ۨالَّذِيْٓ اَحَلَّنَا دَارَ الْمُقَامَةِ مِنْ فَضْلِهٖۚ لَا يَمَسُّنَا فِيْهَا نَصَبٌ وَّلَا يَمَسُّنَا فِيْهَا لُغُوْبٌ
Allażī aḥallanā dāral-muqāmati min faḍlih(ī), lā yamassunā fīhā naṣabuw wa lā yamassunā fīhā lugūb(un).
(Dia) yang menempatkan kami di tempat yang kekal (surga) dengan karunia-Nya. Di dalamnya kami tidak lelah dan lesu.”
Dialah Allah yang dengan karunia-Nya menempatkan kami dalam tempat yang kekal di surga; di dalamnya kami tidak merasa lelah dan tidak pula merasa lesu.” Keadaan ini sangat berbeda dengan kondisi mereka saat di dunia.
Orang yang telah memperoleh nikmat dari Allah itu menyadari bahwa semua pemberian tersebut adalah semata-mata karena kasih sayang-Nya. Tidaklah seimbang besarnya pemberian Allah itu dengan perbuatan baik yang mereka kerjakan. Oleh karena itu, masuknya orang-orang mukmin ke dalam surga sama sekali bukanlah karena kebaikan yang mereka kerjakan, tetapi karena rahmat dan karunia Allah bagi orang yang mematuhi perintah-Nya.
Rasulullah saw bersabda:
لَنْ يُدْخِلَ اَحَدًا مِنْكُمْ عَمَلُهُ الْجَنَّةَ. قَالُوْا: وَلَا اَنْتَ يَا رَسُوْلَ اللّٰهِ؟ قَالَ: وَلَا اَنَا اِلَّا اَنْ يَتَغَمَّدَنِي اللّٰهُ تَعَالَى بِرَحْمَةٍ مِنْهُ وَفَضْلٍ. (رواه مسلم عن جابر بن عبد الله)
Tiada masuk surga seorang di antara kamu karena perbuatannya. Mereka (para sahabat) bertanya, “Apakah engkau juga tidak begitu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Aku juga tidak, melainkan karena Allah memberi rahmat dan karunia kepadaku.” (Riwayat Muslim dari Jābir bin ‘Abdullāh)
Di surga itu mereka tidak menemui kesulitan atau rintangan lagi sebagaimana yang mereka rasakan dalam kehidupan di dunia ini. Mereka juga tidak merasa lelah dan letih. Semuanya terasa nikmat dan menggembirakan.
Ringkasnya surga itulah tempat nikmat yang kekal dan abadi, di mana penghuninya dapat menikmati kesenangan itu sebagai ganjaran kepatuhan dan ketaatan mereka di dunia ini. Allah berfirman:
كُلُوْا وَاشْرَبُوْا هَنِيْۤـًٔا ۢبِمَآ اَسْلَفْتُمْ فِى الْاَيَّامِ الْخَالِيَةِ ٢٤ (الحاۤقّة)
(Kepada mereka dikatakan), “Makan dan minumlah dengan nikmat karena amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu.” (al-Ḥāqqah/69: 24)
1. Sābiqun bil-Khairāt سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ (Fāṭir/35: 32)
Kata sābiq adalah isim fa‘il terambil dari kata al-sabq yakni berlomba/ perlombaan. Makna sābiq adalah seorang yang mencapai batas yang dituju mendahului yang lainnya. Kata sābiq dan turunannya dalam Al-Qur’an disebut 37 kali tersebar dalam 26 surah. Kata al-khairāt adalah bentuk jamak dari kata khair yakni kebajikan. Kata al-khairāt disebut 10 kali dalam Al-Qur’an tersebar dalam 8 surah. Dengan demikian, makna sābiq bi al-khairāt dalam Surah Fāṭir ayat 32 adalah orang yang mendahului dalam kebajikan.
2. Dārul-Muqāmah دَارُ الْمُقَامَةِ (Fāṭir/35 :35)
Kata dār dalam Al-Qur’an disebut 56 kali dalam berbagai bentuk, tersebar dalam 27 surah. Kata dār berasal dari dawara yang secara terminologi bermakna bergerak dan kembali pada tempat semula, istirahat setelah ia bergerak dan melakukan aktivitasnya. Pengertian kata ini kemudian meluas pada pengertian lain, yakni tempat tinggal atau rumah, karena rumah berfungsi sebagai tempat kembali manusia setelah melakukan berbagai aktivitas sehari-hari. Di samping pengertian tersebut di atas, dār bisa bermakna perkampungan karena setelah seseorang melakukan berbagai perjalanan, dia akan kembali ke kampungnya. Kemudian kata ad-dār berarti dataran rendah yang dikelilingi oleh dataran-dataran tinggi (pegunungan).
Kata dār yang dihubungkan dengan konteks pembicaraan dalam Al-Qur’an secara garis besar dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu yang bersifat keduniaan dan yang bersifat keakhiratan. Dari pembicaraan dalam Al-Qur’an, tergambar bahwa kata dār berarti suatu tempat yang menjadi akhir dari berbagai aktivitas kehidupan manusia, baik menyangkut kehidupan duniawi maupun kehidupan ukhrawi. Namun kebanyakan pembicaraan Al-Qur’an mengenai dār lebih mengarah pada pembalasan kehidupan di akhirat, baik berupa balasan kebaikan dengan surga, maupun balasan kejahatan dengan neraka.
Kata al-muqāmah berarti kekal. Jadi makna dār al-muqāmah dalam Surah Fāṭir ayat 35 adalah tempat kediaman yang kekal di akhirat.














































