اِنَّ الَّذِيْنَ يُجَادِلُوْنَ فِيْٓ اٰيٰتِ اللّٰهِ بِغَيْرِ سُلْطٰنٍ اَتٰىهُمْ ۙاِنْ فِيْ صُدُوْرِهِمْ اِلَّا كِبْرٌ مَّا هُمْ بِبَالِغِيْهِۚ فَاسْتَعِذْ بِاللّٰهِ ۗاِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Innal-lażīna yujādilūna fī āyātillāhi bigairi sulṭānin atāhum, in fī ṣudūrihim illā kibrum mā hum bibāligīh(i), fasta‘iż billāh(i), innahū huwas-samī‘ul-baṣīr(u).
Sesungguhnya orang-orang yang membantah ayat-ayat Allah tanpa alasan (bukti) yang sampai kepada mereka, tidaklah ada dalam dada mereka kecuali kesombongan (untuk tujuan) yang tidak akan mereka capai, maka mintalah pelindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.
Orang-orang durhaka itu mendustakan wahyu Allah dengan cara mendebat untuk menolak apa yang dikandung oleh Allah tersebut. Sesungguhnya orang-orang yang senantiasa mendebat untuk menolak kebenaran ayat-ayat Allah yang begitu jelas dan terang benderang tanpa alasan dan bukti-bukti yang sampai kepada mereka, maka yang ada dalam dada mereka hanyalah keinginan dan kebesaran dan keangkuhan agar dapat menyanyangimu, wahai Nabi Muhammad, yang hal itu pasti tidak akan pernah mereka capai. Maka oleh sebab itu, mintalah perlindungan kepada Allah. Sungguh, Dia, Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
Pada ayat ini dinyatakan bahwa orang-orang yang mengingkari seruan rasul dan membantah ayat-ayat Allah adalah orang-orang yang dalam hatinya penuh dengan keangkuhan dan takabur. Mereka enggan menerima kebenaran karena pengaruh hawa nafsu. Mereka ingin berkuasa dan dijadikan pemimpin dalam masyarakat, serta merasa sebagai orang yang paling berkuasa. Keinginan mereka inilah yang menyebabkan mereka mengingkari ayat-ayat Allah. Menurut mereka, keinginan itu tidak akan tercapai jika mereka mengikuti seruan rasul, karena dengan mengikuti seruan rasul berarti mereka meninggalkan agama nenek moyang yang mereka hormati selama ini.
Kemudian Allah menerangkan bahwa sekalipun orang-orang kafir itu selalu berusaha untuk menghancurkan Nabi Muhammad dan para pengikutnya, namun mereka tidak akan mencapai cita-cita itu. Sebab, Allah selalu membantu Nabi Muhammad dengan merendahkan, menghinakan, dan memusnahkan musuh-musuhnya dan usaha-usaha mereka.
Allah lalu memerintahkan Nabi agar selalu mohon perlindungan kepada-Nya untuk mematahkan tipu daya dan usaha orang-orang musyrik itu. Allah Maha Mendengar segala permintaan dan permohonan hamba-Nya, mengetahui setiap getaran jiwa dan melihat segala perbuatan hamba-hamba-Nya.
Al-Musī’u الْمُسِيْئُ (Gāfir/40: 58)
Kata al-musī’u merupakan isim fā‘il dari kata asā’a-yusī’u yang artinya orang yang berbuat kejelekan atau kejahatan. Sedangkan kata sā’a-yasū’u-sū’an berarti sesuatu yang membuat manusia celaka, sedih, atau menjengkelkan, baik urusan dunia maupun akhirat. Kata ini juga berarti melakukan sesuatu yang dibenci. As-Sū’u adalah perbuatan jelek atau mungkar. Dari sini, kata ini berkisar pada makna kalimat atau perbuatan yang menunjukkan kepada keburukan, kejelekan, kejahatan, kehancuran, dan kerusakan. As-sau’ah artinya perempuan yang buruk rupa, berarti juga aurat atau kemaluan.
Ungkapan ayat ini menjelaskan bahwa tidak akan sama kedudukan dan derajat orang-orang yang beriman yang mau mencari kebenaran dan beramal saleh dengan orang-orang kafir yang senantiasa melakukan perbuatan-perbuatan buruk yang dibenci oleh Allah.
















































