كَذٰلِكَ يُؤْفَكُ الَّذِيْنَ كَانُوْا بِاٰيٰتِ اللّٰهِ يَجْحَدُوْنَ
Każālika yu'fakul-lażīna kānū bi'āyātillāhi yajḥadūn(a).
Seperti itulah orang-orang yang selalu mengingkari ayat-ayat Allah dipalingkan.
Demikianlah caranya bagaimana orang-orang durhaka yang selalu mengingkari ayat-ayat Allah dipalingkan disebabkan oleh keangkuhan dan kesombongan mereka.
Dalam ayat ini dijelaskan bahwa sebagaimana orang-orang musyrik telah sesat karena menyembah tuhan-tuhan selain Allah, demikian juga telah sesat orang-orang yang sebelum mereka. Mereka mengingkari ayat-ayat Allah dan menyembah tuhan-tuhan yang lain semata-mata karena kebodohan mereka dan menuruti hawa nafsu belaka.
1. Ud‘ūnī اُدْعُوْنِي (Gāfir/40: 60)
Kata ud‘ūnī adalah fi‘il amar (kata kerja perintah), dari da‘ā-yad‘ū-du‘ā'(an ) yang artinya “esakan dan sembahlah Aku,” atau bisa juga kata tersebut artinya “berdoalah (mintalah) kepada-Ku.” Menurut Ibnu al-Jauzī, terdapat dua pendapat ulama yang berbeda dalam memahami ungkapan firman-Nya ud‘ūni astajib lakum. Pendapat yang bersumber dari Ibnu ‘Abbās mengatakan bahwa yang dimaksud adalah waḥḥidūnī wa‘budūnī uṡibkum (esakan dan sembahlah Aku pasti Aku beri pahala kamu sekalian). Pendapat lain yang bersumber dari al-Suddī bahwa yang dimaksud dengan ungkapan tersebut adalah salūnī u‘ṭīkum (mintalah kamu sekalian kepada-Ku pasti akan Aku beri). Jadi, arti ud‘ūnī pada ayat ini berkisar pada perintah untuk beribadah atau berdoa kepada Allah sebagai Mutakallim, di mana Ia berjanji akan memberi pahala atau mengabulkan apa-apa yang dimohonkan manusia.
2. Dākhirīn دَاخِرِيْنَ (Gāfir/40: 60)
Kata dākhirīn atau dākhirūn disebutkan dalam Al-Qur’an tidak kurang dari empat kali, yaitu dalam Surah an-Naḥl/16: 48, Surah aṣ-Ṣāffāt/37: 18 (dākhirūn), Surah an-Naml/27: 87, dan dalam Surah Gāfir/40: 60 ini (dākhirīn). Baik dākhirīn maupun dākhirūn keduanya sama saja, artinya “rendah hati,” “terhina,” dan “merendahkan diri”. Adapun maksud dākhirīn dalam Surah Gāfir ini adalah aṣ-ṣagirīn (keadaan kecil), yakni hina, dalam arti bahwa orang-orang yang memasuki neraka Jahanam sebagai akibat sombong tidak mentauhidkan Allah dan tidak beribadah kepada-Nya akan berada dalam neraka Jahanam dengan keadaan hina dina.
3. Qarāran قَرَارًا (Gāfir/40: 64)
Kata qarār yang dalam ayat ini disebut untuk menjelaskan fungsi bumi adalah maṣdar dari qarra–yaqirru–qarāran yang secara harfiah artinya “keadaan tetap” (aṡ-ṡabat) atau stabil. Al-Qarār juga bisa berarti al-maskan (tempat tinggal, kediaman). Allah menjadikan bumi bagi manusia sebagai qarār maksudnya adalah bahwa bumi ini diberikan Allah kepada manusia dan juga makhluk lainnya sebagai tempat tinggal menetap untuk melepaskan rasa lelah. Dikatakan bumi sebagai tempat menetap, tentu menetap yang sifatnya sementara. Yang sifatnya abadi adalah negeri akhirat, yang oleh Al-Qur’an disebut dār al-qarār (negeri yang kekal), seperti disebutkan Allah dalam Surah Gāfir/40: 39.











































