Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 77 - Surat Gāfir (Maha Pengampun)
غافر
Ayat 77 / 85 •  Surat 40 / 114 •  Halaman 475 •  Quarter Hizb 48.25 •  Juz 24 •  Manzil 6 • Makkiyah

فَاصْبِرْ اِنَّ وَعْدَ اللّٰهِ حَقٌّ ۚفَاِمَّا نُرِيَنَّكَ بَعْضَ الَّذِيْ نَعِدُهُمْ اَوْ نَتَوَفَّيَنَّكَ فَاِلَيْنَا يُرْجَعُوْنَ

Faṣbir inna wa‘dallāhi ḥaqq(un), fa'immā nuriyannaka ba‘ḍal-lażī na‘iduhum au natawaffayannaka fa'ilainā yurja‘ūn(a).

Bersabarlah (Nabi Muhammad)! Sesungguhnya janji Allah itu benar. Jika Kami benar-benar memperlihatkan kepadamu sebagian dari (siksa) yang Kami janjikan kepada mereka (di dunia), ataupun jika Kami mewafatkanmu, (bagaimanapun juga) kepada Kamilah mereka dikembalikan.

Makna Surat Gafir Ayat 77
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Demikianlah, setelah dibentangkan apa yang dialami oleh para pendurhaka yang mendebat dengan batil ayat-ayat Allah serta digambarkan pula apa yang akan diperoleh orang-orang yang beriman, maka Nabi Muhammad dan kaum beriman diminta untuk konsisten dalam keimanan dan perjuangan menyampaikan kebenaran. Maka bersabarlah engkau, wahai Nabi Muhammad dan kaum beriman, sesungguhnya janji Allah itu adalah benar dan Dia tidak akan memungkiri janji-Nya. Oleh sebab itu, meskipun Kami perlihatkan kepadamu di masa hidupmu sebagian siksa yang Kami ancamkan kepada mereka para durhaka itu, ataupun Kami wafatkan engkau sebelum ajal menimpa mereka, namun mereka orang-orang durhaka itu tidak dibiarkan begitu saja, karena kepada Kamilah mereka dikembalikan.”

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Allah memerintahkan para rasul-Nya agar bersabar dalam menghadapi tindakan orang-orang musyrik yang mendustakan dan membantah ayat-ayat-Nya. Para rasul juga diminta bersabar dan bertawakal menghadapi gangguan dan ancaman-ancaman mereka. Allah menyatakan bahwa janji-Nya untuk mengazab orang-orang kafir pasti benar dan terlaksana.

Allah mengatakan kepada Nabi saw bahwa jika Ia memperlihatkan kepadanya, di waktu Nabi masih hidup, azab yang ditimpakan kepada orang-orang musyrik, atau tidak diperlihatkan kepada Nabi azab itu dengan mewafatkannya sebelum kedatangan azab itu, maka hal itu tidak berarti apa-apa bagi mereka. Pada hari Kiamat semuanya kembali kepada Allah, lalu diberikan kepada mereka balasan yang setimpal.

Ayat lain yang searti dengan ayat ini ialah:

فَاِمَّا نَذْهَبَنَّ بِكَ فَاِنَّا مِنْهُمْ مُّنْتَقِمُوْن َۙ ٤١ اَوْ نُرِيَنَّكَ الَّذِيْ وَعَدْنٰهُمْ فَاِنَّا عَلَيْهِمْ مُّقْتَدِرُوْن َ ٤٢ (الزخرف)

Maka sungguh, sekiranya Kami mewafatkanmu (sebelum engkau mencapai kemenangan), maka sesungguhnya Kami akan tetap memberikan azab kepada mereka (di akhirat), atau Kami perlihatkan kepadamu (azab) yang telah Kami ancamkan kepada mereka. Maka sungguh, Kami berkuasa atas mereka. (az-Zukhruf/43: 41-42)

Isi Kandungan Kosakata

1. Qaṣaṣnā قَصَصْنَا (Gāfir/40: 78)

Qaṣaṣnā artinya: telah kami ceritakan, telah kami kisahkan. Akar katanya adalah qaf-ṣad-ṣad yang berarti menelusuri jejak. Orang yang bercerita adalah menelusuri jejak kejadian yang lalu.

Pada ayat 78 ini disebutkan bahwa Allah telah mengutus banyak nabi dan rasul sebelum Nabi Muhammad. Dari sekian banyak rasul itu, ada yang disebutkan dan diceritakan kisahnya dalam Al-Qur’an mulai dari Nabi Adam, Idris, Nuh, Hud, Saleh, sampai pada nabi yang sangat terkenal seperti Nabi Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub, dan lain-lain, hingga nabi-nabi akhir zaman yaitu Nabi Musa, Isa, dan Muhammad. Jumlah seluruh nabi dan rasul yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan wajib kita imani ada 25 nabi. Akan tetapi, masih ada nabi dan rasul yang tidak disebutkan dalam Al-Qur’an, karena Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang telah mengutus hampir kepada setiap suku dan bangsa seorang pembimbing menuju jalan kebenaran. Menurut sahabat Abu Żar ketika bertanya kepada Rasulullah berapa jumlah nabi dan rasul, beliau menjawab jumlah nabi ada 124 ribu dan jumlah rasul ada 315 orang.

2. Al-Mubṭilūn الْمُبْطِلُوْن َ (Gāfir/40: 78)

Al-Mubṭilūn artinya orang-orang yang membatalkan. Berasal dari fi‘il baṭala-yabṭulu-baṭilan -buṭulan-baṭlānan yang artinya: batal, sia-sia, tidak terpakai. Kata kerja ini adalah intransitif yaitu tidak mempunyai maf‘ūl atau objek. Kemudian dijadikan fi‘il muta‘addī atau kata kerja transitif dengan menambah huruf hamzah pada permulaan fi‘il, sehingga menjadi: abṭala-yubṭilu-ibṭāla n yang artinya: membatalkan, menjadikan sia-sia atau mem-buatnya menjadi tidak terpakai. Dari fi‘il muta‘addī ini isim fā‘il atau orang yang melakukan pekerjaan ini adalah mubṭil, dan bentuk jamaknya yaitu mubṭilūn, artinya orang-orang yang membatalkan petunjuk rasul, atau menjadikannya sia-sia dan tidak terpakai.

Pada akhir ayat 78, Allah menegaskan bahwa jika ketentuan Allah yaitu azab telah datang kepada mereka orang-orang yang mengingkari Allah atau menolak petunjuk rasul-Nya, maka Allah telah menetapkannya dengan adil, yaitu hancurlah orang-orang yang mengingkari kebenaran dan rugilah orang-orang yang berpegang pada tradisi kebatilan, karena mereka telah menjadikan kebenaran yang dibawa Rasul itu menjadi sia-sia dan tidak terpakai.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto