قَالَ رَبِّ اجْعَلْ لِّيْٓ اٰيَةً ۗقَالَ اٰيَتُكَ اَلَّا تُكَلِّمَ النَّاسَ ثَلٰثَ لَيَالٍ سَوِيًّا
Qāla rabbij‘al lī āyah(tan), qāla āyatuka allā tukalliman-nāsa ṡalāṡa layālin sawiyyā(n).
Dia (Zakaria) berkata, “Wahai Tuhanku, berilah aku suatu tanda.” (Allah) berfirman, “Tandanya bagimu ialah bahwa engkau tidak dapat bercakap-cakap dengan manusia selama (tiga hari) tiga malam, padahal engkau sehat.”
Berita itu menggembirakan sekaligus mengejutkan Nabi Zakaria. Untuk memastikannya, dia berkata, “Ya Tuhanku, berilah aku suatu tanda yang menambah keyakinanku pada berita itu. Bukan aku tidak percaya akan kekuasaan-Mu, namun ini adalah hal yang luar biasa bagiku.” Menjawab permohonan Nabi Zakaria, Allah berfirman, “Tanda yang Aku berikan kepada-mu agar kaupercaya sepenuhnya ialah bahwa engkau tidak akan dapat bercakap-cakap dengan manusia di sekelilingmu selama tiga hari tiga malam, kecuali dengan memberi isyarat, padahal sesungguhnya engkau sehat dan tidak menderita penyakit apa pun.”
Kemudian Nabi Zakaria memohon kembali kepada Allah supaya diberi tanda-tanda bahwa anaknya itu segera akan dilahirkan, agar hatinya tambah tenteram dan rasa syukurnya bertambah dalam. Beliau berkata, “Ya Tuhanku, berilah aku suatu tanda yang dapat menambah ketenteraman hatiku tentang terlaksananya janji engkau itu.” Hal seperti ini pernah terjadi pula pada Nabi Ibrahim a.s. ketika ditanya, “Apakah engkau belum percaya bahwa Allah kuasa menghidupkan yang telah mati?” Beliau menjawab, “Sungguh aku percaya, akan tetapi aku bertanya supaya bertambah tenteram hatiku.” Sebagaimana tersebut dalam firman Allah:
وَاِذْ قَالَ اِبْرٰهٖمُ رَبِّ اَرِنِيْ كَيْفَ تُحْيِ الْمَوْتٰىۗ قَالَ اَوَلَمْ تُؤْمِنْ ۗقَالَ بَلٰى وَلٰكِنْ لِّيَطْمَىِٕنّ َ قَلْبِيْ ۗقَالَ فَخُذْ اَرْبَعَةً مِّنَ الطَّيْرِ فَصُرْهُنَّ اِلَيْكَ ثُمَّ اجْعَلْ عَلٰى كُلِّ جَبَلٍ مِّنْهُنَّ جُزْءًا ثُمَّ ادْعُهُنَّ يَأْتِيْنَكَ سَعْيًا ۗوَاعْلَمْ اَنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ ࣖ ٢٦٠
Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata, ”Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati.” Allah berfirman, ”Belum percayakah engkau?” Dia (Ibrahim) menjawab, ”Aku percaya, tetapi agar hatiku tenang (mantap).” Dia (Allah) berfirman, ”Kalau begitu ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah olehmu kemudian letakkan di atas masing-masing bukit satu bagian, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera.” Ketahuilah bahwa Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana. (al-Baqarah/2: 260)
1. Nidā’an Khafiyyā نِدَاءً خَفِيًّا (Maryam/19: 3)
Artinya: suara yang lembut. Nidā’ pada mulanya adalah menunjukkan arti panggilan. Jika memanggil kepada Allah disebut doa atau keluh kesah. Pada ayat ini Nabi Zakariya memanggil/berdoa kepada Tuhannya dengan suara lembut yang tersirat di dalamnya doa dan harapan. Cara berdoa seperti ini berarti keluh kesah yang muncul dari relung hati yang terdalam yang menunjukkan keikhlasan. Ada sekitar 8 keluh kesah dan pengharapan/doa. 4 keluhan dan pengharapan, yaitu lemahnya tulang, banyaknya uban di kepala, tidak pernah kecewa berdoa kepada Tuhannya, kekhawatiran terhadap mawali-mawalinya sepeninggalnya, kemandulan isterinya, sedangkan doanya ialah: Agar dia diberi putera/keturunan, Yang bisa mewarisinya dan mewarisi keluarga Yakub; Agar menjadi orang yang diridai Allah.
2. al-Mawāli اَلْمَوَالِي (Maryam/19: 5)
Al-Mawāli adalah bentuk jamak dari mawla. Akar katanya dari (و- ل-ي) yang mempunyai arti dekat. Kedekatan bisa dalam aspek tempat, nasab, agama, pertemanan, dan akidah. Dari sini kata wali/maula berkembang pada berbagai macam penggunaan seperti teman akrab, tetangga, penolong, anak paman dari jalur ayah, hamba sahaya yang dimerdekakan dan orang yang memerdekakan hamba sahaya. Al-Wala’ berarti loyalitas kepada yang lain karena dia terus menerus dekat dengan sesuatu tersebut. Al-Qur’an menggunakan kata "mawāli" dalam bentuk jamak di tiga tempat yaitu surah an-Nisā’/4:33, Maryam/19:5, dan al-Aḥzāb/33:5. Pada dua tempat pertama kata mawāli berarti para ahli waris, atau anak-anak paman. Sementara pada Surah al-Aḥzāb berarti hamba sahaya.

