Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 12 - Surat Muḥammad (Nabi Muhammad)
محمّد
Ayat 12 / 38 •  Surat 47 / 114 •  Halaman 508 •  Quarter Hizb 51.5 •  Juz 26 •  Manzil 6 • Madaniyah

اِنَّ اللّٰهَ يُدْخِلُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ ۗوَالَّذِيْنَ كَفَرُوْا يَتَمَتَّعُوْنَ وَيَأْكُلُوْنَ كَمَا تَأْكُلُ الْاَنْعَامُ وَالنَّارُ مَثْوًى لَّهُمْ

Innallāha yudkhilul-lażīna āmanū wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti jannātin tajrī min taḥtihal-anhār(u), wal-lażīna kafarū yatamatta‘ūna wa ya'kulūna kamā ta'kulul-an‘āmu wan-nāru maṡwal lahum.

Sesungguhnya Allah akan memasukkan orang-orang yang beriman dan beramal saleh ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Adapun orang-orang yang kufur bersenang-senang dan makan-makan (di dunia) seperti halnya hewan-hewan. Nerakalah tempat tinggal bagi mereka.

Makna Surat Muhammad Ayat 12
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Sungguh, Allah akan memasukkan orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya dan membuktikan keimanan mereka dengan mengerjakan kebajikan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai sebagai penghormatan bagi keimanan mereka kepada Allah dan rasul-Nya. Dan orang-orang yang kafir menikmati ke-senangan dunia berupa harta benda dan kesenangannya yang tidak abadi dan mereka makan seperti hewan makan tanpa memikirkan kesudahan mereka; dan kelak nerakalah yang menjadi tempat tinggal bagi mereka sebagai balasan atas kekafirannya.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Ayat ini berbicara tentang keadaan orang mukmin dan orang kafir di akhirat. Orang-orang yang beriman dan beramal saleh diberi pahala berlipat ganda berupa surga sebagai balasan dari keimanan dan ketaatan mereka. Sedangkan orang-orang yang mengingkari kekuasaan dan keesaan Allah dan mendustakan Rasul-Nya, terpengaruh oleh kenikmatan hidup di dunia yang hanya bersifat sementara. Mereka tidak mengambil pelajaran dari peristiwa-peristiwa yang telah menimpa umat-umat dahulu. Mereka diumpamakan seperti hewan yang makan di kandang atau di padang rumput yang disediakan untuk mereka. Hewan-hewan itu tidak pernah memikirkan apakah makanan yang tersedia untuknya itu masih ada untuk dimakan besok atau semua habis pada hari ini, sehingga tidak ada makanan untuk dimakan lagi.

Ayat ini memberikan gambaran tentang keadaan dan apa yang dipikirkan orang-orang musyrik. Mereka hanya memikirkan apa yang enak dan dapat memenuhi keinginan hawa nafsu mereka. Mereka tidak mau memikirkan berapa lama yang enak dan keinginan hawa nafsu dapat mereka nikmati dan apa sumber dari keenakan dan kesenangan itu. Apakah mereka dapat terus-menerus menikmatinya, tidak pernah mereka pikirkan. Mereka juga tidak memikirkan akibat-akibat yang akan mereka alami seandainya mereka tidak mampu merasakan kenikmatan itu lagi. Mereka merasakan kenikmatan memakan sesuatu makanan, tetapi tidak pernah terpikir oleh mereka bahwa Allah telah menganugerahkan lidah kepada mereka untuk merasakan kenikmatan suatu yang dimakan. Bagaimana jadinya jika Allah memberi penyakit pada lidah mereka, sehingga tidak dapat merasakan sesuatu lagi? Mereka tidak memikirkan sikap dan tindakan yang paling baik yang harus mereka lakukan terhadap sumber kenikmatan itu.

Orang-orang yang digambarkan ayat di atas tempat kembalinya ialah neraka Jahanam, karena itulah tempat kembali yang paling layak bagi orang-orang yang tidak menggunakan pikirannya.

Isi Kandungan Kosakata

Dammarallāh دَمَّرَ اللّٰهُ (Muḥammad/47: 10)

Kata dammarallāh merupakan ungkapan yang terdiri dari dua kata, yaitu dammara dan Allāh. Yang pertama, yaitu dammara, merupakan kata kerja dalam bentuk māḍī (lampau) yang artinya menghancurkan. Sedang yang kedua, yaitu Allah, artinya Tuhan satu-satunya yang menjadi tujuan ibadah, pencipta alam, dan pengatur segala makhluk-Nya.

Kata ini merupakan jumlah fi‘liyyah (kalimat verbal), yaitu kalimat yang menunjukkan keaktifan kata kerja. Dengan demikian, Allah merupakan subjek, dan dammara merupakan predikatnya. Sedang yang dihancurkan adalah umat-umat masa lalu yang ingkar kepada seruan rasul. Kaum-kaum yang dihancurkan itu antara lain kaum ‘Ad, Samud, kaum Nuh, kaum Lut, dan lain sebagainya. Penyebutan kata tersebut ditujukan untuk mengingatkan kaum kafir Mekah yang selalu menyaksikan peninggalan umat-umat tersebut. Dengan melihat bekas-bekas mereka, diharapkan orang kafir Mekah dapat menyadari akibat yang akan diterima bila mereka mendustakan rasul yang diutus kepada mereka. Selanjutnya dengan memahaminya, mereka diharapkan akan dapat menyadari kekeliruan itu dan mau mengikuti petunjuk yang dibawa Rasulullah saw.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto