Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 61 - Surat Gāfir (Maha Pengampun)
غافر
Ayat 61 / 85 •  Surat 40 / 114 •  Halaman 474 •  Quarter Hizb 48 •  Juz 24 •  Manzil 6 • Makkiyah

اَللّٰهُ الَّذِيْ جَعَلَ لَكُمُ الَّيْلَ لِتَسْكُنُوْا فِيْهِ وَالنَّهَارَ مُبْصِرًا ۗاِنَّ اللّٰهَ لَذُوْ فَضْلٍ عَلَى النَّاسِ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَشْكُرُوْنَ

Allāhul-lażī ja‘ala lakumul-laila litaskunū fīhi wan-nahāra mubṣirā(n), innallāha lażū faḍlin ‘alan-nāsi wa lākinna akṡaran-nāsi lā yasykurūn(a).

Allahlah yang menjadikan malam untukmu agar kamu beristirahat padanya (dan menjadikan) siang terang-benderang (agar kamu bekerja). Sesungguhnya Allah benar-benar memiliki karunia (yang dilimpahkan) kepada manusia, tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.

Makna Surat Gafir Ayat 61
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Ajakan untuk berdoa dan mendekatkan diri kepada Allah adalah merupakan keniscayaan semata yang harus dilakukan oleh manusia. Sebenarnya disembah ataupun tidak, Allah tetaplah sebagai Pencipta alam semesta. Ayat ini dan ayat-ayat berikut mengukuhkan kenisca-yaan tersebut. Allah-lah yang menjadikan malam itu gelap untukmu agar kamu dapat beristirahat padanya; dan menjadikan siang terang benderang agar kamu dapat bekerja mencari nafkah memenuhi kebutuhan hidup. Sungguh, Allah benar-benar memiliki karunia yang tiada terhingga yang dilimpahkan-Nya kepada manusia, tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur atas karunia itu.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Pada ayat ini, Allah memerintahkan agar manusia beribadah kepada-Nya dengan alasan-alasan berikut ini:

1. Yang memerintahkan agar beribadah kepada-Nya itu ialah Tuhan yang menjadikan malam sebagai waktu beristirahat, dan mempersiapkan tenaga baru agar dapat berusaha kembali esok harinya. Pada waktu malam, pada umumnya manusia tidur karena merupakan kebutuhan tubuh yang harus dipenuhi.

2. Yang menjadikan siang bercahaya, yang menerangi alam semesta sehingga manusia dapat berusaha untuk mencukupi keperluan hidup.

3. Karena Allah mempunyai karunia yang tidak terhingga banyaknya yang disediakan untuk seluruh makhluk-Nya, dan karunia itu tidak akan habis selama-lamanya.

Pada akhir ayat ini diterangkan bahwa kebanyakan manusia tidak mau mensyukuri nikmat-nikmat Allah yang telah dilimpahkan kepadanya. Mereka mengingkari nikmat, seakan-akan nikmat itu mereka peroleh semata-mata karena usaha mereka sendiri.

Isi Kandungan Kosakata

1. Ud‘ūnī اُدْعُوْنِي (Gāfir/40: 60)

Kata ud‘ūnī adalah fi‘il amar (kata kerja perintah), dari da‘ā-yad‘ū-du‘ā'(an ) yang artinya “esakan dan sembahlah Aku,” atau bisa juga kata tersebut artinya “berdoalah (mintalah) kepada-Ku.” Menurut Ibnu al-Jauzī, terdapat dua pendapat ulama yang berbeda dalam memahami ungkapan firman-Nya ud‘ūni astajib lakum. Pendapat yang bersumber dari Ibnu ‘Abbās mengatakan bahwa yang dimaksud adalah waḥḥidūnī wa‘budūnī uṡibkum (esakan dan sembahlah Aku pasti Aku beri pahala kamu sekalian). Pendapat lain yang bersumber dari al-Suddī bahwa yang dimaksud dengan ungkapan tersebut adalah salūnī u‘ṭīkum (mintalah kamu sekalian kepada-Ku pasti akan Aku beri). Jadi, arti ud‘ūnī pada ayat ini berkisar pada perintah untuk beribadah atau berdoa kepada Allah sebagai Mutakallim, di mana Ia berjanji akan memberi pahala atau mengabulkan apa-apa yang dimohonkan manusia.

2. Dākhirīn دَاخِرِيْنَ (Gāfir/40: 60)

Kata dākhirīn atau dākhirūn disebutkan dalam Al-Qur’an tidak kurang dari empat kali, yaitu dalam Surah an-Naḥl/16: 48, Surah aṣ-Ṣāffāt/37: 18 (dākhirūn), Surah an-Naml/27: 87, dan dalam Surah Gāfir/40: 60 ini (dākhirīn). Baik dākhirīn maupun dākhirūn keduanya sama saja, artinya “rendah hati,” “terhina,” dan “merendahkan diri”. Adapun maksud dākhirīn dalam Surah Gāfir ini adalah aṣ-ṣagirīn (keadaan kecil), yakni hina, dalam arti bahwa orang-orang yang memasuki neraka Jahanam sebagai akibat sombong tidak mentauhidkan Allah dan tidak beribadah kepada-Nya akan berada dalam neraka Jahanam dengan keadaan hina dina.

3. Qarāran قَرَارًا (Gāfir/40: 64)

Kata qarār yang dalam ayat ini disebut untuk menjelaskan fungsi bumi adalah maṣdar dari qarra–yaqirru–qarāran yang secara harfiah artinya “keadaan tetap” (aṡ-ṡabat) atau stabil. Al-Qarār juga bisa berarti al-maskan (tempat tinggal, kediaman). Allah menjadikan bumi bagi manusia sebagai qarār maksudnya adalah bahwa bumi ini diberikan Allah kepada manusia dan juga makhluk lainnya sebagai tempat tinggal menetap untuk melepaskan rasa lelah. Dikatakan bumi sebagai tempat menetap, tentu menetap yang sifatnya sementara. Yang sifatnya abadi adalah negeri akhirat, yang oleh Al-Qur’an disebut dār al-qarār (negeri yang kekal), seperti disebutkan Allah dalam Surah Gāfir/40: 39.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto