بَلٰى قَدْ جَاۤءَتْكَ اٰيٰتِيْ فَكَذَّبْتَ بِهَا وَاسْتَكْبَرْتَ وَكُنْتَ مِنَ الْكٰفِرِيْنَ
Balā qad jā'atka āyātī fa każżabta bihā wastakbarta wa kunta minal-kāfirīn(a).
Tidak begitu! Sebenarnya ayat-ayat-Ku telah datang kepadamu, tetapi kamu mendustakannya, menyombongkan diri, dan termasuk orang-orang kafir.
Untuk menghindari penyesalan itulah, Allah memberi peringatan kepada manusia. Sungguh, sebenarnya kalau kalian mau mendengarkan keterangan-keterangan-Ku yang telah datang kepadamu yang dibawa oleh para nabi dan rasul, kalian tidak akan menyesal di hari kemudian. Akan tetapi, kamu mendustakannya, malah kamu menyombongkan diri dan termasuk orang kafir dan durhaka.
Pada ayat ini, Allah menyatakan kepada orang yang telah sesat dan tidak mau mempergunakan kesempatan untuk bertobat itu bahwa nasib yang menimpa mereka tak dapat dihindarkan lagi karena Allah telah cukup memberi pelajaran dan peringatan. Allah juga telah memberikan kesempatan untuk bertobat dan berbuat baik, tetapi semua itu tidak diindahkan dan tidak dipedulikan.
Mereka hanya mengikuti hawa nafsu dan keinginan belaka sehingga menjadi orang yang durhaka, sombong, dan takabur. Mereka juga termasuk ke dalam golongan orang-orang kafir. Semua angan-angan dan permohonan mereka ditolak semuanya dan berlakulah terhadap dirinya keadilan Allah, yang berbuat baik dan bertakwa dimasukkan ke dalam surga dan yang berbuat jahat dan durhaka dimasukkan ke dalam neraka.
1. Lā Taqnaṭū لَا تَقْنَطُوْا (az-Zumar/39: 53)
Kata lā taqnaṭū terdiri dari lā nāhiyah (menunjukkan larangan) dan taqnaṭū adalah fi‘il muḍāri‘ ḍamīr jama‘ (kata kerja sekarang untuk banyak) yang berarti janganlah kamu berputus asa, dari fi‘il (kata kerja) qanaṭa-yaqnuṭu-qunūṭa n, atau qaniṭa-yaqnaṭu-qanaṭan , yang berarti putus asa, putus harapan. Kata yang serumpun atau seasal dengan taqnaṭu disebutkan 5 (lima) kali dalam Al-Qur’an.
Kata qanaṭ dari lā taqnaṭū dalam Surah az-Zumar ayat 53 ini berarti keputusasaan dan penyesalan.
2. Yā ḥasratā يَاحَسْرَتَى (az-Zumar/39: 56)
Kata yā ḥasratā terdiri dari huruf yā ( يا ) yang digunakan untuk menyeru sambil menampakkan penyesalan, dan kata ḥasrah yang terambil dari kata ḥasira-yaḥsaru-ḥasrata n berarti mengeluh, payah, atau letih. Kata ḥasrah digunakan dalam arti keresahan dan penyesalan atas sesuatu yang telah lewat. Huruf “alif” pada akhir kata (ياحسرتا) berfungsi menunjuk diri pembicara.
Kata yā ḥasratā dalam Surah az-Zumar ayat 56 ini berarti bahwa manusia menyesal di hari kemudian atas kelalaiannya di dunia, misalnya ketika dia melihat hartanya yang ditinggalkan telah diwarisi oleh orang lain, sedangkan dia ketika hidupnya sangat kikir dan enggan mengeluarkan zakat. Kemudian di akhirat dia melihat orang yang mewarisi hartanya itu menggunakannya sesuai dengan ajaran agama, sehingga dia memperoleh ganjaran melalui harta yang diwarisinya itu, sedang dia sebagai pemilik asal harta disiksa akibat kedurhakaannya.















































