Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 40 - Surat Aż-Żāriyāt (Yang Menerbangkan)
الذّٰريٰت
Ayat 40 / 60 •  Surat 51 / 114 •  Halaman 522 •  Quarter Hizb 53 •  Juz 27 •  Manzil 7 • Makkiyah

فَاَخَذْنٰهُ وَجُنُوْدَهٗ فَنَبَذْنٰهُمْ فِى الْيَمِّ وَهُوَ مُلِيْمٌۗ

Fa akhażnāhu wa junūdahū fanabażnāhum fil-yammi wa huwa mulīm(un).

Maka, Kami menghukumnya beserta bala tentaranya, lalu Kami menenggelamkan mereka ke dalam laut dalam keadaan melakukan perbuatan yang tercela.

Makna Surat Az-Zariyat Ayat 40
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Akibat keangkuhan dan penolakan Fir’aun terhadap dakwah Nabi Musa, maka Kami siksa dia beserta bala tentaranya dengan berbagai musibah yang mengerikan, lalu Kami lemparkan mereka ke dalam laut bagai barang yang tidak berguna. Kami menenggelamkannya hingga mati dalam keadaan tercela.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Ayat ini menerangkan bahwa Allah swt sangat murka kepada Fir‘aun dan bala tentaranya. Mereka semua dilemparkan dan dibenamkan ke dalam laut dengan mendapat cercaan karena kekufuran dan kedurhakaan mereka.

Hal yang demikian itu sebagai tanda besarnya kekuasaan Allah untuk merendahkan orang-orang yang ingkar dan sebagai tanda bahwa mereka menerima akibat yang buruk. Juga sebagai balasan atas kesombongan dan keingkaran mereka terhadap perintah pencipta.

Isi Kandungan Kosakata

1. Biruknihi بِرُكْنِهِ (aż-Żāriyāt/51: 39)

Kata di atas terambil dari kata rakina-yarkanu atau rakana-yarkunu yang berarti sudut atau tepi yang dijadikan sebagai tempat bersandar atau tinggal. Rukun menjadi istilah untuk sisi-sisi yang harus dilengkapi dalam sebuah ibadah. Ibarat sebuah bangunan, rukun adalah tiang penyangga yang dengannya bangunan akan kokoh dan kuat. Tanpa tiang penyangga, maka bangunan tersebut akan roboh atau hancur. Seseorang yang mening-galkan rukun ibadah, maka ibadah tersebut akan hancur atau batal. Untuk itu, lafal ini juga diartikan dengan kekuatan yang menjadikannya sebagai tempat bersandar.

Pada ayat ini Allah menjelaskan tentang kisah Musa dengan Fira‘un. Nabi Musa diutus oleh Allah untuk mengajak Fira‘un menyembah Allah swt dengan berbagai mukjizat yang nyata yang diberikan Allah, Musa menun-jukkan bahwa dia memang benar-benar utusan Allah yang Mahaperkasa. Akan tetapi, Fira‘un menolak ajakan tersebut dengan alasan bahwa ia telah memiliki kekuatan (rukn) yang tidak ada tandingannya. Kekuatan disini diartikan dengan kekayaan harta yang berlimpah ruah, kekuasaan yang sangat kuat, pengetahuan yang luas dan kepemilikan bala tentara yang setiap saat patuh dan tunduk padanya. Atas dasar inilah kemudian Fira‘un menolak dengan angkuh ajakan Musa bahkan ia mengaku sebagai tuhan yang mahatinggi. Karena kesombongannya, Allah membinasakan Fira‘un dengan menenggelamkan beserta pengikutnya ke lautan.

2. Al-‘Aqīm اَلْعَقِيْمُ (aż-Żāriyāt/51: 41)

Al-‘Aqīm adalah isim fā‘il dari kata ‘aqama yang berarti suatu keadaan yang tidak bisa menerima aṡar atau tidak berpengaruh. Żā ‘uqām artinya penyakit yang tidak bisa menerima kesembuhan. Al-‘Aqīm juga diartikan sebutan untuk wanita yang sel telurnya tidak bisa menerima pembuahan sperma laki-laki atau dalam istilah lain disebut dengan mandul. Rīḥun ‘aqīm adalah angin yang tidak bisa menerbangkan awan atau menggerakkan pohon.

Dalam konteks ayat ini, rīḥun-‘aqīm adalah angin yang tidak bisa membawa kebaikan. Kalimat ini merupakan penjelasan dari Allah tentang azab yang ditimpakan kepada kaum Nabi Hud yaitu kaum ‘Ād. Atas pembangkangan dan kedurhakaan kaum ‘Ād, maka Allah swt mengirimkan angin hitam yang mandul yaitu angin yang tidak mengandung kebaikan bahkan membinasakan mereka. Angin yang pada awalnya berfungsi memberikan kesejukan dan kedamaian bagi yang merasakan hembusannya. Tetapi kemudian Allah mengubahnya dengan menimpakan angin yang sangat dingin menyengat menusuk tulang atau angin yang sangat panas menggerahkan dan membakar kulit. Angin tersebut menghancurkan seluruhnya dan tidak membiarkan sesuatu pun yang dilandanya hidup. Ayat ini mengindikasikan bahwa angin berada dalam perintah dan kendali Allah. Pengendalian-Nya ini dapat berupa sistem yang telah ditetapkan-Nya dalam penciptaan dan penghembusan angin yang membawa manfaat bagi makhluk-Nya, tetapi Dia juga dapat mengendalikan angin tersebut menjadi membinasakan dan menghancurkan sesuatu yang dilandanya.

3. Ar-Ramīm الرَّمِيْمُ (aż-Żāriyāt/51/51 : 42)

Kata ar-ramīm merupakan bentukan dari kata ramma yang berarti mengembalikan sesuatu yang telah hancur, ar-rammaḥ lebih dikhususkan pada tulang belulang yang telah hancur luluh (Yāsīn/36: 78). Ar-rummah dinisbahkan pada tali yang terburai, dan kata ar-ramm digunakan pada serbuk kayu. Al-Irmām berarti diam. Taramrama, menggerakkan mulut untuk berbicara tanpa teriakan.

Pada ayat ini Allah menjelaskan tentang kondisi Kaum ‘Ād setelah ditimpa bencana angin yang membinasakan, yaitu bahwa apa yang dilanda oleh angin tersebut termasuk kaum ‘Ād yang durhaka menjadi hancur seperti serbuk atau tulang belulang yang hancur.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto