
- Tentang
- Lirik
- Review
- Tracklist
- Komentar
Mendengung gendang telingaku
Memecah bising kala itu
Terlihat jiwa-jiwa layu
Terlentang di depan mataku
Lirik ini menggambarkan suasana kacau yang memengaruhi indera pendengaran seseorang, denga... tampilkan semua
Teror mengecamku
Teror melumpuhkanmu
Trilogi otak bersatu
Trilogi hingga membatu
Bagian lirik ini berbicara tentang teror yang mengancam dan melumpuhkan jiwa, baik secara ... tampilkan semua
Dan langit memerah
Semesta pun marah
Bumiku berdarah
Penggambaran langit yang memerah dan semesta yang marah dapat diartikan sebagai amarah ala... tampilkan semua
Meradang egoku
Meradang tangisku
Menghadang tawamu
Lirik ini menampilkan pergulatan batin antara ego dan emosi seseorang. Meradang menandakan... tampilkan semua
Meradang egoku
Meradang tangisku
Menghalang tawamu
Dalam lirik ini, meradang menunjukkan ketidakpuasan dan perlawanan batin terhadap kondisi ... tampilkan semua
Sesal dan 'ku malu
Tangisanku tak membantuku
Akhirnya nelangsa
Yang menjamahku
Menjamah aku
Lirik ini menggambarkan penyesalan dan rasa malu yang mendalam, di mana tangisan tidak mam... tampilkan semua
Maafkan ini karenaku
Biang masalah masa lalu
Bertemu faham-faham itu
Simpang siur kini namaku
Lirik ini mengisahkan permintaan maaf atas kesalahan masa lalu yang mengganggu masa kini. ... tampilkan semua
Lagu "Trilogi," yang dinyanyikan oleh Fourtwnty dan Reza Matajiwa, merupakan sebuah karya musik yang sarat makna. Liriknya menggambarkan perjalanan emosional yang mendalam, berpadu dengan nuansa melankolis yang mengundang pendengar untuk merenungkan berbagai aspek kehidupan.
Penggalan Lirik dan Maknanya
Lagu ini dimulai dengan bait yang menggugah perhatian:
"Mendengung gendang telingaku / Memecah bising kala itu". Dalam baris ini, kita disuguhkan dengan nuansa kebisingan yang mungkin melambangkan kekacauan atau kerumunan di sekitar. Namun, ada juga unsur introspeksi, di mana suara gendang bisa dianggap sebagai panggilan untuk menyadari keadaan batin yang mengganggu.
- "Terlihat jiwa-jiwa layu / Terlentang di depan mataku": Ini mencerminkan kepedihan dan kehilangan, menggambarkan situasi di mana banyak orang terjebak dalam kesedihan atau ketidakberdayaan.
- "Teror mengecamku / Teror melumpuhkanmu": Keduanya menciptakan gambaran tentang tekanan hidup yang dapat menghancurkan seseorang, memberikan nuansa pesimis yang penuh dengan kesedihan.
Trilogi Emosi
Selanjutnya, lirik menjelaskan tentang trilogi otak yang bersatu dan hingga membatu. "Trilogi hingga membatu" menggambarkan bagaimana berbagai pengalaman dan emosi bisa menyatu hingga membentuk sebuah kesadaran yang kokoh, meskipun menyakitkan.
"Dan langit memerah / Semesta pun marah / Bumiku berdarah" menonjolkan kontras antara keindahan alam dan kehampaan emosional. Merahnya langit bisa diartikan sebagai tanda bahaya atau peringatan, seolah mengisyaratkan akan adanya ketidakadilan yang harus dihadapi.
Pertikaian dengan Diri Sendiri
Pembicaraan tentang ego yang meradang menunjukkan pertikaian internal yang dialami oleh individu. "Meradang egoku / Meradang tangisku" menandakan ketidakpuasan, di mana tangisan dan ego berperang satu sama lain, menciptakan kegelisahan yang mendalam.
- "Menghadang tawamu": Ini menunjukkan pergeseran emosi dari kebahagiaan menuju kesedihan, menciptakan gambaran tentang bagaimana keterpurukan dapat menghalangi kebahagiaan yang seharusnya.
Kesadaran dan Penyesalan
Bait-bait berikutnya menyiratkan penyesalan dan kesadaran diri: "Sesal dan 'ku malu / Tangisanku tak membantuku". Dari sini, kita dapat merasakan nuansa penyesalan yang mendalam, di mana kesalahan masa lalu terus menghantui dan sulit untuk dilupakan.
"Akhirnya nelangsa / Yang menjamahku / Menjamah aku": Ini menunjukkan keadaan putus asa yang penuh rasa sakit dan keinginan untuk membebaskan diri dari beban tersebut.
Tanggung Jawab Terhadap Masa Lalu
Di bagian akhir, lirik menekankan "Maafkan ini karenaku / Biang masalah masa lalu", yang mencerminkan kesadaran akan beban masa lalu yang diakibatkan oleh diri sendiri. Penyesalan dan pengertian akan dampak dari tindakan dan keputusan yang diambil menjadi bagian dari proses penyembuhan.
Dengan segala kompleksitas yang diusung, lagu "Trilogi" dari Fourtwnty dan Reza Matajiwa berhasil mengajak pendengarnya untuk merenung tentang kondisi kehidupan, serta pentingnya pemahaman diri dan penerimaan terhadap masa lalu. Melalui nada yang melankolis dan lirik yang puitis, kita diajak untuk merasakan dan merenungkan perjalanan emosional yang sering kali kita alami dalam kehidupan.
Kesimpulan
"Tri logi" bukan sekadar sebuah lagu; ia adalah sebuah narasi yang menggambarkan perjalanan seseorang berusaha memahami diri dan lingkungan sekitarnya. Dalam setiap baitnya, terdapat pelajaran berharga tentang kesadaran, tanggung jawab, dan perjalanan menuju penerimaan yang mendalam. Karya ini layak untuk diresapi lebih dalam, sebagai pengingat akan sisi emosional yang ada dalam diri kita setiap hari.














































