Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 55 - Surat Gāfir (Maha Pengampun)
غافر
Ayat 55 / 85 •  Surat 40 / 114 •  Halaman 473 •  Quarter Hizb 48 •  Juz 24 •  Manzil 6 • Makkiyah

فَاصْبِرْ اِنَّ وَعْدَ اللّٰهِ حَقٌّ وَّاسْتَغْفِرْ لِذَنْۢبِكَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ بِالْعَشِيِّ وَالْاِبْكَارِ

Faṣbir inna wa‘dallāhi ḥaqquw wastagfir liżambika wa sabbiḥ biḥamdi rabbika bil-‘asyiyyi wal-ibkār(i).

Bersabarlah, sesungguhnya janji Allah itu benar, mohonlah ampun untuk dosamu, dan bertasbihlah seraya memuji Tuhanmu pada waktu petang dan pagi!

Makna Surat Gafir Ayat 55
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Demikian pula yang terjadi terhadap Nabi Muhammad. Beliau telah dianugerahi kitab serta dijanjikan akan beroleh kemenangan menghadapi orang-orang musyrik Mekah. “Maka tetaplah tabah dan bersabarlah kamu, wahai Nabi Muhammad, sesungguhnya janji Allah tentang akan beroleh kemenangan itu adalah janji yang benar, dan oleh sebab itu, mohonlah ampun untuk dosamu dan ajaklah para pengikutmu melakukannya serta bertasbihlah menyucikan Allah dari segala bentuk ketidakwajaran seraya memuji keagungan dan kebesaran Tuhanmu pada waktu petang dan pagi.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Pertolongan Allah kepada para rasul dan orang-orang yang beriman itu adalah salah satu dari sunatullah seperti yang pernah dianugerahkan kepada Musa. Oleh karena itu, Nabi Muhammad diminta untuk bersabar atas sikap dan tindakan orang-orang musyrik yang memperolok-olokkan ayat-ayat Allah. Allah pasti menolongnya dengan mengokohkan barisan kaum Muslimin dan mengangkat posisi agama Islam melebihi kepercayaan yang mereka anut Nabi Muhammad diperintahkan untuk selalu bertobat dan bertasbih pagi dan petang, sebagaimana firman Allah:

وَاَقِمِ الصَّلٰوةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِّنَ الَّيْلِ ۗاِنَّ الْحَسَنٰتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّاٰتِۗ ذٰلِكَ ذِكْرٰى لِلذّٰكِرِيْنَ ١١٤ (هود)

Dan laksanakanlah salat pada kedua ujung siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan malam. Perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan. Itulah peringatan bagi orang-orang yang selalu mengingat (Allah). (Hūd/11: 114)

Dengan selalu salat mengingat Allah dan bertasbih pagi dan petang itu, maka Rasulullah beribadah seperti yang dilakukan para malaikat. Allah berfirman:

وَلَهٗ مَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ وَمَنْ عِنْدَهٗ لَا يَسْتَكْبِرُوْ نَ عَنْ عِبَادَتِهٖ وَلَا يَسْتَحْسِرُوْ نَ ۚ ١٩ يُسَبِّحُوْنَ الَّيْلَ وَالنَّهَارَ لَا يَفْتُرُوْنَ ٢٠ (الانبياۤء)

Dan milik-Nya siapa yang di langit dan di bumi. Dan (malaikat-malaikat) yang di sisi-Nya, tidak mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya dan tidak (pula) merasa letih. Mereka (malaikat-malaikat) bertasbih tidak henti-hentinya malam dan siang. (al-Anbiyā'/21: 19-20)

Rasulullah saw diperintahkan bertobat bukan berarti beliau telah melakukan perbuatan dosa, tapi maksudnya ialah dengan sering melakukan tobat dan mohon ampun, maka jiwa semakin suci dan bersih, tidak ada satu pun kotoran yang mengotorinya. Jika Nabi yang terbebas dari segala dosa masih disuruh bertobat, maka bagi umat dan pengikutnya akan lebih lagi. Mereka harus cepat dan lebih sering bertobat.

Dari ayat ini dapat dipahami bahwa Al-Qur’an mengajarkan agar orang-orang yang beriman selalu bertobat, memohon ampun kepada Allah, dan mengerjakan amal saleh. Jika seseorang telah bertobat dan memohon ampun maka jiwanya menjadi suci dan bersih. Amal yang dikerjakan oleh orang yang bersih jiwanya akan langsung diterima Allah.

Dari ayat ini, dapat dipahami bahwa orang yang tidak suci dan bersih hatinya karena tidak bertobat dan mohon ampun kepada Allah, maka amalnya tidak diterima oleh Allah atau tidak dianggap sebagai amal yang saleh.

Isi Kandungan Kosakata

1. Yaqūmu al-Asyhād يَقُوْمُ الأَشْهَاد (Gāfir/40: 51)

Kalimat yaqūmu al-asyhād terdiri dari dua kata yaitu yaqūmu dan al-asyhād. Yaqūmu adalah bentuk fi’il muḍāri berasal dari kata yang terdiri dari huruf qaf, wau, dan mim. Arti dari kata ini berkisar pada sekelompok manusia. Dari sini kemudian, lahir kata qaum (kaum). Kata ini juga bermakna berdiri tegak lurus. Selain itu, kesinambungan dan terus-menerus menjadi sifat dari kata ini. Oleh karena itu, kata aqīmū diartikan dengan terlaksananya sesuatu secara sempurna dan berkesinambungan.

Sedangkan kata al-asyhād adalah bentuk jamak dari kata syahīd yang terambil dari kata syahida yang artinya menyaksikan sesuatu yang nyata. Menyaksikan yang batin (gaib) disebut dengan al-khabīr dan yang mutlak disebut dengan al-‘alīm. Makna dasarnya berkisar pada arti kehadiran, pengetahuan, informasi, dan kesaksian. Seseorang yang gugur di medan peperangan untuk menegakkan kalimat Allah disebut dengan syahīd karena para malaikat menghadiri kematiannya. Kata syahīd bisa berarti objek juga sebagai subjek, sehingga syahīd dapat berarti yang disaksikan atau yang menyaksikan. Dalam Al-Qur’an, kata ini terulang sebanyak tiga puluh lima kali. Selain menunjuk kepada sifat Allah, juga kepada para nabi, malaikat, dan umat Nabi Muhammad yang gugur di jalan Allah.

Dalam kalimat ini ada beberapa hal yang mesti dipenuhi yaitu adanya bukti baik secara lisan maupun tulisan, pengakuan, atau kesaksian. Surat-surat yang berharga disebut syahādah. Syahadat juga diartikan dengan sumpah, syarat untuk masuk Islam harus mengucapkan kalimat syahadat. Hari kiamat disebut juga dengan hari berdirinya para saksi karena pada saat itu semua orang akan menjadi saksi baik bagi dirinya atau orang lain terhadap amal atau perbuatan yang dilakukan selama hidup di dunia.

Dalam ayat ini, Allah akan memberikan pertolongan dan kemenangan kepada para rasul yang telah diutus-Nya dan umat-umat yang beriman kepada-Nya pada hari Kiamat nanti. Para saksi yang dimaksud di sini adalah para nabi, malaikat-malaikat pencatat amal, kaum mukminin, dan lain-lain yang kesemuanya akan tampil di hari Kiamat sebagai saksi-saksi yang mendukung dan memberatkan siapa yang disaksikannya. Pada hari itu, mereka akan menjadi saksi atas segala perbuatan orang-orang kafir dan atas pengetahuan para rasul kepada mereka, tetapi mereka mendustakannya.

2. Ma‘żiratuhum مَعْذِرَتُهُمْ (Gāfir/40: 52)

Kalimat ma‘żiratuhum diambil dari kata a‘żara-ya‘żuru-‘użr an yang berarti dalil atau hujjah yang dijadikan sebagai alasan atau dalih. Kalimat ini digunakan untuk suatu ungkapan yang bisa menghapus dosa. Ada tiga macam ‘użur yaitu: pertama, dengan mengatakan aku tidak melakukannya; kedua, aku melakukannya demi sesuatu yang bisa membebaskannya dari perasaan dosa; ketiga, aku yang melakukannya dan aku tidak akan mengulanginya lagi. Bentuk yang terakhir inilah yang disebut dengan tobat. Setiap tobat adalah ‘użur, tetapi tidak setiap ‘użur adalah tobat. Kalimat a‘żartuhu artinya aku menerima permintaan maafnya. Al-mu‘żir adalah sebutan untuk seseorang yang suka memaafkan kesalahan orang lain (at-Taubah/9: 90). Sebagian ulama mengatakan istilah ‘użur berasal dari kata a‘żirah yang berarti sesuatu yang najis. Oleh karena itu, kulup kemaluan anak laki-laki yang kecil disebut juga dengan ‘użrah. ‘Ażartu aṣ-ṣabiy artinya “aku telah membersihkan dan menghilangkan kotoran yang ada pada kulupnya”. Hal ini mengindikasikan adanya kotoran dalam kalimat ‘użur, oleh karena itu perlu dibersihkan dengan permintaan maaf. ‘Ażrah diartikan juga dengan keperawanan atau kegadisan seorang wanita.

Seperti dibahas pada ayat sebelumnya, bahwa semuanya akan dikumpulkan pada hari berdirinya saksi-saksi. Pada hari ini, tidak akan ada manfaatnya lagi permintaan maaf dan alasan-alasan yang dikemukakan karena semua yang mereka katakan adalah dusta belaka. Semuanya sudah diputuskan bahwa orang-orang yang beriman dan beramal saleh akan mendapatkan rahmat Allah dan sebaliknya mereka yang kafir dan berbuat kejahatan dan kejelekan akan mendapatkan azab dan siksa Allah.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto