اِذْ دَخَلُوْا عَلَيْهِ فَقَالُوْا سَلٰمًا ۗقَالَ سَلٰمٌۚ قَوْمٌ مُّنْكَرُوْنَ
Iż dakhalū ‘alaihi fa qālū salāmā(n), qāla salām(un), qaumum munkarūn(a).
(Cerita itu bermula) ketika mereka masuk (bertamu) kepadanya, lalu mengucapkan, “Salam.” Ibrahim menjawab, “Salam.” (Mereka) adalah orang-orang yang belum dikenal.
Sesudah mengemukakan pertanyaan tersebut Allah mengawali kisah ini dengan firman-Nya: Ingatlah, wahai Nabi Muhammad, ketika mereka, yaitu para malaikat itu masuk ke tempatnya, yaitu ke rumah Nabi Ibrahim lalu mengucapkan, “Salaman”, yang maksudnya untuk menyatakan bahwa mereka datang dengan membawa kedamaian dan bukan untuk mengganggu ketenangannya. Ibrahim segera menjawab, “Salamun”, yang merupakan doa agar kedamaian dan keselamatan selalu tercurah kepada semuanya. Saat menyambut tamunya, Nabi Ibrahim berkata dalam hatinya bahwa mereka itu adalah orang-orang yang belum dikenalnya.
Ayat ini mengungkapkan bahwa ketika tamu para malaikat itu masuk ke tempat Nabi Ibrahim lalu menyampaikan ucapan salām dan Nabi Ibrahim menjawab dengan salām pula, beliau memperlihatkan sikap bertanya karena belum mengenal mereka. Tamu terhormat itu baru pertama kali masuk ke rumah Nabi Ibrahim. Oleh karena itu, beliau memperlihatkan sikap ingin mengenal dahulu. Tetapi beliau tidak menunggu kesempatan untuk berkenalan itu, bahkan secara diam-diam masuk ke dapur untuk menyiapkan hidangan.
1. Ḍaifi Ibrāhīm ضَيْفِ إِبْرَاهِيْمَ (aż-Żāriyāt/51: 24)
Kata ḍaifi adalah kata jadian (maṣdar), jamaknya adalah aḍyāf, ḍuyūf, ḍīfan. Kata ini pada mulanya berarti condong atau cenderung kepada sesuatu. Ungkapan ḍāfat asy-syamsu lil-gurūb berarti matahari itu condong ke barat untuk terbenam. Tamu dikatakan ḍaif karena mampir (condong) ke tempat orang yang dikunjunginya. Dalam terminologi ilmu gramatika bahasa Arab (naḥw) ada ungkapan iḍafah seperti ungkapan ‘Abdullāh yang terdiri dari dua kata yaitu ‘Abd dan Allāh. Kemudian yang pertama (‘abd) di-iḍafah-kan kepada yang kedua (Allāh). Iḍāfah di sini berarti kalimat pertama digabungkan (dicondongkan) ke kalimat kedua menjadi satu ungkapan. Yang dimaksud dengan “Ḍaif Ibrāhīm” pada ayat ini adalah para malaikat yang akan memberitahukan kepada Nabi Ibrahim bahwa Nabi Ibrahim akan dikaruniai seorang anak dan memberitahukan bahwa kaumnya Nabi Lut akan dihancurkan.
2. Faṣakkat wajhahā فَصَكَّتْ وَجْهَهَا (aż-Żāriyāt/51: 29)
Kata ṣakkat pada mulanya berarti benturan dua benda secara keras. Kata ṣakkal-bāb artinya dia menutup pintu dengan keras. Ungkapan iṣṭakkatir-rukbatu artinya kedua lututnya berbenturan. Pada ayat ini kata ṣakkat wajhaha artinya istri Nabi Ibrahim (Sarah) memukul (menempeleng) wajahnya atau mengumpulkan jari-jarinya dan memukulkannya di dahinya sebagaimana adat kebiasaan perempuan jika tidak mempercayai sesuatu atau merasa keheranan.











































