ذٰلِكُمُ اللّٰهُ رَبُّكُمْ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍۘ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ ۖفَاَنّٰى تُؤْفَكُوْنَ
Żālikumullāhu rabbukum khāliqu kulli syai'(in), lā ilāha illā huw(a), fa'annā tu'fakūn(a).
Demikianlah Allah, Tuhanmu, Pencipta segala sesuatu, tidak ada tuhan selain Dia; maka bagaimanakah kamu dapat dipalingkan?
Demikianlah Allah, Tuhanmu Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Pencipta segala sesuatu, tidak ada Tuhan yang layak disembah selain Dia. Oleh sebab itu, maka bagaimanakah kamu dapat dipalingkan dari mengakui kebenaran ayat-ayat Allah?
Ayat ini menerangkan bahwa yang melimpahkan nikmat yang tidak terhingga kepada seluruh makhluk itu adalah Tuhan yang berhak disembah, karena Dialah yang menciptakan seluruh makhluk.
Kepada orang-orang kafir akan ditanyakan mengapa mereka berpaling, tidak mau menyembah, dan tidak mengesakan Allah. Padahal semua yang mereka sembah itu adalah ciptaan Allah, yang tidak pantas disembah.
1. Ud‘ūnī اُدْعُوْنِي (Gāfir/40: 60)
Kata ud‘ūnī adalah fi‘il amar (kata kerja perintah), dari da‘ā-yad‘ū-du‘ā'(an ) yang artinya “esakan dan sembahlah Aku,” atau bisa juga kata tersebut artinya “berdoalah (mintalah) kepada-Ku.” Menurut Ibnu al-Jauzī, terdapat dua pendapat ulama yang berbeda dalam memahami ungkapan firman-Nya ud‘ūni astajib lakum. Pendapat yang bersumber dari Ibnu ‘Abbās mengatakan bahwa yang dimaksud adalah waḥḥidūnī wa‘budūnī uṡibkum (esakan dan sembahlah Aku pasti Aku beri pahala kamu sekalian). Pendapat lain yang bersumber dari al-Suddī bahwa yang dimaksud dengan ungkapan tersebut adalah salūnī u‘ṭīkum (mintalah kamu sekalian kepada-Ku pasti akan Aku beri). Jadi, arti ud‘ūnī pada ayat ini berkisar pada perintah untuk beribadah atau berdoa kepada Allah sebagai Mutakallim, di mana Ia berjanji akan memberi pahala atau mengabulkan apa-apa yang dimohonkan manusia.
2. Dākhirīn دَاخِرِيْنَ (Gāfir/40: 60)
Kata dākhirīn atau dākhirūn disebutkan dalam Al-Qur’an tidak kurang dari empat kali, yaitu dalam Surah an-Naḥl/16: 48, Surah aṣ-Ṣāffāt/37: 18 (dākhirūn), Surah an-Naml/27: 87, dan dalam Surah Gāfir/40: 60 ini (dākhirīn). Baik dākhirīn maupun dākhirūn keduanya sama saja, artinya “rendah hati,” “terhina,” dan “merendahkan diri”. Adapun maksud dākhirīn dalam Surah Gāfir ini adalah aṣ-ṣagirīn (keadaan kecil), yakni hina, dalam arti bahwa orang-orang yang memasuki neraka Jahanam sebagai akibat sombong tidak mentauhidkan Allah dan tidak beribadah kepada-Nya akan berada dalam neraka Jahanam dengan keadaan hina dina.
3. Qarāran قَرَارًا (Gāfir/40: 64)
Kata qarār yang dalam ayat ini disebut untuk menjelaskan fungsi bumi adalah maṣdar dari qarra–yaqirru–qarāran yang secara harfiah artinya “keadaan tetap” (aṡ-ṡabat) atau stabil. Al-Qarār juga bisa berarti al-maskan (tempat tinggal, kediaman). Allah menjadikan bumi bagi manusia sebagai qarār maksudnya adalah bahwa bumi ini diberikan Allah kepada manusia dan juga makhluk lainnya sebagai tempat tinggal menetap untuk melepaskan rasa lelah. Dikatakan bumi sebagai tempat menetap, tentu menetap yang sifatnya sementara. Yang sifatnya abadi adalah negeri akhirat, yang oleh Al-Qur’an disebut dār al-qarār (negeri yang kekal), seperti disebutkan Allah dalam Surah Gāfir/40: 39.
















































