اَوْ تَقُوْلَ لَوْ اَنَّ اللّٰهَ هَدٰىنِيْ لَكُنْتُ مِنَ الْمُتَّقِيْنَ ۙ
Au taqūla lau annallāha hadānī lakuntu minal-muttaqīn(a).
Atau, supaya (tidak) ada yang berkata, “Seandainya Allah memberi petunjuk kepadaku, tentulah aku termasuk orang-orang yang bertakwa.”
Atau agar jangan ada lagi yang akan berkata dengan penuh penyesalan, “Sekiranya Allah memberi aku petunjuk dan kepadaku dibentangkan jalan yang lurus, tentulah aku termasuk ke dalam kelompok orang-orang yang bertakwa,”
Pada ayat-ayat ini, Allah menerangkan bagaimana penyesalan orang-orang yang tidak mempergunakan peluang emas yang diberikan Allah kepada mereka. Di akhirat nanti, mereka akan berulang-ulang mengucapkan kata-kata penyesalan dengan berbagai macam cara, di antaranya:
1. Sesungguhnya aku sangat menyesal atas kelalaian dan kealpaanku semasa hidup sehingga aku tidak mengindahkan ajaran-ajaran Allah, selalu durhaka terhadap-Nya, meninggalkan kewajiban-kewajibanku terhadap-Nya sebagai hamba, dan melanggar hukum-hukum yang telah ditetapkan-Nya. Kenapa aku tidak mempergunakan kesempatan yang diberikan Allah kepadaku untuk bertobat dan kembali ke jalan yang lurus. Kenapa aku selalu memperolok-olokkan orang-orang yang telah taat dan patuh menjalankan petunjuk dan ajaran-Nya bahkan termasuk orang-orang yang menghina dan menganggap enteng agama-Nya.
2. Kenapa aku tidak menerima dengan baik petunjuk yang diberikan-Nya dengan perantaraan rasul-Nya, dan tidak mengamalkan petunjuk ajaran-Nya. Kalau sekiranya aku menerima dan mengamalkan petunjuk dan ajaran itu, tentu aku termasuk dalam golongan orang-orang yang bertakwa yang disediakan bagi mereka surga Jannatun Na‘īm yang penuh dengan nikmat dan kesenangan serta penuh dengan kebahagiaan dan keridaan Allah.
3. Ketika dia melihat api neraka dan berbagai macam siksaan yang ditimpakan kepada penghuninya, dan dia merasa pasti akan dilemparkan ke dalamnya, dia berangan-angan dan mengharapkan kalau dapat kembali ke dunia agar dia dapat berbuat amal saleh sebanyak-banyaknya untuk bekal di akhirat sehingga terbebas dari siksaan neraka dan dimasukkan ke dalam golongan orang-orang yang berbuat baik.
1. Lā Taqnaṭū لَا تَقْنَطُوْا (az-Zumar/39: 53)
Kata lā taqnaṭū terdiri dari lā nāhiyah (menunjukkan larangan) dan taqnaṭū adalah fi‘il muḍāri‘ ḍamīr jama‘ (kata kerja sekarang untuk banyak) yang berarti janganlah kamu berputus asa, dari fi‘il (kata kerja) qanaṭa-yaqnuṭu-qunūṭa n, atau qaniṭa-yaqnaṭu-qanaṭan , yang berarti putus asa, putus harapan. Kata yang serumpun atau seasal dengan taqnaṭu disebutkan 5 (lima) kali dalam Al-Qur’an.
Kata qanaṭ dari lā taqnaṭū dalam Surah az-Zumar ayat 53 ini berarti keputusasaan dan penyesalan.
2. Yā ḥasratā يَاحَسْرَتَى (az-Zumar/39: 56)
Kata yā ḥasratā terdiri dari huruf yā ( يا ) yang digunakan untuk menyeru sambil menampakkan penyesalan, dan kata ḥasrah yang terambil dari kata ḥasira-yaḥsaru-ḥasrata n berarti mengeluh, payah, atau letih. Kata ḥasrah digunakan dalam arti keresahan dan penyesalan atas sesuatu yang telah lewat. Huruf “alif” pada akhir kata (ياحسرتا) berfungsi menunjuk diri pembicara.
Kata yā ḥasratā dalam Surah az-Zumar ayat 56 ini berarti bahwa manusia menyesal di hari kemudian atas kelalaiannya di dunia, misalnya ketika dia melihat hartanya yang ditinggalkan telah diwarisi oleh orang lain, sedangkan dia ketika hidupnya sangat kikir dan enggan mengeluarkan zakat. Kemudian di akhirat dia melihat orang yang mewarisi hartanya itu menggunakannya sesuai dengan ajaran agama, sehingga dia memperoleh ganjaran melalui harta yang diwarisinya itu, sedang dia sebagai pemilik asal harta disiksa akibat kedurhakaannya.

















































