Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 34 - Surat Fuṣṣilat (Dijelaskan)
فصّلت
Ayat 34 / 54 •  Surat 41 / 114 •  Halaman 480 •  Quarter Hizb 48.75 •  Juz 24 •  Manzil 6 • Makkiyah

وَلَا تَسْتَوِى الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ۗاِدْفَعْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ فَاِذَا الَّذِيْ بَيْنَكَ وَبَيْنَهٗ عَدَاوَةٌ كَاَنَّهٗ وَلِيٌّ حَمِيْمٌ

Wa lā tastawil-ḥasanatu wa las-sayyi'ah(tu), idfa‘ bil-latī hiya aḥsanu fa'iżal-lażī bainaka wa bainahū ‘adāwatun ka'annahū waliyyun ḥamīm(un).

Tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah (kejahatan) dengan perilaku yang lebih baik sehingga orang yang ada permusuhan denganmu serta-merta menjadi seperti teman yang sangat setia.

Makna Surat Fussilat Ayat 34
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Orang seperti itulah orang yang terbaik. Dan dengan demikian tidaklah sama antara kebaikan dan pelaku kebaikan itu dengan kejahatan dan pelaku kejahatan itu. Oleh sebab itu, tolaklah kejahatan itu dengan cara yang lebih baik, dalam arti sebaik-baiknya. Jika itu yang dilakukan sehingga orang yang ada rasa permusuhan antara kamu dan dia akan berubah sikapnya kepadamu menjadi seperti teman yang setia.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Ayat ini menerangkan bahwa kebaikan yang diridai Allah dan diberi pahala itu tidak sama dengan keburukan yang dibenci-Nya dan orang yang melakukannya pasti diazab.

Ayat ini dapat ditafsirkan dengan pernyataan bahwa tidak sama dakwah orang yang menyeru kepada Allah dan mengikuti Islam, dengan perbuatan mencela orang-orang yang melaksanakan dakwah itu.

Sikap orang kafir yang mencela para dai diterangkan dalam firman Allah:

قُلُوْبُنَ ا فِيْٓ اَكِنَّةٍ مِّمَّا تَدْعُوْنَآ اِلَيْهِ

… Hati kami sudah tertutup dari apa yang engkau seru kami kepadanya… (Fuṣṣilat/41: 5)

Dan firman Allah:

وَقَالَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لَا تَسْمَعُوْا لِهٰذَا الْقُرْاٰنِ وَالْغَوْا فِيْهِ لَعَلَّكُمْ تَغْلِبُوْنَ ٢٦ (فصّلت)

Dan orang-orang yang kafir berkata, “Janganlah kamu mendengarkan (bacaan) Al-Qur’an ini dan buatlah kegaduhan terhadapnya, agar kamu dapat mengalahkan (mereka). (Fuṣṣilat/41: 26)

Dengan ayat ini, seakan-akan Allah menyatakan kepada Rasulullah saw bahwa jika ia mengerjakan kebaikan, maka akan memperoleh ganjaran kebaikan berupa penghargaan selama hidup di dunia dan pahala yang besar di akhirat nanti. Sedang orang-orang kafir yang mengerjakan kejahatan itu akan memperoleh penghinaan di dunia, dan di akhirat mereka akan memperoleh azab yang pedih. Rasulullah juga dilarang untuk membalas kejahatan mereka dengan kejahatan. Jika ia membalas kejahatan dengan kejahatan tentu mereka akan memperoleh kerugian yang berlipat ganda. Oleh karena itu, Rasulullah diperintahkan untuk membalas kejahatan mereka dengan kebaikan.

Kemudian Allah menerangkan cara membalas kejahatan orang-orang kafir itu dengan kebaikan dengan memerintahkan kepada Rasulullah agar membalas kebodohan dan kejahatan orang-orang kafir dengan cara yang paling baik, membalas perbuatan buruk mereka dengan perbuatan baik, memaafkan kesalahan mereka, dan menghadapi kemarahan mereka dengan kesabaran. Jika Nabi berbuat demikian, lambat laun mereka akan menilai sendiri perbuatan mereka, dan menimbulkan malu kepada mereka karena tindakan-tindakan mereka itu.

Allah menerangkan hasil yang akan diperoleh orang-orang yang beriman jika membalas perbuatan buruk orang-orang kafir dengan perbuatan baik. Allah mengatakan jika orang-orang beriman berhasil berbuat demikian, tentu permusuhan orang-orang kafir kepada mereka akan berubah menjadi persahabatan, kebencian akan berubah menjadi kecintaan.

Ibnu ‘Abbās berkata bahwa pada ayat ini, Allah memerintahkan kepada manusia agar berlaku sabar ketika marah, penyantun terhadap orang yang bodoh, dan memaafkan kesalahan orang. Jika seseorang mengerjakan yang demikian, Allah akan memelihara mereka dari setan, dan musuh-musuh mereka akan tunduk dan patuh kepada mereka.

Diriwayatkan bahwa seorang laki-laki mencela Qunbur, budak ‘Ali bin Abī Ṭālib, yang telah dimerdekakannya. Ali lalu memanggilnya dan berkata, Wahai Qunbur, tinggalkanlah orang yang mencelamu itu, biarkanlah ia, semoga Tuhan Yang Maha Penyayang meridai, dan setan menjadi marah.”

Menurut Muqātil, ayat ini turun berhubungan dengan Abū Sufyān. Dia adalah salah seorang musuh Rasulullah yang paling besar. Akan tetapi karena kesabaran dan sikap Nabi yang baik kepadanya, Abū Sufyān menjadi sahabat Nabi yang akrab, dengan mengadakan hubungan perbesanan (muṣaharah).

Isi Kandungan Kosakata

1. Ḥamīm حَمِيْمٌ (Fuṣṣilat/41: 34)

Kata dasarnya adalah (ḥa'mim-mim) yang artinya air yang sangat panas. Ḥammām berarti tempat mandi air hangat. Ḥamīm diartikan juga dengan teman dekat. Kaitannya dengan arti dasar dari kata ini adalah bahwa teman dekat akan merasa tersengat jika ada yang mengganggu teman yang dikasihinya. Dia akan berusaha membelanya dengan sepenuh hati. Untuk mengetahui arti yang pas untuk kata ini harus dilihat konteksnya. Pada Surah Muḥammad ayat: 15, al-An‘ām: 70, aṣ-Ṣāffāt: 70, Ṣād: 57, yang dimaksud dengan “ḥamīm” adalah air yang mendidih. Sedangkan pada Surah asy-Syu‘arā': 101. al-Ma‘ārij: 10, yang dimaksud dengan “ḥamīm” adalah teman dekat.

2. Yanzagannaka يَنْزَغَنَّكَ (Fuṣṣilat/41: 36)

Bentuk muḍāri‘ dari fi‘il māḍī “nazaga”. Akar katanya (nun-za'-gain) artinya adalah adanya upaya untuk merusak antara dua orang. Atau memasuki satu hal untuk merusaknya. Ayat ini menjelaskan tentang upaya setan untuk berusaha membujuk rayu dengan terus membangkitkan dan menggerakkan seorang yang digodanya agar mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki oleh setan.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto