وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتّٰى نَعْلَمَ الْمُجٰهِدِيْنَ مِنْكُمْ وَالصّٰبِرِيْنَۙ وَنَبْلُوَا۟ اَخْبَارَكُمْ
Wa lanabluwannakum ḥattā na‘lamal-mujāhidīna minkum waṣ-ṣābirīn(a), wa nabluwa akhbārakum.
. Sungguh, Kami benar-benar akan mengujimu sehingga mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu serta menampakkan (kebenaran) berita-berita (tentang) kamu.
Dan sungguh, Kami benar-benar akan menguji kamu, wahai kaum muslim dengan menyuruhmu berjuang dan melakukan perbuatan berat, sehingga Kami mengetahui orang-orang yang benar-benar berjihad di jalan Allah dan bersabar dalam melaksanakan kewajiban di antara kamu; dan akan Kami uji perihal kamu sehingga Kami mengetahui siapa di antara kamu yang benar-benar beriman dan siapa yang dusta.
Dengan adanya ketentuan perang dan kewajiban-kewajiban berat yang lain, Allah menguji keimanan kaum Muslimin hingga diketahui siapa yang berjihad di jalan-Nya dan siapa yang tidak, serta siapa yang sabar dan siapa yang tidak. Dengan cobaan itu pula akan bertambah kuat iman orang yang sabar dan makin berkurang iman orang yang ragu-ragu.
1. Aqfāluhā أَقْفَالُهَا (Muḥammad/47: 24)
Kata aqfāl adalah jamak dari kata qufl yang berarti kunci. Ia terambil dari kata qafala-yaqfulu-quflan. Dari akar kata yang sama, kata quful berarti pulang dari bepergian, atau pulangnya pasukan dari kancah perang. Darinya terambil kata qāfilah yang berarti kafilah, sebuah penamaan yang mengandung pengharapan agar mereka kembali dari perjalanan mereka. Lalu darinya terambil dari kata quflun yang berarti penutup. Bila kita cermati, ada korelasi makna ‘penutup’ dengan ‘kembali dari perjalanan’, yaitu sama-sama menutup. Kata aqfāl di dalam Al-Qur’an hanya terdapat pada ayat yang sedang ditafsirkan ini. Menurut Imam aṭ-Ṭabarī, orang-orang munafik itu ditutup hatinya oleh Allah sehingga tidak memahami pelajaran dan nasihat yang ada di dalamnya.
2. Aḍgānahum أَضْغَانَهُمْ (Muḥammad/47: 29)
Kata aḍgān adalah jamak dari kata ḍagīnah, yang berarti kedengkian, permusuhan, dan kebencian. Ia terbentuk dari kata ḍagana-yaḍganu-ḍignan- ḍagīnatan. Dalam sebuah aṡar dari ‘Umar disebutkan:
أَيُّمَ قَوْمٍ شَهِدُوْا عَلَى رَجُلٍ بِحَدٍّ وَلَمْ يَكُنْ بِحَضْرَةِ صاَحِبِ الْحَدِّ فَإِنَّمَا شَهِدُوْا عَنْ ضِغْنٍ (رواه عبد الرزاق)
Jika ada satu kaum yang bersaksi terhadap seseorang yang bisa terkena hukuman had sedangkan kesaksian itu tidak berada di depan pelaku, maka sesungguhnya mereka bersaksi atas dasar kedengkian. (Riwayat ‘Abd ar-Razāq)
Kata ini terulang dua kali di dalam Al-Qur’an di surah yang sama, yaitu Surah Muḥammad ayat 29 dan 37.
3. Laḥnil Qaul لَحْنِ الْقَوْل (Muḥammad/47: 30)
Kata qaul adalah kata jadian (maṣdar) dari kata qāla-yaqūlu-qaulan yang berarti berkata. Sedangkan kata laḥn adalah kata jadian dari kata laḥana-yalḥanu-laḥnan. Akar maknanya adalah bernyanyi. Kalimat laḥḥana fi qirā'atihi berarti ia membaca dengan berirama. Darinya diambil kata laḥan yang berarti bahasa. Kata laḥana juga berarti kesalahan dalam berbicara, terutama dalam hal gramatika. Akan tetapi, yang dimaksud dalam ayat ini adalah yang tampak dari ucapan mereka, yang menunjukkan tujuan mereka, atau dialek, sebagaimana yang dikatakan oleh Amirul Mukminin ‘Uṡmān bin ‘Affān, “Seseorang tidak menyembunyikan suatu rahasia kecuali Allah menampakkannya pada raut wajahnya atau pada kegagapan lisannya.”
















































