بَلْ عَجِبُوْٓا اَنْ جَاۤءَهُمْ مُّنْذِرٌ مِّنْهُمْ فَقَالَ الْكٰفِرُوْنَ هٰذَا شَيْءٌ عَجِيْبٌ ۚ
Bal ‘ajibū an jā'ahum munżirum minhum faqālal-kāfirūna hāżā syai'un ‘ajīb(un).
(Mereka menolaknya,) bahkan mereka heran karena telah datang kepada mereka seorang pemberi peringatan dari (kalangan) mereka sendiri. Berkatalah orang-orang kafir, “Ini adalah sesuatu yang sangat mengherankan.
Sesungguhnya Kami mengutus engkau wahai Nabi Muhammad sebagai rasul untuk menyampaikan wahyu-wahyu Kami, tetapi kaum musyrik Mekah mengingkarinya, bahkan mereka tercengang karena telah datang kepada mereka seorang pemberi peringatan dari kalangan mereka sendiri yang mempunyai kebiasaan makan, minum dan berkeluarga sebagaimana manusia pada umumnya. Maka berkatalah orang-orang kafir, “Ini adalah suatu yang sangat ajaib.”
Mereka mengingkari kerasulan Nabi Muhammad, bahkan mereka itu bukan saja ragu-ragu dan mengingkari kerasulannya, malahan mereka tercengang karena telah datang kepada mereka seorang manusia yang memberi peringatan dari kalangan mereka sendiri. Mereka memandang sungguh aneh bahwa Allah mengutus seorang manusia seperti mereka sendiri, yang biasa makan-minum dan berkeluarga, yang biasa tidur dan kadang-kadang kena penyakit.
Mereka membayangkan bahwa seorang utusan Allah itu mesti malaikat seperti diterangkan dalam firman Allah:
اَبَشَرًا مِّنَّا وَاحِدًا نَّتَّبِعُهٗٓ
Bagaimana kita akan mengikuti seorang manusia (biasa) di antara kita? (al-Qamar/54: 24)
Dan firman Allah:
قَالُوْٓا اِنْ اَنْتُمْ اِلَّا بَشَرٌ مِّثْلُنَا
Mereka berkata, “Kamu hanyalah manusia seperti kami juga.” (Ibrāhīm/14: 10)
Raj‘un Ba‘īdun رَجْعٌ بَعِيْدٌ (Qāf/50: 3)
Kata raj‘un ba‘īd terdiri dari dua kata, yaitu raj‘ dan ba‘īd. Kata raj‘ merupakan bentuk maṡdar dari derivasi kata raja‘a-yarji‘u yang berarti kem-bali. Sedangkan kata ba‘īd berarti jauh. Dengan demikian, dalam konteks ayat ini kata raj‘un ba‘īd bermakna “suatu pengembalian yang tidak mungkin terjadi.” Maksudnya, Allah menegaskan bahwa orang-orang kafir yang mengingkari kenabian Nabi Muhammad dan hari kebangkitan setelah meninggal dan dibangkitkan lagi mereka akan menyesal dan tidak akan mungkin kembali seperti semula sebagaimana mereka hidup di dunia.

