-laki atau dalam istilah lain disebut dengan mandul. Rīḥun ‘aqīm adalah angin yang tidak bisa menerbangkan awan atau menggerakkan pohon.

Dalam konteks ayat ini, rīḥun-‘aqīm adalah angin yang tidak bisa membawa kebaikan. Kalimat ini merupakan penjelasan dari Allah tentang azab yang ditimpakan kepada kaum Nabi Hud yaitu kaum ‘Ād. Atas pembangkangan dan kedurhakaan kaum ‘Ād, maka Allah swt mengirimkan angin hitam yang mandul yaitu angin yang tidak mengandung kebaikan bahkan membinasakan mereka. Angin yang pada awalnya berfungsi memberikan kesejukan dan kedamaian bagi yang merasakan hembusannya. Tetapi kemudian Allah mengubahnya dengan menimpakan angin yang sangat dingin menyengat menusuk tulang atau angin yang sangat panas menggerahkan dan membakar kulit. Angin tersebut menghancurkan seluruhnya dan tidak membiarkan sesuatu pun yang dilandanya hidup. Ayat ini mengindikasikan bahwa angin berada dalam perintah dan kendali Allah. Pengendalian-Nya ini dapat berupa sistem yang telah ditetapkan-Nya dalam penciptaan dan penghembusan angin yang membawa manfaat bagi makhluk-Nya, tetapi Dia juga dapat mengendalikan angin tersebut menjadi membinasakan dan menghancurkan sesuatu yang dilandanya.

3. Ar-Ramīm الرَّمِيْمُ (aż-Żāriyāt/51/51 : 42)

Kata ar-ramīm merupakan bentukan dari kata ramma yang berarti mengembalikan sesuatu yang telah hancur, ar-rammaḥ lebih dikhususkan pada tulang belulang yang telah hancur luluh (Yāsīn/36: 78). Ar-rummah dinisbahkan pada tali yang terburai, dan kata ar-ramm digunakan pada serbuk kayu. Al-Irmām berarti diam. Taramrama, menggerakkan mulut untuk berbicara tanpa teriakan.

Pada ayat ini Allah menjelaskan tentang kondisi Kaum ‘Ād setelah ditimpa bencana angin yang membinasakan, yaitu bahwa apa yang dilanda oleh angin tersebut termasuk kaum ‘Ād yang durhaka menjadi hancur seperti serbuk atau tulang belulang yang hancur.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto