اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ فَاطِرِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ جَاعِلِ الْمَلٰۤىِٕكَةِ رُسُلًاۙ اُولِيْٓ اَجْنِحَةٍ مَّثْنٰى وَثُلٰثَ وَرُبٰعَۗ يَزِيْدُ فِى الْخَلْقِ مَا يَشَاۤءُۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
Al-ḥamdu lillāhi fāṭiris-samāwāti wal-arḍi jā‘ilil-malāikati rusulā(n), ulī ajniḥatim maṡnā wa ṡulāṡa wa rubā‘(a), yazīdu fil-khalqi mā yasyā'(u), innallāha ‘alā kulli syai'in qadīr(un).
Segala puji bagi Allah, Pencipta langit dan bumi yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap. Masing-masing (ada yang) dua, tiga, dan empat. Dia menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Pada akhir Surah Saba’ Allah menegaskan bahwa orang-orang kafir amat meragukan datangnya hari Kiamat sehingga ketika hari itu datang mereka merasa sangat sengsara. Surah Fatir ini lalu dimulai dengan pujian kepada Allah yang Mahakuasa atas segala sesuatu. Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan untuk mengurus berbagai hal sesuai kehendak-Nya. Di antara bukti kekuasaan-Nya adalah bahwa dia menciptakan malaikat yang mempunyai sayap, masing-masing ada yang dua, tiga, dan empat, bahkan lebih dari itu, sehingga mereka dengan mudah dan cepat berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Hanya Allah yang mengetahui hakikat malaikat dan sayap-sayapnya tersebut. Allah berkuasa menambahkan pada ciptaan-Nya, baik malaikat maupun yang lain, apa yang Dia kehendaki. Sungguh, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu tanpa ada yang mampu menghalangi.
Pada ayat ini, Allah menerangkan bahwa puji dan syukur hanyalah bagi-Nya, yang telah menciptakan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya dengan ciptaan yang amat indah dan ajaib, ciptaan yang belum ada sebelumnya, dan telah diatur-Nya dengan tertib dan lengkap serta sempurna. Dia juga yang telah menugaskan malaikat menyampaikan wahyu kepada para nabi-Nya, untuk menyampaikan berbagai macam urusan. Malaikat itu adalah sejenis makhluk yang mempunyai sayap yang beraneka ragam, ada yang dua, tiga, atau empat bahkan ada yang lebih dari itu. Malaikat bertugas untuk menyampaikan segala perintah dan larangan Allah kepada para nabi-Nya. Allah berkuasa menambah sayap para malaikat lebih banyak lagi menurut kehendak-Nya, sesuai dengan keperluan. Tidak ada kekuatan yang dapat menghalangi-Nya, karena Allah itu Mahakuasa atas segala sesuatu. Di dalam suatu hadis diterangkan bahwa:
اَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى جِبْرِيْلَ لَيْلَةَ اْلاِسْرَاءِ فِى صُوْرَتِهِ لَهُ سِتُّمِائَةِ جَنَاحٍ بَيْنَ كُلِّ جَنَاحَيْنِ كَمَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ. (رواه مسلم عن ابن مسعود)
Sesungguhnya Nabi Muhammad saw melihat Malaikat Jibril pada malam isrā’ dalam bentuk aslinya, dia mempunyai enam ratus sayap, antara dua sayapnya seperti sepanjang mata memandang ke timur dan barat. (Riwayat Muslim dari Ibnu Mas‘ūd).
1. Fāṭir فَاطِر (Fāṭir/35: 1)
Kata fāṭir terambil dari kata kerja faṭara-yafṭuru, yang artinya membelah, muncul, memukul, atau memerah. Dengan demikian, fāṭir dapat diartikan sebagai yang membelah, yang muncul, yang memukul, atau yang memerah. Dari arti-arti itu kemudian muncul pula makna lain seperti menciptakan pertama kali. Allah seolah-olah membelah ketiadaan, yang kemudian dari celahnya muncul ciptaan, yang dalam konteks ayat ini adalah langit dan bumi serta semua yang terdapat di antara keduanya. Kata ini dipopulerkan Al-Qur’an, sehingga Ibnu ‘Abbās menyatakan, “Saya tadinya tidak menge-tahui arti kata fāṭir, sampai saya mendengar dua penduduk dari gunung bertengkar di depan sebuah sumur, dan masing-masing mengaku sebagai pemiliknya. Kemudian salah seorang dari keduanya berkata, Anā faṭartuhā’, dan ketika itu saya mengetahui bahwa ungkapan tersebut maknanya adalah saya yang membuat pertama kali/mencipta.”
2. Mumsik مُمْسِكَ )Fāṭir/35: 2)
Kata mumsik merupakan isim fā‘il dari kata kerja amsaka-yumsiku, yang artinya memegang, bergantung dan berpegangan, mengurung, diam, men-cegah, atau menahan. Dengan demikian, mumsik dapat diartikan sebagai yang memegang, yang bergantung dan berpegangan, yang mengurung, yang diam, yang mencegah, yang menahan. Dalam konteks ayat ini, kata tersebut diartikan sebagai menahan. Kata tersebut digunakan untuk menggambarkan betapa kehendak Allah itu pasti akan terlaksana, dan ketika itu tidak ada satu makhluk, betapapun kuatnya dia, yang dapat menahan atau mencegah kehendak Allah tersebut. Sebaliknya, bila Allah berkehendak untuk menahan sesuatu, maka tidak ada pula satu makhlukpun yang dapat melepaskannya.
3. Tu’fakūn تُؤْفَكُوْنَ )Fāṭir/35: 3)
Kata tu’fakūn terambil dari kata kerja afaka-ya’fiku, yang artinya adalah berbohong, membalikkan, memalingkan, atau gersang. Dengan demikian, tu’fakūn yang merupakan kata kerja untuk orang kedua jamak dalam bentuk pasif dapat diartikan sebagai kamu yang dibohongi, kamu yang dibalikkan, kamu yang dipalingkan, atau yang digersangkan. Dalam konteks ayat ini, makna yang tepat dari sekian banyak artinya adalah dipalingkan. Peng-gunaan kata yang berbentuk pasif dalam ayat ini mengisyaratkan adanya banyak pelaku yang memalingkan mereka dari kebenaran. Inti dari para pelaku pemalingan dari kebenaran itu adalah setan dan hawa nafsu mereka sendiri.












































