Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
User Photo Profile
Review Lagu • 1 tahun lalu
Album Artwork
Nyanyian Surau
Folk, Indie, Pop
2018 • 5:20 • Track 4/7
Fourtwnty
  • Tentang
  • Lirik
  • Review
  • Tracklist
  • Komentar
Makna Lagu
Lagu ini mengisahkan perjalanan emosional seseorang yang berjuang menghadapi trauma dan kerinduan masa lalu. Dengan lirik yang puitis, ia menggambarkan kebingungan dan kelelahan mental, mencari pengakuan, dan refleksi terhadap pengalaman hidup yang menyakitkan. Peta dan surau tua melambangkan pencarian makna dan ketenangan.
Makna Lirik
Transisi kata ke kataku mulai terbata-bata
Berjalan ke mana jiwa lamaku kapan lagi bernostalgia
Kelopak mataku lelah menjabarkan arti malaya
Melanda redup tantrumku

Lirik ini menggambarkan perasaan penulis yang sedang dalam kondisi transisi, di mana kata-... tampilkan semua

Bait ke bait mulai kurakit menari paras sakitku
Hingga sulit ′ku berdamai dengan nalar tak terkontaminasi

Dalam bait ini, penulis merangkai kata-kata yang mencerminkan sakit emosional dan mentalny... tampilkan semua

Merasa haus dipuji
Hingga 'ku lupa diri

Lirik yang singkat ini merujuk pada perasaan haus atau keinginan yang besar untuk dipuji d... tampilkan semua

Mati suri rasa canduku

Frasa ini menggambarkan situasi di mana kecanduan atau kebiasaan lama telah mengalami jeda... tampilkan semua

Sudah pernah hilang
Sudah pernah di alam sana
Sudah pernah gila
Sudah pernah di dalam sana

Lirik ini menceritakan perjalanan emosional atau pengalaman hidup yang kelam dan intens. P... tampilkan semua

Berbekal selembar peta
Berakhir di surau tua

Dengan mengandalkan selembar peta, penulis menggambarkan perjalanan yang akhirnya membawa ... tampilkan semua

Review Lagu

Dalam industri musik Indonesia, grup musik Fourtwnty selalu berhasil menyajikan lirik yang puitis dan mendalam, dan lagu "Nyanyian Surau" adalah salah satu contoh terbaik dari gaya mereka. Dengan tema yang mendalam dan refleksi jiwa, lagu ini mengajak pendengarnya untuk merenungkan kembali perjalanan hidup dan makna dari pengalaman yang telah dilalui.

Analisis Lirik

Lagu ini dibuka dengan penyampaian yang cukup emosional, yang terlihat jelas dari kalimat:

"Transisi kata ke kataku mulai terbata-bata"

Kalimat ini menggambarkan kesulitan dalam mengekspresikan perasaan dan pikirannya. Ada nuansa kerinduan dan ketidakpastian yang dirasakan ketika seseorang mencoba untuk mengartikulasikan perasaannya.

Selanjutnya, ia melanjutkan dengan:

"Berjalan ke mana jiwa lamaku kapan lagi bernostalgia"

Frasa ini menunjukkan keinginan untuk kembali ke masa lalu, mencari momen yang berharga dan mungkin mencerminkan kehilangan. Nostalgia sering kali menjadi pelarian ketika kita dihadapkan dengan kenyataan hidup yang keras.

Menggali lebih dalam, lirik selanjutnya:

"Kelopak mataku lelah menjabarkan arti malaya"

Di sini, kata "malaya" tampaknya menyoroti kebebasan atau kondisi tanpa batasan, namun di sisi lain juga menandakan rasa lelah dalam memperjuangkan makna dari kebebasan itu sendiri. Setiap usaha untuk memahami selalu diwarnai dengan perjuangan batin yang berat.

Konflik Internal

Konflik batin yang dialami oleh penyanyi tergambar jelas dalam bait:

"Hingga sulit 'ku berdamai dengan nalar tak terkontaminasi"

Ini menciptakan gambaran seseorang yang terjebak antara realitas dan sebuah idealisme. Ada keinginan untuk memiliki pikiran yang jernih, namun menghadapi banyak pengaruh eksternal yang sering kali mengganggu. Hal ini menciptakan keresahan yang mendalam dalam diri.

Pada bagian lain, ia mengekspresikan:

"Merasa haus dipuji hingga 'ku lupa diri"

Rasa haus akan pengakuan dan pujian sering kali membuat seseorang kehilangan arah. Perasaan ini adalah refleksi umum di era modern saat ini, di mana banyak orang mungkin terjebak dalam pencarian validasi dari orang lain.

Patah Hati dan Kebangkitan

Refleksi mendalam berlanjut dengan:

"Sudah pernah hilang, sudah pernah di alam sana"

Frasa ini mencerminkan pengalaman kehilangan dan perjalanan menuju penerimaan. Ada pengakuan akan masa lalu yang berkaitan dengan kekecewaan dan keputusasaan—sebuah perjalanan emosional yang penuh liku-liku.

Penutup yang Filosofis

Di akhir lirik, ditemukan:

"Berbekal selembar peta, berakhir di surau tua"

Kata "surau tua" di sini bisa diartikan sebagai tempat refleksi dan ketenangan. Ini menunjukkan bahwa setelah melalui berbagai pengalaman hidup yang penuh tantangan, individu akhirnya menemukan tempat bernostalgia dan merenungi perjalanan yang telah dilalui.

Kesimpulan

Lagu "Nyanyian Surau" oleh Fourtwnty adalah sebuah perjalanan emosional yang berhasil menangkap perasaan nostalgia, kehilangan, dan pencarian identitas. Dengan lirik yang mendalam dan puitis, Fourtwnty berhasil menyuguhkan refleksi jati diri yang bagi banyak orang mungkin sangat relatable. Melalui alunan melodi dan lirik yang menyentuh hati, pendengar tidak hanya disuguhkan dengan hiburan, tetapi juga disajikan pemikiran mendalam tentang hidup dan perjalanan seseorang.

Tracklist Album

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto