Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 40 - Surat Az-Zukhruf (Perhiasan dari Emas)
الزّخرف
Ayat 40 / 89 •  Surat 43 / 114 •  Halaman 492 •  Quarter Hizb 50 •  Juz 25 •  Manzil 6 • Makkiyah

اَفَاَنْتَ تُسْمِعُ الصُّمَّ اَوْ تَهْدِى الْعُمْيَ وَمَنْ كَانَ فِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ

Afa anta tusmi‘uṣ-ṣumma au tahdil-‘umya wa man kāna fī ḍalālim mubīn(in).

Maka, apakah engkau (Nabi Muhammad) dapat menjadikan orang-orang yang tuli bisa mendengar (kebenaran) atau (dapatkah) engkau memberi petunjuk kepada orang-orang yang buta (hatinya) dan kepada orang yang tetap dalam kesesatan yang nyata?

Makna Surat Az-Zukhruf Ayat 40
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Maka apakah engkau, wahai Nabi Muhammad, dapat menjadikan orang yang tuli, yaitu yang enggan mendengar ajakan kepada kebaikan, bisa mendengar ajakan itu, atau dapatkah engkau memberi petunjuk kepada orang yang buta hatinya untuk berpikir dan memahami petunjuk yang disampaikan kepada mereka dan kepada orang yang tetap dalam kesesatan yang nyata?

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Pada ayat ini Allah bertanya kepada Nabi Muhammad saw yang selalu ingin agar orang-orang kafir itu beriman, apakah ia mampu membuat orang yang tuli mendengar ajakan untuk beriman dan berbuat baik, dan apakah ia mampu membuka hati orang yang telah tertutup mata hatinya. Tentu saja Nabi saw. tidak akan mampu, karena yang mampu melakukannya hanyalah Allah, sedangkan Allah tidak akan mengembalikan mereka yang sesat itu bila mereka sendiri tidak bersedia kembali kepada jalan yang benar.

Pertanyaan Allah swt kepada Nabi Muhammad saw itu bukanlah untuk maksud bertanya, tetapi justru untuk menegaskan bahwa telinga dan mata batin mereka sebenarnya sudah tuli dan buta, karena itu kebenaran apa pun yang disampaikan kepada mereka tidak akan mereka terima. Oleh karena itu tugas beliau sebagai seorang rasul hanya menyampaikan. Dalam menyampaikan firman-firman Allah kepada kaum kafir Mekah itu, Nabi saw telah melaksanakannya dengan segenap tenaga dan upaya, namun sebagian mereka menentangnya. Nabi saw dan umatnya diboikot, bahkan diancam akan dibunuh. Untuk menyelamatkan diri Nabi saw memerintahkan pengikut-pengikutnya untuk berhijrah, pertama ke Abessinia, dan kedua ke Medinah. Penentangan dan ancaman itu kadang-kadang membuat hati Nabi saw. kecewa dan hampir-hampir putus asa. Namun dengan turunnya ayat-ayat seperti ayat ini, hati beliau terhibur kembali. Beliau sadar bahwa ia tidak bersalah, tetapi merekalah yang tertutup hatinya. Yang mampu membukanya hanyalah Allah, karena itu beliau tidak lagi berputus asa, tetapi terus berdakwah, dengan harapan pada suatu saat Allah akan menurunkan hidayah-Nya kepada mereka.

Di dalam ayat lain Allah berfirman mengenai pemberian hidayah yang merupakan wewenang Allah itu:

لَيْسَ عَلَيْكَ هُدٰىهُمْ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ يَهْدِيْ مَنْ يَّشَاۤءُ

Bukanlah kewajibanmu (Muhammad) menjadikan mereka mendapat petunjuk, tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. (al-Baqarah/2: 272)

Isi Kandungan Kosakata

1. Muntaqimūn مُنْتَقِمُوْنَ (az-Zukhruf/43: 41)

Kata muntaqimūn adalah jama‘ mużakkar sālim dari kata muntaqim. Ia terbentuk dari kata intaqama-yantaqimu-intiqāma n. Kata dasarnya adalah naqama-yanqimu-naqman/naqmat an. Kata naqman berarti balasan hukuman. Kata naqama juga berarti mengingkari atau memandang salah, sebagaimana dalam firman Allah, “Katakanlah, ‘Hai Ahli kitab, apakah kamu memandang kami salah, hanya lantaran kami beriman kepada Allah, kepada apa yang diturunkan kepada kami dan kepada apa yang diturunkan sebelumnya, sedang kebanyakan di antara kamu benar-benar orang-orang yang fasik?” (al-Mā’idah/5: 59) Kata naqman juga berarti kufur nikmat, sebagaimana yang terdapat dalam hadis tentang zakat:

مَا يَنْقِمُ ابْنُ جَمِيْلٍ إِلاَّ أَنَّهُ كَانَ فَقِيْرًا فَأَغْنَاهُ اللّٰهُ. (رواه البخاري ومسلم)

“Ibnu Jamil tidak ingkar nikmat (enggan zakat) kecuali karena dahulunya ia fakir lalu Allah memberinya kekayaan.” (Riwayat al-Bukhārī dan Muslim)

Maksudnya, seolah-olah kekayaannya itu mendorongnya untuk kufur nikmat. Kata naqama juga berarti membenci. Dan yang dimaksud dengan kata muntaqimūn di sini adalah menyiksa orang-orang kafir itu di akhirat.

2. Muqtadirūn مُقْتَدِرُوْنَ (az-Zukhruf/43: 42)

Kata muqtadirūn adalah jama‘ mużakkar sālim dari kata muqtadir, isim fā‘il dari kata iqtadara-yaqtadiru-iqtidāra n. Kata dasarnya adalah qadara- yaqdiru-qudratan/qadaran yang berarti mampu. Kata al-Muqtadir itu sendiri merupakan salah satu dari al-Asmā'ul Ḥusnā. Al-Asmā'ul Ḥusna lain yang memiliki akar yang sama adalah al-Qadīr dan al-Qādir. Nama al-Qādir adalah isim fā‘il dari kata qadara; kata al-Qadīr adalah bentuk mubālagah (hiperbola/melebih-lebihkan) dari kata al-Qādir. Sementara kata al-Muqtadir itu lebih hiperbolik daripada kata al-Qādir. Di dalam Al-Qur’an, kata muqtadir disebut sebanyak empat kali, yaitu pada al-Kahf ayat 45, al-Qamar ayat 42 dan 55, dan pada ayat yang sedang ditafsirkan ini. Dan keseluruhannya menunjuk kepada makna Mahakuasa, salah satu dari al-Asmā'ul-Ḥusna.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto