قَالَ كَذٰلِكِۚ قَالَ رَبُّكِ هُوَ عَلَيَّ هَيِّنٌۚ وَلِنَجْعَلَهٗٓ اٰيَةً لِّلنَّاسِ وَرَحْمَةً مِّنَّاۚ وَكَانَ اَمْرًا مَّقْضِيًّا
Qāla każālik(a), qāla rabbuka huwa ‘alayya hayyin(un), wa linaj‘alahū āyatal lin-nāsi wa raḥmatam minnā, wa kāna amram maqḍiyyā(n).
Dia (Jibril) berkata, “Demikianlah.” Tuhanmu berfirman, “Hal itu sangat mudah bagi-Ku dan agar Kami menjadikannya sebagai tanda (kebesaran-Ku) bagi manusia dan rahmat dari Kami. Hal itu adalah suatu urusan yang (sudah) diputuskan.”
Menjawab keheranan Maryam, dia, yaitu Jibril, berkata, “Demikianlah. Benarlah semua yang kaukatakan. Namun, Tuhanmu berfirman, ‘Hal itu, yakni kelahiran anak tanpa hubungan suami istri, adalah hal mudah bagi-Ku. Ini adalah anugerah bagimu dan sekaligus agar Kami dapat menjadikannya sebagai suatu tanda yang nyata tentang kebesaran dan kekuasaan-Ku bagi manusia, dan sebagai rahmat dari Kami untuk orang yang mau menjadikan peristiwa ini sebagai petunjuk. Apa saja yang terjadi, dan demikian juga hal ini, yaitu kelahiran anak tanpa melalui hubungan seksual, adalah suatu urusan yang sudah diputuskan. Karena itu, terimalah ketentuan ini dengan ikhlas.”
Jibril menjawab pertanyaan Maryam dengan mengatakan bahwa Maryam akan mendapat seorang anak laki-laki walaupun tidak bersuami ataupun tidak mengadakan hubungan dengan laki-laki; karena yang demikian itu adalah kehendak Allah Yang Mahakuasa dan yang demikian itu mudah bagi-Nya. Allah menjadikan seorang putra dari Maryam itu agar menjadi bukti bagi manusia atas kekuasaan-Nya. Pemberian putra kepada Maryam sebagai rahmat dari Allah karena kelak anak laki-laki itu akan menjadi seorang Nabi yang menyeru kepada jalan kebahagiaan dunia dan akhirat. Dan itu adalah keputusan Allah yang tidak dapat dirubah lagi.”
1. Gulāman Zakiyyā غُلَامًا زَكِيًّا (Maryam/19: 19)
Artinya Seorang putra yang bersih. Gulāmun, jamak aglimah, gilmah dan gilmān, anak, dari yang baru lahir sampai memasuki usia remaja, Zakï, bersih dan baik, suci, yang dimaksud dengan zaki ialah suci bersih, sesuai dengan sifat seorang nabi. Gulām, yakni anak laki-laki, putra yang akan dilahirkan dengan tambahan zakiyya, yang bersih, suci, bukan sembarang anak, untuk menghilangkan rasa takut, heran dan ragu pada Maryam ketika didatangi oleh laki-laki (malaikat) tidak dikenal itu, benarkah ia bertakwa? Bagaimana ia akan mendapatkan anak padahal tidak bersentuhan dengan laki-laki mana pun dan bukan perempuan nakal. Maka anak inilah yang kemudian dikenal sebagai Nabi, sebagai Isa Almasih putra Maryam, Nabi yang membawa tugas kepada masyarakat sekitarnya.
2. Amran Maqḍiyyā اَمْرًا مَقْضِيًّا(Maryam/ 19: 21)
Artinya: suatu perkara yang sudah diputuskan. Sesuatu yang telah diputuskan berarti tidak akan ada lagi perubahan. Kata maqḍiyya adalah bentuk isim maf`ul dari qaḍa. Al-Qaḍa adalah memutuskan satu perkara baik berupa perkataan atau pekerjaan. Keduanya bisa terkait dengan Allah atau manusia. Contoh qaḍa yang terkait dengan Allah adalah perintahnya kepada manusia untuk tidak menyekutukan-Nya (lihat al-Isrā’/17:23). Sedangkan yang terkait dengan manusia adalah seperti pekerjaan manasik haji yang sudah diselesaikan oleh orang yang berhaji (al-Baqarah/2:200)

