Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 35 - Surat Gāfir (Maha Pengampun)
غافر
Ayat 35 / 85 •  Surat 40 / 114 •  Halaman 471 •  Quarter Hizb 47.75 •  Juz 24 •  Manzil 6 • Makkiyah

ۨالَّذِيْنَ يُجَادِلُوْنَ فِيْٓ اٰيٰتِ اللّٰهِ بِغَيْرِ سُلْطٰنٍ اَتٰىهُمْۗ كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللّٰهِ وَعِنْدَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا ۗ كَذٰلِكَ يَطْبَعُ اللّٰهُ عَلٰى كُلِّ قَلْبِ مُتَكَبِّرٍ جَبَّارٍ

Allażīna yujādilūna fī āyātillāhi bigairi sulṭānin atāhum, kabura maqtan ‘indallāhi wa ‘indal-lażīna āmanū, każālika yaṭba‘ullāhu ‘alā kulli qalbi mutakabbirin jabbār(in).

Orang-orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka, sangat besar kemurkaan (bagi mereka) di sisi Allah dan di sisi orang-orang yang beriman. Demikianlah Allah mengunci hati setiap orang yang sombong lagi sewenang-wenang.

Makna Surat Gafir Ayat 35
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Yaitu orang-orang yang selalu memperdebatkan kebenaran ayat-ayat Allah yang sudah sangat jelas kebenarannya itu tanpa alasan dan bukti-bukti yang kuat dan nyata yang sampai kepada mereka. Sangat besar kemurkaan bagi mereka di sisi Allah dan juga di sisi orang-orang yang ber-iman. Demikianlah Allah mengunci mati hati setiap orang yang sombong dan juga mengunci mati hati setiap orang yang berlaku sewenang-wenang.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Kemudian Allah menjelaskan bagaimana tindakan orang-orang yang bersifat tamak dan selalu meragukan kebenaran wahyu itu. Mereka itu selalu menolak kebenaran ayat-ayat Allah yang disampaikan kepada mereka. Mereka juga selalu mempermasalahkan bukti-bukti yang disampaikan mengenai kebenaran wahyu itu. Akan tetapi, penolakan mereka itu tidak memiliki kekuatan apa pun. Kepercayaan mereka hanya berdasar tradisi nenek moyang mereka, dan itu hanyalah kepatuhan membabi buta tanpa dipikirkan. Kepatuhan seperti ini tidak dibenarkan karena Allah memberi manusia pendengaran, penglihatan, dan akal pikiran. Oleh karena itu, orang yang menolak kebenaran wahyu dan lebih percaya pada tradisi nenek moyang itu tidak tahu lagi mana yang benar dan mana yang salah. Dengan demikian, mereka sangat dibenci Allah dan orang-orang yang beriman.

Selanjutnya Allah menerangkan hukum-hukum-Nya bagi orang yang menutup hatinya untuk menerima kebenaran wahyu, yaitu bahwa Ia akan menutup hati mereka. Hati yang tertutup terjadi karena mereka selalu menolak kebenaran wahyu dan mempermasalahkannya. Penolakan yang terus-menerus akan membawa kepada kesombongan. Selalu mempermasalahkan kebenaran akan membawa kepada kesewenang-wenangan. Karena sombong dan sewenang-wenang itu, maka mereka akan selalu menolak dan menentang kebenaran. Akhirnya hati mereka tertutup dengan sendirinya. Demikian hukum yang ditentukan Allah bagi tertutupnya hati manusia.

Isi Kandungan Kosakata

1. Yaum al-AḤzāb يَوْمَ اْلأَحْزَابِ (Gāfir/40: 30)

Yaum artinya hari, al-aḥzāb merupakan bentuk jamak dari ḥizb. Al-ḥizb adalah sekelompok orang yang mempunyai kekuatan (jama‘atun fīha gilaẓ). Yaumal aḥzāb diartikan sebagai hari (kehancurannya) golongan yang bersekutu. Ayat ini menjelaskan tentang peristiwa yang terjadi pada kaum yang durhaka pada masa lalu seperti kaum kaum Nabi Nuh, kaum ‘Ad, Samud dan lainnya. Kaum-kaum tersebut berkelompok untuk melawan nabi-nabi mereka

2. Yaum at-Tanād يَوْمَ التَنَاد (Gāfir/40: 32)

At-Tanād patronnya adalah tafā‘ala yang mengandung makna “saling” antara dua pihak. Kata dasarnya nadā-yandū-nadw yang berarti ‘berteriak untuk mengeluh’. Tanādā berarti “panggil-memanggil” untuk meminta pertolongan dari satu sama lainnya. At-Tanād adalah bentuk masdarnya. Dibuangnya ya' karena begitulah tertulis dalam Musḥaf ‘Usmani, dan juga untuk maksud meringankan dalam membacanya.

Yaum at-tanād terjemahannya adalah hari panggil-memanggil. Maksudnya adalah bahwa pada hari itu manusia saling memanggil untuk meminta tolong dari yang lainnya. Akan tetapi, tolong-menolong pada waktu itu tidak mungkin karena manusia sibuk dengan nasibnya masing-masing.

3. Qalb Mutakabbir Jabbār قَلْبِ مُتَكَبِّرٍ جَبَّارٍ (Gāfir/40: 35)

Mutakabbir adalah bentuk kata benda pelaku (isim fā‘il) dari takabbara. Kata dasarnya kabura yang berarti ‘besar’, dijadikan menjadi patron tafa‘‘ala, yaitu dengan menambah ta' dan taḍ‘īf (double) huruf tengahnya (ba'), untuk menghasilkan makna “dipaksa-paksakan melakukan sesuatu”. Jadi, takabbara artinya adalah “memaksa-maksakan membuat atau menganggap diri besar dari orang lain”, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan “sombong”. Pelaku perbuatan itu disebut mutakabbir ‘orang yang sombong’.

Jabbār adalah patron ṣīgah mubālagah, bentuk kata yang mengandung makna “sangat”, dari jabara ‘memaksa’. Jabbār berarti “orang yang sangat memaksa”. Dengan demikian, qalb mutakabbir jabbār terjemahannya adalah “hati seorang yang amat sombong dan pemaksa”. Yang dimaksud dalam ayat ini adalah Fir‘aun. Ia sombong sehingga memandang dirinya Tuhan, kejam, dan semena-mena.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto