Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 43 - Surat Gāfir (Maha Pengampun)
غافر
Ayat 43 / 85 •  Surat 40 / 114 •  Halaman 472 •  Quarter Hizb 48 •  Juz 24 •  Manzil 6 • Makkiyah

لَا جَرَمَ اَنَّمَا تَدْعُوْنَنِيْٓ اِلَيْهِ لَيْسَ لَهٗ دَعْوَةٌ فِى الدُّنْيَا وَلَا فِى الْاٰخِرَةِ وَاَنَّ مَرَدَّنَآ اِلَى اللّٰهِ وَاَنَّ الْمُسْرِفِيْنَ هُمْ اَصْحٰبُ النَّارِ

Lā jarama annamā tad‘ūnanī ilaihi laisa lahū da‘watun fid-dun-yā wa lā fil-ākhirati wa anna maraddanā ilallāhi wa annal-musrifīna hum aṣḥābun-nār(i).

Sudah pasti bahwa apa yang kamu serukan kepadaku (agar menyembah)-nya bukanlah seruan yang layak sama sekali di dunia dan di akhirat. Sesungguhnya tempat kembali kita pasti kepada Allah dan sesungguhnya orang-orang yang melampaui batas akan menjadi penghuni neraka.

Makna Surat Gafir Ayat 43
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Sudah pasti dan tidak dapat disangkal lagi bahwa apa yang kamu serukan sedemikian rupa kepadaku agar aku beriman kepadanya, bukanlah suatu seruan yang baik yang akan berguna bagi kehidupan, baik di dunia maupun di akhirat. Dan sadarilah bahwa sesungguhnya tempat kembali kita pada akhirnya pasti kepada Allah Tuhan Yang Maha Esa, dan ketahuilah sesungguhnya orang-orang yang melampaui batas dengan berbuat durhaka kepada Allah, mereka itu-lah orang-orang yang akan menjadi penghuni neraka.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Ayat ini masih melanjutkan perkataan dari orang beriman di atas. Dia mengatakan, “Sebenarnya kamu telah menyeruku menyembah berhala-berhala, yang tidak mendengar seruan orang-orang yang menyerunya, dan tidak dapat memberi pertolongan baik di dunia maupun di akhirat, karena ia tidak dapat memberikan sesuatu mudarat dan tidak pula sesuatu manfaat kepada siapa pun.” Firman Allah:

اِنْ تَدْعُوْهُمْ لَا يَسْمَعُوْا دُعَاۤءَكُمْۚ وَلَوْ سَمِعُوْا مَا اسْتَجَابُوْا لَكُمْۗ وَيَوْمَ الْقِيٰمَةِ يَكْفُرُوْنَ بِشِرْكِكُمْۗ وَلَا يُنَبِّئُكَ مِثْلُ خَبِيْرٍ ࣖ ١٤ (فاطر)

Jika kamu menyeru mereka, mereka tidak mendengar seruanmu, dan sekiranya mereka mendengar, mereka juga tidak memperkenankan permintaanmu. Dan pada hari Kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu dan tidak ada yang dapat memberikan keterangan kepadamu seperti yang diberikan oleh (Allah) Yang Mahateliti. (Fāṭir/35: 14)

Dan firman Allah:

وَمَنْ اَضَلُّ مِمَّنْ يَّدْعُوْا مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ مَنْ لَّا يَسْتَجِيْبُ لَهٗٓ اِلٰى يَوْمِ الْقِيٰمَةِ وَهُمْ عَنْ دُعَاۤىِٕهِمْ غٰفِلُوْنَ ٥ (الاحقاف)

Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang-orang yang menyembah selain Allah (sembahan) yang tidak dapat memperkenankan (doa)nya sampai hari Kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) doa mereka? (al-Aḥqāf/46: 5)

Orang beriman itu melanjutkan perkataannya, “Ketahuilah kaumku, bahwa kita semua adalah milik Allah dan kepada-Nya pula kita kembali setelah mati dan dibangkitkan kembali. Waktu itu pula Dia memberi balasan kepada kita, sesuai dengan perbuatan dan amal kita masing-masing. Orang-orang yang kafir dan melampaui batas akan menjadi penghuni neraka.”

Isi Kandungan Kosakata

1. Sabīl ar-Rasyād سَبِيْلَ الرَّشَادِ (Gāfir/40: 38)

Sabīl artinya jalan (biasa). Berbeda dengan ṣirāṭ yaitu jalan yang lebar dan bebas hambatan. Bisa diibaratkan dengan jalan utama atau jalan tol, itu adalah ṣirāṭ, sedangkan jalan-jalan lebih kecil di samping kiri dan kanannya yang bermuara kepadanya adalah sabīl. Dalam Al-Qur’an dilukiskan bahwa sabīl itu banyak. Ada sabīl Allāh ‘jalan Allah’, sabīl Gāfirīn “jalan orang Mukmin’, sabīl al-mujrimīn ‘jalan orang berdosa, sabīl aṭ-Ṭāgūt ‘jalan setan’, dan sebagainya. Bila Anda menempuh jalan, tempuhlah sabīl Allāh atau sabīl Gāfirīn karena kedua jalan itu bermuara pada ṣirāṭ mustaqīm ‘jalan lurus’ yang lebar dan bebas hambatan yang pasti menyampaikan ke surga.

Ar-Rasyād adalah maṣdar dari rasyada-yarsyudu-rusydan-ras yādan artinya “benar”, “lurus”. Dengan demikian, sabīl ar-rasyād maksudnya adalah jalan untuk mencapai kebenaran, petunjuk, kebaikan, dan sebagainya. Itu adalah ucapan seorang keluarga Fir‘aun yang beriman mengajak rakyatnya agar beriman kepada apa yang didakwakan Nabi Musa.

2. An-Najāh النَّجٰوةِ (Gāfir/40: 41)

Kata an-Najāh berasal dari kata naja yanjū yang arti asalnya adalah terpisah dari sesuatu atau terselamatkan. Najā fulān berarti si fulan telah selamat dari sesuatu yang membahayakannya. An-Najwah atau an-najāh adalah tempat yang sangat tinggi yang karena ketinggiannya terpisah dari daerah sekitarnya. Dinamakan demikian karena dataran yang tinggi bisa menyelamatkan dari bahaya banjir.

Dalam ayat ini, Allah menjelaskan tentang sikap kaum yang beriman kepada Allah dari umat Nabi Musa walaupun terjadi intimidasi dan tekanan dari kaum Fir‘aun. Mereka tetap mengajak dan menyeru kaum Fir‘aun dan pengikutnya untuk masuk ke dalam ajaran tauhid. Mereka merasa heran karena sebenarnya apa yang mereka serukan merupakan jalan yang lurus untuk menuju keselamatan dunia dan akhirat. Keselamatan yang bisa menghindarkan seseorang dari siksaan api neraka dan murka Allah dan menghantarkan seseorang menuju jalan keabadian surgawi. Dalam konteks ini, sang mukmin merasa heran karena begitu jelas dan demikian bermanfaat ajakannya, namun mereka menolaknya bahkan mengajak kepada ajakan yang bertolak belakang. Seruan kaum Fir‘aun untuk menyembah berhala adalah jalan kesesatan dan kesengsaraan yang akan membawanya ke dalam neraka.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto