وَاِنَّهُمْ لَيَصُدُّوْنَهُمْ عَنِ السَّبِيْلِ وَيَحْسَبُوْنَ اَنَّهُمْ مُّهْتَدُوْنَ
Wa innahum layaṣuddūnahum ‘anis-sabīli wa yaḥsabūna annahum muhtadūn(a).
Sesungguhnya mereka (setan-setan itu) benar-benar menghalangi mereka (manusia) dari jalan (yang benar), sedangkan mereka (manusia yang sesat itu) mengira bahwa mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.
Dan sesungguhnya mereka, yakni setan-setan yang menjadi temannya itu benar-benar menghalang-halangi mereka dari jalan yang benar sehingga mereka tidak mampu melakukan kebaikan, sedang mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk dari apa yang ditunjukkan setan itu.
Dalam ayat ini diterangkan konsekuensi menjadikan setan sebagai teman, yaitu bahwa setan itu akan selalu berupaya menghalangi mereka untuk menemukan jalan yang benar, yaitu mengimani ajaran-ajaran Allah yang terdapat di dalam Al-Qur’an. Mereka akhirnya memang tidak menemukan jalan yang benar itu, tetapi merasa bahwa jalan sesat yang mereka tempuh adalah benar, dan kebenaran ayat-ayat Al-Qur’an yang disampaikan kepada mereka adalah salah. Begitulah hebatnya kekuasaan setan atas diri orang itu.
Nuqayyiḍ نُقَيِّضْ (az-Zukhruf/43: 36)
Kata nuqayyiḍ adalah fi‘il muḍāri‘ dari qayyaḍa-yuqayyiḍu-taqyī ḍan. Bentuk mujarrad (tanpa tambahan tasydīd)-nya adalah qāḍa-yaqīḍu-qaiḍan. Kata qaiḍ berarti mengganti sesuatu dengan sesuatu yang lain. Kalimat qāyaḍahu fulān berarti fulan mengambil barang dagangannya, lalu menggantinya dengan barang dagangan yang lain. Dari sini diambil kalimat qayyaḍa Allāhu fulānan li fulānin yang berarti Allah mendatangkan si A kepada si B dan menyerahkannya kepadanya. Dan yang dimaksud dengan kata nuqayyiḍ dalam ayat ini adalah Kami mengadakan berbagai jalan bagi setan untuk mencelakakannya tanpa disadarinya, dan Kami menjadikan hal itu sebagai balasan atas perbuatannya.












































