مَا يَفْتَحِ اللّٰهُ لِلنَّاسِ مِنْ رَّحْمَةٍ فَلَا مُمْسِكَ لَهَا ۚوَمَا يُمْسِكْۙ فَلَا مُرْسِلَ لَهٗ مِنْۢ بَعْدِهٖۗ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Mā yaftaḥillāhu lin-nāsi mir raḥmatin falā mumsika lahā, wa mā yumsik falā mursila lahū mim ba‘dih(ī), wa huwal-‘azīzul-ḥakīm(u).
Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, tidak ada yang dapat menahannya. (Demikian pula) apa saja yang ditahan-Nya, tidak ada yang sanggup untuk melepaskannya. Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Apa saja di antara rahmat Allah, seperti kesehatan, rezeki, ilmu, dan lainnya, yang dianugerahkan kepada manusia, maka tidak ada yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan-Nya maka tidak ada yang sanggup untuk melepaskannya setelah itu. Dan Dialah Yang Mahaperkasa untuk berbuat sesuai kehendak-Nya, Mahabijaksana dalam setiap ketetapan-Nya.
Pada ayat ini, Allah menerangkan bahwa pemberian atau penahanan suatu rahmat termasuk dalam kekuasaan-Nya. Apabila Dia menganugerahkan suatu rahmat kepada manusia, tidak seorang pun dapat menahan dan menghalangi-Nya. Begitu pula sebaliknya, apabila Dia menahan dan menutup sesuatu rahmat dan belum diberikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya, maka tiada seorang pun bisa membuka dan memberikannya, karena semua urusan di tangan-Nya. Dia Maha Perkasa berbuat menurut kehendak dan kebijaksanaan-Nya. Oleh karena itu, kita harus selalu menghadap Allah melalui ibadah untuk mencapai cita-cita kita, dan senantiasa dengan bertawakal kepada-Nya, begitu pula di dalam usaha mencapai tujuan dan maksud yang diridai-Nya. Sejalan dengan ini, Allah berfirman:
وَاِنْ يَّمْسَسْكَ اللّٰهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهٗ ٓاِلَّا هُوَ ۚوَاِنْ يُّرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَاۤدَّ لِفَضْلِهٖۗ
Dan jika Allah menimpakan suatu bencana kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tidak ada yang dapat menolak karunia-Nya. (Yūnus/10: 107).
Dan dalam sebuah hadis disebutkan sebagai berikut:
عَنِ الْمُغِيْرَةِ بْنِ شُعْبَةَ اَنَّهُ قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ كَانَ اِذَا انْصَرَفَ مِنَ الصَّلَاةِ قَالَ لَا اِلَهَ اِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ اَللَّهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَا اَعْطَيْتَ وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ وَلَايَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ (رواه احمد والشيخان).
Dari al-Mugīrah bin Syu‘bah bahwa ia berkata, “Saya mendengar Rasulullah saw apabila selesai salat mengucapkan, ‘Tiada tuhan melainkan Allah. Dia Esa tiada ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya segala puji. Dia kuasa atas segala sesuatu. Ya Allah Tuhanku, tidak ada seorang pencegah pun terhadap sesuatu yang Engkau berikan dan tak ada seorang pemberi terhadap sesuatu yang Engkau cegah, tidak bermanfaat kejayaan seseorang dalam menghadapi siksaan Engkau’.” (Riwayat Aḥmad, al-Bukhārī dan Muslim).
1. Fāṭir فَاطِر (Fāṭir/35: 1)
Kata fāṭir terambil dari kata kerja faṭara-yafṭuru, yang artinya membelah, muncul, memukul, atau memerah. Dengan demikian, fāṭir dapat diartikan sebagai yang membelah, yang muncul, yang memukul, atau yang memerah. Dari arti-arti itu kemudian muncul pula makna lain seperti menciptakan pertama kali. Allah seolah-olah membelah ketiadaan, yang kemudian dari celahnya muncul ciptaan, yang dalam konteks ayat ini adalah langit dan bumi serta semua yang terdapat di antara keduanya. Kata ini dipopulerkan Al-Qur’an, sehingga Ibnu ‘Abbās menyatakan, “Saya tadinya tidak menge-tahui arti kata fāṭir, sampai saya mendengar dua penduduk dari gunung bertengkar di depan sebuah sumur, dan masing-masing mengaku sebagai pemiliknya. Kemudian salah seorang dari keduanya berkata, Anā faṭartuhā’, dan ketika itu saya mengetahui bahwa ungkapan tersebut maknanya adalah saya yang membuat pertama kali/mencipta.”
2. Mumsik مُمْسِكَ )Fāṭir/35: 2)
Kata mumsik merupakan isim fā‘il dari kata kerja amsaka-yumsiku, yang artinya memegang, bergantung dan berpegangan, mengurung, diam, men-cegah, atau menahan. Dengan demikian, mumsik dapat diartikan sebagai yang memegang, yang bergantung dan berpegangan, yang mengurung, yang diam, yang mencegah, yang menahan. Dalam konteks ayat ini, kata tersebut diartikan sebagai menahan. Kata tersebut digunakan untuk menggambarkan betapa kehendak Allah itu pasti akan terlaksana, dan ketika itu tidak ada satu makhluk, betapapun kuatnya dia, yang dapat menahan atau mencegah kehendak Allah tersebut. Sebaliknya, bila Allah berkehendak untuk menahan sesuatu, maka tidak ada pula satu makhlukpun yang dapat melepaskannya.
3. Tu’fakūn تُؤْفَكُوْنَ )Fāṭir/35: 3)
Kata tu’fakūn terambil dari kata kerja afaka-ya’fiku, yang artinya adalah berbohong, membalikkan, memalingkan, atau gersang. Dengan demikian, tu’fakūn yang merupakan kata kerja untuk orang kedua jamak dalam bentuk pasif dapat diartikan sebagai kamu yang dibohongi, kamu yang dibalikkan, kamu yang dipalingkan, atau yang digersangkan. Dalam konteks ayat ini, makna yang tepat dari sekian banyak artinya adalah dipalingkan. Peng-gunaan kata yang berbentuk pasif dalam ayat ini mengisyaratkan adanya banyak pelaku yang memalingkan mereka dari kebenaran. Inti dari para pelaku pemalingan dari kebenaran itu adalah setan dan hawa nafsu mereka sendiri.













































