اَفَمَنْ كَانَ عَلٰى بَيِّنَةٍ مِّنْ رَّبِّهٖ كَمَنْ زُيِّنَ لَهٗ سُوْۤءُ عَمَلِهٖ وَاتَّبَعُوْٓا اَهْوَاۤءَهُمْ
Afaman kāna ‘alā bayyinatim mir rabbihī kaman zuyyina lahū sū'u ‘amalihī wattaba‘ū ahwā'ahum.
Apakah orang yang berpegang teguh pada keterangan yang datang dari Tuhannya sama dengan orang yang perbuatan buruknya dijadikan terasa indah baginya dan mengikuti hawa nafsunya?
Maka apakah orang yang berpegang pada keterangan yang datang dari Tuhannya, ia melihat yang baik dan melakukannya dan memandang yang buruk kemudian meninggalkannya. Apakah orang yang demikian sifatnya itu sama dengan orang yang dijadikan oleh setan terasa indah baginya perbuatan buruknya itu dan sebaliknya tampak buruk baginya perbuatan yang baik dan oleh karena itu mereka senantiasa mengikuti keinginannya yang sesat dalam melakukan atau tidak melakukan perbuatan? Pasti, tidak sama.
Ayat ini menjelaskan perbandingan antara orang-orang yang beriman dengan orang kafir dengan mengatakan, “Apakah sama orang yang mau berpikir sehingga ia mempunyai pengertian, pemahaman, dan keyakinan terhadap agama Allah dan Al-Qur’an yang diturunkan kepada Muhammad saw dengan orang-orang yang tidak mau menggunakan pikirannya, sehingga ia tidak percaya bahwa Allah akan memberi balasan yang setimpal kepada orang-orang yang menuruti hawa nafsunya dan godaan setan? Tentu saja kedua macam orang itu tidak sama, bahkan perbedaan keduanya sangat besar.
Pada ayat yang lain Allah berfirman:
اَفَمَنْ يَّعْلَمُ اَنَّمَآ اُنْزِلَ اِلَيْكَ مِنْ رَّبِّكَ الْحَقُّ كَمَنْ هُوَ اَعْمٰىۗ اِنَّمَا يَتَذَكَّرُ اُولُوا الْاَلْبَابِ ١٩
Maka apakah orang yang mengetahui bahwa apa yang diturunkan Tuhan kepadamu adalah kebenaran, sama dengan orang yang buta? Hanya orang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran. (ar-Ra‘d/13: 19)
Dan firman Allah:
لَا يَسْتَوِيْٓ اَصْحٰبُ النَّارِ وَاَصْحٰبُ الْجَنَّةِۗ اَصْحٰبُ الْجَنَّةِ هُمُ الْفَاۤىِٕزُوْ نَ ٢٠
Tidak sama para penghuni neraka dengan para penghuni surga; para penghuni surga itulah orang-orang yang memperoleh kemenangan. (al-Ḥasyr/59: 20)
Dammarallāh دَمَّرَ اللّٰهُ (Muḥammad/47: 10)
Kata dammarallāh merupakan ungkapan yang terdiri dari dua kata, yaitu dammara dan Allāh. Yang pertama, yaitu dammara, merupakan kata kerja dalam bentuk māḍī (lampau) yang artinya menghancurkan. Sedang yang kedua, yaitu Allah, artinya Tuhan satu-satunya yang menjadi tujuan ibadah, pencipta alam, dan pengatur segala makhluk-Nya.
Kata ini merupakan jumlah fi‘liyyah (kalimat verbal), yaitu kalimat yang menunjukkan keaktifan kata kerja. Dengan demikian, Allah merupakan subjek, dan dammara merupakan predikatnya. Sedang yang dihancurkan adalah umat-umat masa lalu yang ingkar kepada seruan rasul. Kaum-kaum yang dihancurkan itu antara lain kaum ‘Ad, Samud, kaum Nuh, kaum Lut, dan lain sebagainya. Penyebutan kata tersebut ditujukan untuk mengingatkan kaum kafir Mekah yang selalu menyaksikan peninggalan umat-umat tersebut. Dengan melihat bekas-bekas mereka, diharapkan orang kafir Mekah dapat menyadari akibat yang akan diterima bila mereka mendustakan rasul yang diutus kepada mereka. Selanjutnya dengan memahaminya, mereka diharapkan akan dapat menyadari kekeliruan itu dan mau mengikuti petunjuk yang dibawa Rasulullah saw.
















































