Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 31 - Surat Luqmān (Luqman)
لقمٰن
Ayat 31 / 34 •  Surat 31 / 114 •  Halaman 414 •  Quarter Hizb 42 •  Juz 21 •  Manzil 5 • Makkiyah

اَلَمْ تَرَ اَنَّ الْفُلْكَ تَجْرِيْ فِى الْبَحْرِ بِنِعْمَتِ اللّٰهِ لِيُرِيَكُمْ مِّنْ اٰيٰتِهٖۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّكُلِّ صَبَّارٍ شَكُوْرٍ

Alam tara annal-fulka tajrī fil-baḥri bini‘matillāhi liyuriyakum min āyātih(ī), inna fī żālika la'āyātil likulli ṣabbārin syakūr(in).

Tidakkah engkau memperhatikan bahwa sesungguhnya kapal itu berlayar di laut berkat nikmat Allah agar Dia memperlihatkan kepadamu sebagian dari tanda-tanda (kebesaran)-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi setiap orang yang sangat sabar dan banyak bersyukur.

Makna Surat Luqman Ayat 31
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Allah memaparkan fenomena-fenomena di bumi yang menjadi bukti kekuasaan dan keesaan-Nya. Wahai orang yang berakal, tidakkah engkau memperhatikan bahwa sesungguhnya kapal itu berlayar di laut dan tidak tenggelam dengan berkat rahmat Allah melalui pengetahuan yang Dia anugerahkan kepadamu sehingga bisa mengangkut barang-barang yang engkau butuhkan sebagai nikmat Allah, agar dengan itu semua diperlihatkan-Nya kepadamu sebagian dari tanda-tanda kebesaran-Nya. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kebesaran-Nya bagi setiap orang yang sangat sabar dalam menghadapi ujian-Nya dan banyak bersyukur atas nikmat-Nya.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Pada ayat ini, Allah memerintahkan agar manusia melihat tanda-tanda kekuasaan dan kebesaran-Nya yang ada di bumi dengan mengatakan, “Apakah tidak engkau perhatikan, hai Muhammad, bahtera yang berlayar di lautan yang menghubungkan negeri-negeri yang berjauhan letaknya.” Dengan adanya hubungan itu, penduduk suatu negeri akan mengenal penduduk negeri lain. Keperluan dan kebutuhan rakyat yang tidak ada di negerinya dapat diambil dan diangkut oleh kapal-kapal dari negeri-negeri yang lain, seperti bahan makanan, pakaian, obat-obatan, perhiasan, mesin-mesin, dan sebagainya. Dengan adanya kapal-kapal itu, seakan-akan hu-bungan antara bangsa-bangsa dan negara-negara dewasa ini semakin dekat.

Kapal dibuat pertama kali oleh Nabi Nuh sesuai dengan perintah Allah dalam misi penyelamatan manusia beriman ditambah dengan sejumlah pasangan hewan (lebih lanjut baca Surah Hūd/11: 40). Namun demikian, dengan kemampuan berpikir manusia, maka teknologi kapal berkembang. Kapal tidak saja dibuat dari bahan kayu saja bahkan sudah berkembang dengan menggunakan logam. Walaupun akhir-akhir ini dengan berkembangnya teknologi bahan, manusia telah mampu “meramu” dari bahan yang tersedia menjadi bahan yang lebih ringan, kompak, mudah dibentuk, kuat, tahan cuaca, dan tahan benturan. Besi yang mestinya tenggelam, karena massa jenis logam jauh lebih besar di atas massa jenis air, tetapi dengan pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), yakni dengan menerapkan hukum Archimides (fisika), maka besi tadi dapat mengapung di permukaan air. Hakikatnya hukum fisika itu adalah ketetapan Allah. Ketetapan Allah yang dapat dirasakan manfaatnya dalam kehidupan manusia. Itulah nikmat Allah yang sesungguhnya.

Semua yang diterangkan Allah itu adalah bukti-bukti atas kekuasaan dan kebesaran-Nya yang nyata bagi orang-orang yang sabar dalam menghadapi segala macam cobaan dan kesukaran, serta bagi orang-orang yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah yang telah dilimpahkan kepadanya. Tanda orang bersyukur kepada Allah itu ialah dengan menyatakan ungkapan syukur dalam bentuk perkataan atau perbuatan ketika menerima nikmat itu.

Asy-Sya’bī berkata, “Sabar itu adalah sebagian dari iman, syukur itu adalah sebagian iman, dan yakin adalah iman seluruhnya. Tidakkah engkau perhatikan firman Allah yang terdapat pada akhir ayat ini dan firman-Nya: “wa fi al-arḍi āyātun li al-muqinīn” (dan pada bumi itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang yakin) dan sabda Rasulullah saw:

اَلْاِيْمَا نُ نِصْفَانِ نِصْفٌ فِى الصَّبْرِ وَنِصْفٌ فِى الشُّكْرِ. (رواه البيهقى عن أنس)

Iman itu ada dua bagian, yaitu sebagian dalam sabar dan sebagian dalam syukur. (Riwayat al-Baihaqī dari Anas)

Isi Kandungan Kosakata

Khattārin Kafūr خَتَّارٍ كَفُوْرٍ (Luqmān/31: 32)

Kata khattār adalah isim mubalagah yang berasal dari kata khatara-yakhturu yang berarti berkhianat dan menipu, atau sangat tidak setia. Ada yang berpendapat khatara adalah bentuk pengkhianatan yang paling keji. Dalam sebuah hadis disebutkan mā khatara qaum bi al-’ahdi illā sulliṭa ‘alaihim al-’aduw. Kata khatr juga mengandung arti kerusakan. Kata ini juga berarti sesuatu yang diambil tatkala meminum obat atau racun.

Sedangkan kata kafūr terambil dari akar kata kafara-yakfuru yang merupakan antonim dari kata iman. Kata ini terulang dalam Al-Qur’an sebanyak empat kali. Secara bahasa kata kafara berarti menutupi sesuatu secara keseluruhan. Malam (al-lail) disebut kafir karena dengan gelapnya bisa menutupi semua yang awalnya bisa dilihat. Awan disebut juga kafir karena menutupi cahaya matahari. Orang Arab menyebut petani dengan kafir karena petani menutup biji-bijian dengan tanah. Salah satu bentuk hukuman dalam Islam disebut dengan kafarat, seakan-akan pekerjaan itu menutupi dosa yang dilakukannya. Lebih lanjut, kata kafara dipergunakan untuk mereka yang tidak mempercayai keesaan Allah. Hal ini dikarenakan mereka telah menutupi pintu hatinya untuk memahami ayat-ayat Allah.

Kata kafara mengandung dua pengertian: pertama, kafir dalam arti tidak beriman, tidak mengakui syariat Allah dan tidak mengakui kenabian para nabi. Kelompok inilah yang disebut dengan kafir yang menyebabkannya keluar dari agama Islam (murtad).

Kedua, penggunaan kata kafir untuk hal-hal lain yang tidak menyebab-kannya masuk dalam kelompok orang-orang tidak beriman. Makna kedua ini mengandung pengertian pembangkangan dan tidak melaksanakan suatu perintah. Penggunaan kata terakhir ini seperti dalam istilah kufur nikmat, tidak diartikan dengan kafir dalam makna keluar dari agama Islam. Kufur nikmat ini diartikan dengan menutup nikmat yang diberikan oleh Allah dengan tidak melaksanakan tata cara bersyukur. Kalimat kafūr diartikan dengan mereka yang sudah melewati batas dalam kufur nikmat (al-Ḥajj/22: 66).

Ayat ini menjelaskan tentang sikap orang-orang kafir yang kembali ingkar dan tidak setia dengan perjanjian awal mereka. Dalam ayat ini diterangkan bahwa jika orang-orang kafir berlayar di lautan dan dihempaskan oleh ombak laut yang besar, pada saat itu mereka mengakui akan keesaan Allah dan meminta untuk diselamatkan. Akan tetapi, setelah Allah menyelamatkan mereka, sebagian tetap mengakui keesaan-Nya, namun sebagian lagi ingkar dan melanggar kesetiaan (khattār kafūr) yang pernah mereka ikrarkan ketika berada dalam musibah (di atas perahu).

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto