وَّحَنَانًا مِّنْ لَّدُنَّا وَزَكٰوةً ۗوَكَانَ تَقِيًّا ۙ
Wa ḥanānam mil ladunnā wa zakāh(tan), wa kāna taqiyyā(n).
(Kami anugerahkan juga kepadanya) rasa kasih sayang (kepada sesama) dari Kami dan bersih (dari dosa). Dia pun adalah seorang yang bertakwa.
Selain pemahaman tentang kandungan Taurat, Kami jadikan pula dia pemuda yang santun dan memiliki rasa kasih sayang kepada sesama. Inilah anugerah dari Kami dan Kami jadikan dia orang yang bersih dari dosa. Dan dia pun seorang yang bertakwa dan taat pada aturan-aturan Allah.
Allah menjadikan Nabi Yahya itu seorang yang memiliki rasa belas kasihan kepada sesama manusia terutama fakir miskin sebagaimana Allah menjadikan Nabi Muhammad saw memiliki perasaan yang sama, seperti tercantum dalam firman Allah:
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ
Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. (Āli ‘Imrān/3: 159)
Dan firman Allah:
لَقَدْ جَاۤءَكُمْ رَسُوْلٌ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ عَزِيْزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيْصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِي ْنَ
Sungguh, telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, (dia) sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman. (at-Taubah/9: 128)
Sifat Nabi Yahya juga bersih dari syirik dan selalu menjauhkan diri dari setiap perbuatan yang menyebabkan kemurkaan Allah. Beliau selalu bertakwa melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangannya.
1. Bi quwah بِقُوَّةٍ (Maryam/19:12)
Artinya dengan sungguh-sungguh. Kata quwwah dalam Al-Qur’an kebanyakan memakai isim nakirah kecuali pada tiga tempat saja yang memakai isim makrifat yaitu pada surah aż-Żāriyāt/51:58 (żul quwwah) dan al-Baqarah/2:165 (annal-quwwah) dan al-Qaṣaṣ/28:76 (ulul quwah). Penggunaan kata quwwah dalam isim nakirah mempunyai arti bahwa kekuatan dan keteguhan dalam ha1 yang menjadi bahan pembicaraan itu sedemikian rupa, tak bisa dibayangkan kadarnya. Pada ayat ini Nabi Yahya diperintahkan untuk mengambil kitab Taurat dengan segala keteguhan, kesungguhan dan keyakinan yaitu dengan membacanya secara baik, benar dan serius, lalu memahami maknanya dan mengamalkan isi kandungannya. Seorang yang memegang satu tali dengan kuat dan erat, tidak akan mudah lepas.
2. Ḥanānā حَنَانًا (Maryam/19:13)
Ḥanānā artinya rasa belas kasihan yang mendalam. Kata al-ḥanīn dipergunaan untuk rasa kerinduan yang mendalam, atau belas kasihan. Perasaan ini kadangkala disertai dengan suara yang memelas. Dari sini maka kata al-ḥanīn digunakan untuk rasa belas kasihan sama orang lain, sehingga identik dengan rahmah. Pada ayat ini Nabi Yahya diberi anugerah oleh Allah berupa pemberian hikmah atau pemahaman terhadap kitab Taurat, dan pemahaman yang mendalam terhadap agama selagi masih kanak-kanak, kesucian dan mempunyai rasa belas kasihan kepada orang lain.

