قۤ ۗوَالْقُرْاٰنِ الْمَجِيْدِ ۖ
Qāf, wal-qur'ānil-majīd(i).
Qāf. Demi Al-Qur’an yang mulia.
Qaf. Allah bersumpah dengan kitab-Nya : Demi Al-Qur’an yang mulia.
Telah diungkapkan sebelum ini bahwa huruf-huruf abjad yang ada pada permulaan surah biasanya memperingatkan betapa pentingnya perkara yang disebut kemudian, dan sering sekali yang disebut itu ialah sifat Al-Qur’an seperti yang disebutkan di sini.
Dalam ayat ini, Allah bersumpah dengan kitab-Nya, yang mengandung banyak berkah dan kebajikan (Al-Qur’an) yang sangat mulia bahwa Nabi Muhammad benar-benar seorang utusan-Nya yang memberi peringatan kepada kaumnya tentang adanya hari kebangkitan. Senada dengan pernyataan ini, dalam permulaan Surah Yāsīn juga telah diterangkan bahwa Nabi Muhammad sungguh-sungguh adalah salah seorang rasul yang diutus agar memberi peringatan kepada kaum yang bapak-bapak mereka belum pernah diberi peringatan. Oleh karena itu, mereka lalai dan disebut zaman Jahiliah.
Raj‘un Ba‘īdun رَجْعٌ بَعِيْدٌ (Qāf/50: 3)
Kata raj‘un ba‘īd terdiri dari dua kata, yaitu raj‘ dan ba‘īd. Kata raj‘ merupakan bentuk maṡdar dari derivasi kata raja‘a-yarji‘u yang berarti kem-bali. Sedangkan kata ba‘īd berarti jauh. Dengan demikian, dalam konteks ayat ini kata raj‘un ba‘īd bermakna “suatu pengembalian yang tidak mungkin terjadi.” Maksudnya, Allah menegaskan bahwa orang-orang kafir yang mengingkari kenabian Nabi Muhammad dan hari kebangkitan setelah meninggal dan dibangkitkan lagi mereka akan menyesal dan tidak akan mungkin kembali seperti semula sebagaimana mereka hidup di dunia.

