هُوَ الْحَيُّ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ فَادْعُوْهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ۗ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
Huwal-ḥayyu lā ilāha illā huwa fad‘ūhu mukhliṣīna lahud-dīn(a), al-ḥamdu lillāhi rabbil-‘ālamīn(a).
Dialah yang hidup kekal, tidak ada tuhan selain Dia, maka berdoalah kepada-Nya dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.
Keniscayaan bahwa Allah-lah yang layak dijadikan Tuhan dan sebagai tempat memohonkan doa lebih dikukuhkan lagi dengan ayat ini. Dialah yang hidup kekal yang memberikan kehidupan bagi semua yang hidup, tidak ada tuhan yang layak disembah selain Dia; maka oleh sebab itu, berdoa dan sembahlah Dia dengan tulus ikhlas beragama kepada-Nya dengan tidak mempersekutukan-Nya dengan yang lain. Segala puji bagi Allah, Dia Maha Esa, Tuhan seluruh alam.
Ayat ini menjelaskan bahwa Tuhan yang disembah itu adalah Tuhan yang hidup kekal, yang tidak pernah mati. Dialah yang menghidupkan dan mematikan makhluk-Nya, selain daripada-Nya tidak pantas disembah. Oleh karena itu, murnikanlah ketundukan dan ketaatan hanya kepada-Nya saja, jangan sekali-kali mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun.
Pada akhir ayat ini diterangkan bahwa segala puji bagi Allah, Tuhan Yang Maha Suci. Dialah Yang memiliki segala makhluk-Nya, baik yang berupa malaikat, jin, manusia, dan semua makhluk lain yang ada di alam ini. Semuanya itu tergantung kepada-Nya, sehingga segala sifat kebesaran dan kemuliaan ada pada-Nya. Oleh karena itu, mereka selalu mengucapkan: “al-Ḥamdulillāhi Rabbil ‘ālamīn”.
1. Ud‘ūnī اُدْعُوْنِي (Gāfir/40: 60)
Kata ud‘ūnī adalah fi‘il amar (kata kerja perintah), dari da‘ā-yad‘ū-du‘ā'(an ) yang artinya “esakan dan sembahlah Aku,” atau bisa juga kata tersebut artinya “berdoalah (mintalah) kepada-Ku.” Menurut Ibnu al-Jauzī, terdapat dua pendapat ulama yang berbeda dalam memahami ungkapan firman-Nya ud‘ūni astajib lakum. Pendapat yang bersumber dari Ibnu ‘Abbās mengatakan bahwa yang dimaksud adalah waḥḥidūnī wa‘budūnī uṡibkum (esakan dan sembahlah Aku pasti Aku beri pahala kamu sekalian). Pendapat lain yang bersumber dari al-Suddī bahwa yang dimaksud dengan ungkapan tersebut adalah salūnī u‘ṭīkum (mintalah kamu sekalian kepada-Ku pasti akan Aku beri). Jadi, arti ud‘ūnī pada ayat ini berkisar pada perintah untuk beribadah atau berdoa kepada Allah sebagai Mutakallim, di mana Ia berjanji akan memberi pahala atau mengabulkan apa-apa yang dimohonkan manusia.
2. Dākhirīn دَاخِرِيْنَ (Gāfir/40: 60)
Kata dākhirīn atau dākhirūn disebutkan dalam Al-Qur’an tidak kurang dari empat kali, yaitu dalam Surah an-Naḥl/16: 48, Surah aṣ-Ṣāffāt/37: 18 (dākhirūn), Surah an-Naml/27: 87, dan dalam Surah Gāfir/40: 60 ini (dākhirīn). Baik dākhirīn maupun dākhirūn keduanya sama saja, artinya “rendah hati,” “terhina,” dan “merendahkan diri”. Adapun maksud dākhirīn dalam Surah Gāfir ini adalah aṣ-ṣagirīn (keadaan kecil), yakni hina, dalam arti bahwa orang-orang yang memasuki neraka Jahanam sebagai akibat sombong tidak mentauhidkan Allah dan tidak beribadah kepada-Nya akan berada dalam neraka Jahanam dengan keadaan hina dina.
3. Qarāran قَرَارًا (Gāfir/40: 64)
Kata qarār yang dalam ayat ini disebut untuk menjelaskan fungsi bumi adalah maṣdar dari qarra–yaqirru–qarāran yang secara harfiah artinya “keadaan tetap” (aṡ-ṡabat) atau stabil. Al-Qarār juga bisa berarti al-maskan (tempat tinggal, kediaman). Allah menjadikan bumi bagi manusia sebagai qarār maksudnya adalah bahwa bumi ini diberikan Allah kepada manusia dan juga makhluk lainnya sebagai tempat tinggal menetap untuk melepaskan rasa lelah. Dikatakan bumi sebagai tempat menetap, tentu menetap yang sifatnya sementara. Yang sifatnya abadi adalah negeri akhirat, yang oleh Al-Qur’an disebut dār al-qarār (negeri yang kekal), seperti disebutkan Allah dalam Surah Gāfir/40: 39.











































