اَفَمَنْ حَقَّ عَلَيْهِ كَلِمَةُ الْعَذَابِۗ اَفَاَنْتَ تُنْقِذُ مَنْ فِى النَّارِ ۚ
Afaman ḥaqqa ‘alaihi kalimatul-‘ażāb(i), afa'anta tunqiżu man fin-nār(i).
Maka, apakah (engkau, Nabi Muhammad, hendak mengubah nasib) orang-orang yang telah dipastikan mendapat azab? Apakah engkau akan menyelamatkan orang yang berada di dalam neraka?
Tugas rasul tidak lebih dari sekadar menyampaikan dakwah kepada umatnya. Hanya Allahlah yang memberi hidayah kepada yang Dia kehendaki. Maka apakah orang-orang yang telah dipastikan mendapat azab karena kekafiran mereka; apakah engkau akan mampu menyelamatkan orang yang dipastikan berada dalam api neraka? Tentu tidak mampu.
Pada ayat ini diterangkan kebalikan dari sifat-sifat orang yang disebutkan pada ayat sebelum ayat ini, yaitu mereka yang mengatakan sanggup melaksanakan segala sesuatu dan sanggup pula mengatasi segala macam kesulitan. Mereka dicela Allah dengan mengatakan, “Apakah kamu yang mengendalikan segala urusan manusia, mengatur dan mengendalikan keadaan mereka? Apakah kamu dapat mengubah keputusan-Ku dengan membatalkan ketetapan azab yang telah Aku tetapkan terhadap orang-orang yang selalu mengotori jiwanya dengan mengerjakan segala macam perbuatan dosa dan mengerjakan perbuatan-perbuatan yang Aku larang?” Allah menegaskan bahwa mereka sekali-kali tidak dapat menghapus dan mengubah segala macam keputusan-Nya sedikit pun, karena ketentuan segala sesuatu berada di tangan-Nya.
Guraf غُرَفٌ (az-Zumar/39: 20)
Kata guraf adalah bentuk jamak dari kata gurfah, yang terbentuk dari kata garafa-yagrifu-gurfatan. Kata gurfah memiliki dua makna, yaitu seciduk sebagaimana yang terdapat dalam ayat, “Kecuali menciduk seciduk tangan..” (al-Baqarah/2: 249). Selebihnya kata gurfah di dalam Al-Qur’an digunakan untuk makna tingkatan yang tinggi di antara tingkatan-tingkatan surga, atau tempat yang tinggi di dalam surga. Ia disebut dengan bentuk tunggal, yaitu gurfah sebanyak satu kali dalam Surah al-Furqān ayat 75; dengan bentuk jamak guraf sebanyak 3 kali, yaitu pada Surah al-‘Ankabūt ayat 58 dan pada Surah az-Zumar ayat 20 ini; dan dengan bentuk jamak ta'nīṡ sekali dalam Surah Saba’ ayat 27.





































