اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا يُنَادَوْنَ لَمَقْتُ اللّٰهِ اَكْبَرُ مِنْ مَّقْتِكُمْ اَنْفُسَكُمْ اِذْ تُدْعَوْنَ اِلَى الْاِيْمَانِ فَتَكْفُرُوْنَ
Innal-lażīna kafarū yunādauna lamaqtullāhi akbaru mim maqtikum anfusakum iż tad‘ūna ilal-īmāni fatakfurūn(a).
Sesungguhnya orang-orang yang kufur akan diseru (oleh malaikat pada hari Kiamat), “Sungguh, kebencian Allah (kepadamu) jauh lebih besar daripada kebencianmu kepada dirimu sendiri ketika kamu diseru untuk beriman, lalu kamu mengingkarinya.”
Sesungguhnya bagi orang-orang yang kafir, kepada mereka pada hari Kiamat itu diserukan oleh para malaikat, “Sungguh, kebencian Allah, kepadamu, wahai orang-orang yang durhaka, jauh lebih besar daripada kebencianmu kepada dirimu sendiri, karena ketika kamu diseru oleh rasul dan orang-orang beriman untuk beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, lalu kamu mengingkarinya dengan menolak seruan itu.”
Pada ayat ini, Allah menerangkan bahwa di akhirat orang-orang kafir yang sedang berada di dalam neraka merasakan azab yang amat pedih, saling membenci dan melaknat antara satu dengan yang lain. Bahkan mereka membenci diri mereka sendiri karena perbuatan yang telah dilakukannya di dunia yang menyebabkannya masuk neraka. Namun, malaikat berkata kepada mereka, “Sesungguhnya kebencian Allah pada saat kalian menolak seruan para nabi lebih besar dibandingkan dengan kebencianmu terhadap dirimu sendiri ketika menghadapi siksa neraka.” Firman Allah:
اَلْاَخِلّ َاۤءُ يَوْمَىِٕذٍۢ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ اِلَّا الْمُتَّقِيْنَ ۗ ࣖ ٦٧ (الزخرف)
Teman-teman karib pada hari itu saling bermusuhan satu sama lain, kecuali mereka yang bertakwa. (az-Zukhruf/43: 67)
Dan firman-Nya:
ثُمَّ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ يَكْفُرُ بَعْضُكُمْ بِبَعْضٍ وَّيَلْعَنُ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۖ
…Kemudian pada hari Kiamat sebagian kamu akan saling mengingkari dan saling mengutuk… (al-‘Ankabūt/29: 25)
1. Maqt Allāh مَقْتُ الله (Gāfir/40: 10)
Kata yang terambil dari maqata-yamqutu-maqtan. Akar katanya (mim-qaf-ta’) yang berarti jelek, buruk. Pada zaman Jahiliah menikahi istri bapak disebut dengan “nikah maqt”, karena hal ini sangat dibenci dan dimurkai Allah. Al-Asfahanī mengartikan al-maqt dengan kebencian yang sangat terhadap orang yang melakukan sesuatu keburukan.
2. Yaum al-Talāq يَوْمَ التَّلَاق (Gāfir/40: 15)
Yaum berarti hari. Talāq bentuk maṣdar dari talāqā-yatalāqi-talāqiya n, mengikuti wazan tafā‘ala. Yang mempunyai arti adanya dua orang yang bekerja sama dalam satu hal. Jika kemasukan lam ta‘rif dikatakan at-talāqi. Kemudian ya’ nya dibuang, jadinya at-talāq. Kata ini berakar pada (lam-qaf-huruf illat ya’) yang berarti bertemu. Sehingga makna at-talāq adalah saling bertemu. Maksudnya adalah hari Kiamat. Al-Qur’an tidak menyebutkan pertemuan antara siapa dan siapa. Oleh sebab itu, para mufasir mempunyai lahan untuk menyatakan pendapatnya. Menurut mereka, sebagaimana kata al-Khazin, pertemuan itu antara penghuni langit dan bumi, atau antara Allah dan makhluk-Nya, atau yang menyembah dan yang disembah, atau seseorang dengan amalnya, atau yang menzalimi dan yang dizalimi, dan semua makna tersebut memungkinkan.
3. Bārizūn بَارِزُوْنَ (Gāfir/40: 16)
Bentuk isim fa‘il yang fi‘il maḍinya baraza. Akar katanya (ba’-ra’-za’) yang artinya keluar, mencuat, tampak dan lain sebagainya. Kata al-barāz artinya tanah lapang karena orang yang ada di sini akan tampak. Tabarraza artinya buang air besar di tanah lapang. Pada ayat ini digambarkan bahwa manusia pada hari Kiamat akan keluar dari kuburnya masing-masing dalam keadaan terbuka jelas bagi siapapun, tidak tertutupi oleh suatu apa pun.










































