قَدْ قَالَهَا الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَمَآ اَغْنٰى عَنْهُمْ مَّا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ
Qad qālahal-lażīna min qablihim famā agnā ‘anhum mā kānū yaksibūn(a).
Sungguh, orang-orang yang sebelum mereka pun telah mengatakan hal itu. Maka, tidak berguna lagi bagi mereka apa yang selalu mereka usahakan.
Sikap yang tergambar di atas bukan hanya dimiliki oleh orang-orang musyrik Mekah, tetapi juga oleh orang-orang yang jauh sebelum mereka. Sungguh, orang-orang yang sebelum mereka, yaitu Qarun pada masa Nabi Musa, pun telah mengatakan hal itu juga (Lihat: Surah al-Qasas/28: 78), maka oleh sebab itu, tidak berguna lagi bagi mereka sedikit pun apa yang dahulu mereka kerjakan di kehidupan dunia.
Pada ayat ini, Allah menerangkan bahwa ucapan seperti itu pernah didengar pula dari umat-umat sebelum mereka, sehingga anggapan seperti itu bukanlah anggapan yang baru. Apa-apa yang mereka usahakan dahulu itu tidak berguna untuk menolak datangnya azab dari Allah karena mereka selalu bersikap mendustakan dan mencemooh kedatangan utusan Allah.
Khawwalnāhu خَوَّلْنَاهُ (az-Zumar/39: 49)
Kata khawwalnāhu berarti Kami (Allah) memberikan kepadanya, berasal dari fi‘il khawwala-yukhawwilu-takhwīl an yang berarti memberikan. Kata khawwala dan serumpun dengannya disebutkan 3 (tiga) kali dalam Al-Qur’an dan semuanya berarti memberikan.
Ayat 49 Surah az-Zumar tersebut berbicara tentang perangai manusia yang cenderung mengikuti hawa nafsu dan teperdaya oleh kenikmatan duniawi dan faktor lahiriah. Jika ditimpa musibah, dia datang menghadap Tuhannya, dan jika dianugerahi nikmat, dia melupakannya dan menyatakan bahwa nikmat itu berkat kepandaian dan pengalamannya.














































