ذٰلِكَ بِاَنَّ اللّٰهَ مَوْلَى الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَاَنَّ الْكٰفِرِيْنَ لَا مَوْلٰى لَهُمْ ࣖ
Żālika bi'annallāha maulal-lażīna āmanū wa annal-kāfirīna lā maulā lahum.
Hal itu (terjadi) karena Allah pelindung bagi orang-orang yang beriman, sedangkan orang-orang kafir tidak mempunyai pelindung.
karena Allah pelindung bagi orang-orang yang beriman yang melindungi mereka dan memberikan pertolongan; sedang orang-orang kafir tidak ada pelindung bagi mereka yang dapat menyelamatkan dari kehancuran.
Ayat ini menjelaskan tentang keadaan orang mukmin dan orang kafir di dunia dan sebab orang musyrik ditimpa malapetaka. Orang musyrik tidak mempunyai seorang penolong pun untuk menolak azab yang datang menimpa mereka, sedangkan orang mukmin mempunyai penolong, yaitu Allah Yang Mahakuasa dan Maha Penolong.
Dammarallāh دَمَّرَ اللّٰهُ (Muḥammad/47: 10)
Kata dammarallāh merupakan ungkapan yang terdiri dari dua kata, yaitu dammara dan Allāh. Yang pertama, yaitu dammara, merupakan kata kerja dalam bentuk māḍī (lampau) yang artinya menghancurkan. Sedang yang kedua, yaitu Allah, artinya Tuhan satu-satunya yang menjadi tujuan ibadah, pencipta alam, dan pengatur segala makhluk-Nya.
Kata ini merupakan jumlah fi‘liyyah (kalimat verbal), yaitu kalimat yang menunjukkan keaktifan kata kerja. Dengan demikian, Allah merupakan subjek, dan dammara merupakan predikatnya. Sedang yang dihancurkan adalah umat-umat masa lalu yang ingkar kepada seruan rasul. Kaum-kaum yang dihancurkan itu antara lain kaum ‘Ad, Samud, kaum Nuh, kaum Lut, dan lain sebagainya. Penyebutan kata tersebut ditujukan untuk mengingatkan kaum kafir Mekah yang selalu menyaksikan peninggalan umat-umat tersebut. Dengan melihat bekas-bekas mereka, diharapkan orang kafir Mekah dapat menyadari akibat yang akan diterima bila mereka mendustakan rasul yang diutus kepada mereka. Selanjutnya dengan memahaminya, mereka diharapkan akan dapat menyadari kekeliruan itu dan mau mengikuti petunjuk yang dibawa Rasulullah saw.














































