اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَهُمْ اَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُوْنٍ ࣖ
Innal-lażīna āmanū wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti lahum ajrun gairu mamnūn(in).
Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka akan mendapat pahala yang tidak ada putus-putusnya.”
Setelah menggambarkan ancaman bagi orang-orang musyrik Mekah, Al-Qur’an mengalihkan perhatian kepada orang-orang beriman. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dengan tulus ikhlas dan yang membuktikan iman mereka dengan mengerjakan kebajikan dan beramal saleh, mereka mendapat anugerah pahala yang sangat besar serta dilimpahi rezeki yang tidak ada putus-putusnya.”
Pada ayat ini diterangkan janji Allah kepada orang-orang yang beriman. Semua orang yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya, mengerjakan perintah-perintah Allah, dan menjauhi larangan-larangan-Nya akan memperoleh balasan yang paling baik dan tidak terputus dari Allah. Itulah pembalasan yang paling baik, yaitu pembalasan yang diberikan kepada orang-orang yang beramal saleh.
Menurut as-Suddī ayat ini diturunkan berhubungan dengan orang sakit yang tidak dapat lagi diharapkan kesembuhannya, orang yang telah sangat tua, sehingga ia tidak dapat lagi beramal seperti ia beramal di waktu masih muda, tetapi mereka masih mempunyai semangat yang tinggi dan ingin beramal seperti yang pernah dilakukannya. Terhadap orang yang seperti itu, Allah memberikan pahala seperti pahala yang diberikan kepada orang yang sanggup mengerjakan amal itu.
Basyar بَشَرٌ (Fuṣṣilat/41: 6)
Basyar artinya manusia karena manusia kulitnya tampak, tidak tertutup seperti binatang yang kulitnya tertutup bulu. Penggunaan kata basyar bagi manusia biasanya mengacu pada kedudukannya sebagai makhluk yang memiliki kesamaan dengan sesamanya, yang membedakan hanyalah pengetahuan dan amal salehnya. Pada ayat ini disebutkan sebagai basyar atau manusia yang memiliki kesamaan dengan manusia lainnya dalam berbagai aspek kemanusiaannya, seperti memiliki pancaindra, merasakan lapar, dahaga, mengantuk, serta memiliki naluri dan kebutuhan. Yang membedakan rasul dengan manusia lainnya adalah kedudukan beliau sebagai nabi dan rasul yang menerima wahyu dan mendapat tugas menyeru manusia untuk menyembah Allah yang Esa. Kata basyar terulang dalam Al-Qur’an sebanyak 36 kali.










































