Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 64 - Surat Gāfir (Maha Pengampun)
غافر
Ayat 64 / 85 •  Surat 40 / 114 •  Halaman 474 •  Quarter Hizb 48 •  Juz 24 •  Manzil 6 • Makkiyah

اَللّٰهُ الَّذِيْ جَعَلَ لَكُمُ الْاَرْضَ قَرَارًا وَّالسَّمَاۤءَ بِنَاۤءً وَّصَوَّرَكُمْ فَاَحْسَنَ صُوَرَكُمْ وَرَزَقَكُمْ مِّنَ الطَّيِّبٰتِ ۗذٰلِكُمُ اللّٰهُ رَبُّكُمْ ۚ فَتَبٰرَكَ اللّٰهُ رَبُّ الْعٰلَمِيْنَ

Allāhul-lażī ja‘ala lakumul-arḍa qarāraw was-samā'a binā'aw wa ṣawwarakum fa'aḥsana ṣuwarakum wa razaqakum minaṭ-ṭayyibāt(i), żālikumullāhu rabbukum, fatabārakallāhu rabbul-‘ālamīn(a).

Allahlah yang menjadikan bumi untukmu sebagai tempat menetap dan langit sebagai atap. (Dia pula yang) membentukmu, lalu memperindah bentukmu, serta memberimu rezeki dari yang baik-baik. Demikianlah Allah Tuhanmu. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.

Makna Surat Gafir Ayat 64
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Masih dalam kaitan keniscayaan bahwa Allah memang layak untuk disembah, Allah kemudian menegaskannya kembali dalam ayat ini. Allah-lah Tuhan Yang Maha Esa dan Mahakuasa yang menjadikan bumi pada dasarnya untukmu, wahai manusia, sebagai tempat menetap yang layak untuk kehidupan, dan menjadikan langit sebagai atap tanpa tiang, dan membentukmu dengan bentuk yang sebaik-baiknya lalu memperindah rupamu serta memberimu rezeki dari yang baik-baik serta bermanfaat. Demikianlah Allah menciptakan semua itu bagi manusia, Dialah yang menjadi Tuhanmu, Mahasuci Allah, Tuhan seluruh alam.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Dalam ayat ini dijelaskan bahwa Allah yang menjadikan bumi untuk manusia sebagai tempat kediaman. Mereka hidup di atasnya dengan menikmati rezeki yang dilimpahkan-Nya. Dia pula yang menjadikan langit sebagai atap dan dihiasi dengan bintang-bintang yang gemerlapan tampak di malam hari. Karena keteraturan peredaran bintang-bintang, timbullah malam, siang, gelap, dan terang-benderang.

Pada ayat ini juga diterangkan dalil-dalil keesaan dan kekuasaan Allah yang terdapat pada diri manusia sendiri. Allah telah menjadikan manusia dalam bentuk yang paling baik di antara para makhluk-Nya dan dilengkapi dengan anggota tubuh yang sesuai dengan keperluan dan kepentingan hidup manusia sendiri. Dia pulalah yang memberikan kepada manusia makanan dan minuman yang baik sebagai rezeki dari-Nya. Allah itu Tuhan yang Mahatinggi, yang memiliki semesta alam.

Pada akhir ayat ini ditegaskan bahwa Tuhan yang melimpahkan rahmat-Nya kepada manusia adalah Tuhan yang wajib disembah. Tuhan Yang Mahasempurna dan memiliki semesta alam. Firman Allah:

يٰٓاَيُّهَ ا النَّاسُ اعْبُدُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ وَالَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ ٢١ الَّذِيْ جَعَلَ لَكُمُ الْاَرْضَ فِرَاشًا وَّالسَّمَاۤءَ بِنَاۤءً ۖوَّاَنْزَلَ مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءً فَاَخْرَجَ بِهٖ مِنَ الثَّمَرٰتِ رِزْقًا لَّكُمْ ۚ فَلَا تَجْعَلُوْا لِلّٰهِ اَنْدَادًا وَّاَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ ٢٢ (البقرة)

Wahai manusia! Sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu, agar kamu bertakwa. (Dialah) yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dialah yang menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia hasilkan dengan (hujan) itu buah-buahan sebagai rezeki untukmu. Karena itu janganlah kamu mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah, padahal kamu mengetahui. (al-Baqarah/2: 21-22)

Isi Kandungan Kosakata

1. Ud‘ūnī اُدْعُوْنِي (Gāfir/40: 60)

Kata ud‘ūnī adalah fi‘il amar (kata kerja perintah), dari da‘ā-yad‘ū-du‘ā'(an ) yang artinya “esakan dan sembahlah Aku,” atau bisa juga kata tersebut artinya “berdoalah (mintalah) kepada-Ku.” Menurut Ibnu al-Jauzī, terdapat dua pendapat ulama yang berbeda dalam memahami ungkapan firman-Nya ud‘ūni astajib lakum. Pendapat yang bersumber dari Ibnu ‘Abbās mengatakan bahwa yang dimaksud adalah waḥḥidūnī wa‘budūnī uṡibkum (esakan dan sembahlah Aku pasti Aku beri pahala kamu sekalian). Pendapat lain yang bersumber dari al-Suddī bahwa yang dimaksud dengan ungkapan tersebut adalah salūnī u‘ṭīkum (mintalah kamu sekalian kepada-Ku pasti akan Aku beri). Jadi, arti ud‘ūnī pada ayat ini berkisar pada perintah untuk beribadah atau berdoa kepada Allah sebagai Mutakallim, di mana Ia berjanji akan memberi pahala atau mengabulkan apa-apa yang dimohonkan manusia.

2. Dākhirīn دَاخِرِيْنَ (Gāfir/40: 60)

Kata dākhirīn atau dākhirūn disebutkan dalam Al-Qur’an tidak kurang dari empat kali, yaitu dalam Surah an-Naḥl/16: 48, Surah aṣ-Ṣāffāt/37: 18 (dākhirūn), Surah an-Naml/27: 87, dan dalam Surah Gāfir/40: 60 ini (dākhirīn). Baik dākhirīn maupun dākhirūn keduanya sama saja, artinya “rendah hati,” “terhina,” dan “merendahkan diri”. Adapun maksud dākhirīn dalam Surah Gāfir ini adalah aṣ-ṣagirīn (keadaan kecil), yakni hina, dalam arti bahwa orang-orang yang memasuki neraka Jahanam sebagai akibat sombong tidak mentauhidkan Allah dan tidak beribadah kepada-Nya akan berada dalam neraka Jahanam dengan keadaan hina dina.

3. Qarāran قَرَارًا (Gāfir/40: 64)

Kata qarār yang dalam ayat ini disebut untuk menjelaskan fungsi bumi adalah maṣdar dari qarra–yaqirru–qarāran yang secara harfiah artinya “keadaan tetap” (aṡ-ṡabat) atau stabil. Al-Qarār juga bisa berarti al-maskan (tempat tinggal, kediaman). Allah menjadikan bumi bagi manusia sebagai qarār maksudnya adalah bahwa bumi ini diberikan Allah kepada manusia dan juga makhluk lainnya sebagai tempat tinggal menetap untuk melepaskan rasa lelah. Dikatakan bumi sebagai tempat menetap, tentu menetap yang sifatnya sementara. Yang sifatnya abadi adalah negeri akhirat, yang oleh Al-Qur’an disebut dār al-qarār (negeri yang kekal), seperti disebutkan Allah dalam Surah Gāfir/40: 39.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto