اَفَرَاَيْتَ الَّذِيْ كَفَرَ بِاٰيٰتِنَا وَقَالَ لَاُوْتَيَنَّ مَالًا وَّوَلَدًا ۗ
Afa ra'aital-lażī kafara bi'āyātinā wa qāla la'ūtayanna mālaw wa waladā(n).
Lalu, apakah engkau melihat orang yang kufur terhadap ayat-ayat Kami dan dia mengatakan, “(Di akhirat) pasti aku akan diberi harta dan anak.”
Uraian tentang sikap orang yang mengingkari hari kebangkitan dilanjutkan dengan tanggapan atas keingkaran mereka. Wahai Nabi Muhammad, lalu apakah engkau telah melihat sikap dan jawaban orang yang mengingkari ayat-ayat Kami karena lebih memilih persoalan duniawi sehingga mengingkari hari kebangkitan, dan dia dengan angkuh mengatakan, “Pasti aku akan diberi harta yang banyak untuk memenuhi semua keperluan dan anak yang aku banggakan dan akan menolongku dari semua persoalan.”
Pada ayat ini Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw supaya memperhatikan bagaimana sombong dan angkuhnya orang kafir itu yang berani mengatakan bahwa di akhirat nanti mereka akan dianugerahi harta dan anak yang banyak. Meskipun ucapan itu seakan-akan menunjukkan bahwa mereka mempercayai hari kebangkitan tetapi sebenarnya mereka tidak percaya sama sekali akan adanya hari kebangkitan. Ucapan seperti itu hanya sebagai cemoohan dan olok-olok terhadap kepercayaan orang mukmin dengan pengertian bahwa jika benar-benar Khabab bin Arat percaya akan hari kebangkitan biarlah utangnya itu dibayar pada hari kebangkitan. Sekarang dia tidak mau membayarnya karena Khabbab beriman dengan Muhammad. Cemoohan itu ditambah lagi dengan mengatakan bahwa dia akan kaya dan banyak anak nanti di akhirat. Alangkah beraninya dia mengada-adakan sesuau yang tidak diketahuinya sama sekali, sedang dia sendiri mengingkari hal-hal yang gaib.
1. Al-Gaib اَلْغَيْبِ (Maryam/19: 78)
اَلْغَيْبِ artinya yang tersembunyi, rahasia dan tidak tampak. Lawan dari ‘ālam gaib ialah ‘ālam al-syahādah yaitu alam lahir yang tampak, dapat ditangkap pancaindera, dapat dilihat, dapat diraba, dapat didengar, dan sebagainya. Jika pada ayat 77 surah Maryam diterangkan bahwa orang kafir telah memastikan bahwa dirinya akan kaya dan memiliki banyak anak, maka pada ayat 78 ini kepada orang kafir dipertanyakan, apakah orang kafir mengetahui yang gaib dan tersembunyi, atau telah ada perjanjian dengan Allah bahwa ia akan diberi banyak harta dan anak. Istifhām atau kalimat tanya disini dalam ilmu balagah berarti ingkari, yaitu tidak mungkin orang kafir mengetahui yang gaib dan juga tidak mungkin Allah telah membuat janji kepada orang kafir untuk memberi banyak harta dan anak. Hal ini hanya menunjukkan kesombongan orang kafir saja bahwa ia tidak perlu beriman dan mengikuti petunjuk Nabi Muhammad, karena ia kaya dan banyak anak yang dianggap sebagai pertanda kehidupannya telah diridai Allah. Padahal sebetulnya tidak demikian, anggapan orang kafir sangat keliru.
2. Maddā مَدًّا (Maryam/19: 79)
Lafal مدّا adalah masdar dari fi’il مدّ -يمدّ -مدّا artinya memperpanjang, membentangkan. مدّا dalam kalimat sebagaimana pada ayat 79 surah Maryam ini berfungsi sebagai maf’ul muṭlaq, yaitu maf’ul dengan mempergunakan masdar dari fi’il yang dipergunakan pada kalimat tersebut, artinya untuk ta’kid atau memperkuat yang disebutkan fi’il, atau menunjukkan kualitas sifat atau corak dari perbuatan yang disebutkan fi’il tersebut. Maka firman Allah dalam kalimat wa namuddu lahū minal-‘ażābi maddā artinya Kami akan memperpanjang azab baginya dengan sempurna. Menyempurnakan azab ini adalah penegasan Allah setelah pada awal ayat ini Allah mengatakan, “Tidak, sama sekali tidak,” Allah tidak akan memberikan seperti yang dikatakan orang kafir ini yaitu katanya akan diberi harta dan anak pada hari akhir nanti, karena bukan saatnya pada hari akhir dan hari kebangkitan itu untuk mengembangbiakkan keturunan. Yang pasti pada hari kebangkitan itu orang-orang kafir akan mendapat azab yang berat dan terus-menerus.






























