Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 3 - Surat Fāṭir (Pencipta)
فاطر
Ayat 3 / 45 •  Surat 35 / 114 •  Halaman 434 •  Quarter Hizb 44.25 •  Juz 22 •  Manzil 5 • Makkiyah

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اذْكُرُوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْۗ هَلْ مِنْ خَالِقٍ غَيْرُ اللّٰهِ يَرْزُقُكُمْ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِۗ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۖ فَاَنّٰى تُؤْفَكُوْنَ

Yā ayyuhan-nāsużkurū ni‘matallāhi ‘alaikum, hal min khāliqin gairullāhi yarzuqukum minas-samā'i wal-arḍ(i), lā ilāha illā huw(a), fa'annā tu'fakūn(a).

Wahai manusia, ingatlah nikmat Allah kepadamu! Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezeki kepadamu dari langit dan bumi? Tidak ada Tuhan selain Dia. Lalu, bagaimana kamu dapat dipalingkan (dari ketauhidan)?

Makna Surat Fatir Ayat 3
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Limpahan rahmat yang demikian besar harus menjadi pendorong bagi manusia untuk bersyukur. Wahai manusia! Ingatlah akan nikmat Allah yang dilimpahkan kepadamu. Bersyukurlah dengan menaati perintah-Nya dan tidak mendurhakai-Nya. Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezeki kepadamu dari langit dan bumi? Tentu tidak ada. Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Dia; maka mengapa kamu bisa berpaling dari tauhid?

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Pada ayat ini, Allah menganjurkan supaya manusia memberikan perhatian secara khusus atas nikmat yang telah diberikan kepadanya dan menjaganya agar tidak lenyap dan menghilang. Untuk kepentingan ini, manusia selalu harus merendahkan diri mengakui bahwa semua nikmat itu dari Allah sebagai anugerah kepadanya, yang wajib disyukuri dengan melakukan ibadah kepada-Nya tidak kepada lain-Nya, taat kepada segala perintah-Nya, dan menjauhi semua larangan-Nya. Satu-satunya cara untuk memelihara dan menjaga kelestarian nikmat yang ada pada seseorang ialah mensyukuri nikmat itu. Dengan demikian, Allah akan selalu menambahnya. Sebaliknya, kalau nikmat itu tidak disyukuri, maka Allah akan menimpakan azab yang keras, sebagaimana firman-Nya:

وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّك ُمْ

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.” (Ibrāhīm/14: 7).

Allah satu-satunya pemberi rezeki yang hakiki, baik yang turun dari langit berupa hujan dan sebagainya, maupun yang tumbuh dari bumi berupa keperluan hidup seperti beras, air, pakaian, dan sebagainya. Tidak ada Tuhan melainkan Dia. Kalau manusia mau mengerti dan menyadari semuanya itu, tentunya dia tidak akan berpaling daripada-Nya, tetapi dia akan tetap mengesakan-Nya, menyembah hanya kepada-Nya, tidak kepada yang lain-Nya.

Isi Kandungan Kosakata

1. Fāṭir فَاطِر (Fāṭir/35: 1)

Kata fāṭir terambil dari kata kerja faṭara-yafṭuru, yang artinya membelah, muncul, memukul, atau memerah. Dengan demikian, fāṭir dapat diartikan sebagai yang membelah, yang muncul, yang memukul, atau yang memerah. Dari arti-arti itu kemudian muncul pula makna lain seperti menciptakan pertama kali. Allah seolah-olah membelah ketiadaan, yang kemudian dari celahnya muncul ciptaan, yang dalam konteks ayat ini adalah langit dan bumi serta semua yang terdapat di antara keduanya. Kata ini dipopulerkan Al-Qur’an, sehingga Ibnu ‘Abbās menyatakan, “Saya tadinya tidak menge-tahui arti kata fāṭir, sampai saya mendengar dua penduduk dari gunung bertengkar di depan sebuah sumur, dan masing-masing mengaku sebagai pemiliknya. Kemudian salah seorang dari keduanya berkata, Anā faṭartuhā’, dan ketika itu saya mengetahui bahwa ungkapan tersebut maknanya adalah saya yang membuat pertama kali/mencipta.”

2. Mumsik مُمْسِكَ )Fāṭir/35: 2)

Kata mumsik merupakan isim fā‘il dari kata kerja amsaka-yumsiku, yang artinya memegang, bergantung dan berpegangan, mengurung, diam, men-cegah, atau menahan. Dengan demikian, mumsik dapat diartikan sebagai yang memegang, yang bergantung dan berpegangan, yang mengurung, yang diam, yang mencegah, yang menahan. Dalam konteks ayat ini, kata tersebut diartikan sebagai menahan. Kata tersebut digunakan untuk menggambarkan betapa kehendak Allah itu pasti akan terlaksana, dan ketika itu tidak ada satu makhluk, betapapun kuatnya dia, yang dapat menahan atau mencegah kehendak Allah tersebut. Sebaliknya, bila Allah berkehendak untuk menahan sesuatu, maka tidak ada pula satu makhlukpun yang dapat melepaskannya.

3. Tu’fakūn تُؤْفَكُوْنَ )Fāṭir/35: 3)

Kata tu’fakūn terambil dari kata kerja afaka-ya’fiku, yang artinya adalah berbohong, membalikkan, memalingkan, atau gersang. Dengan demikian, tu’fakūn yang merupakan kata kerja untuk orang kedua jamak dalam bentuk pasif dapat diartikan sebagai kamu yang dibohongi, kamu yang dibalikkan, kamu yang dipalingkan, atau yang digersangkan. Dalam konteks ayat ini, makna yang tepat dari sekian banyak artinya adalah dipalingkan. Peng-gunaan kata yang berbentuk pasif dalam ayat ini mengisyaratkan adanya banyak pelaku yang memalingkan mereka dari kebenaran. Inti dari para pelaku pemalingan dari kebenaran itu adalah setan dan hawa nafsu mereka sendiri.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto