تَبْصِرَةً وَّذِكْرٰى لِكُلِّ عَبْدٍ مُّنِيْبٍ
Tabṣirataw wa żikrā likulli ‘abdim munīb(in).
untuk menjadi pelajaran dan pengingat bagi setiap hamba yang kembali (tunduk kepada Allah).
Itu semua Kami ciptakan untuk menjadi pelajaran betapa besar kekuasaan Allah dan untuk menjadi peringatan bagi setiap hamba yang kembali kepada Allah, tunduk dan taat kepada-Nya.
Pada ayat ini dijelaskan bahwa sengaja dibuat pemandangan-pemandangan yang indah itu agar manusia ingat kepada Penciptanya, taat dan bertobat kepada-Nya. Langit yang begitu tinggi yang dihias dengan bintang-bintang agar dijadikan bahan renungan dan pemikiran, alangkah agungnya dan alangkah kuasanya Allah. Bumi yang dihamparkan untuk kediaman manusia dihiasi dengan berbagai tumbuhan yang buahnya dimanfaatkan oleh manusia dan binatang ternak, semuanya itu harus dijadikan pelajaran dan peringatan bagi tiap-tiap hamba Allah yang kembali mengingat-Nya.
‘Abdun Munīb عَبْدٌ مُنِيْب (QĀf/50: 8)
Secara kebahasaan kata ‘abdun munīb terdiri dari dua kata, yaitu kata ‘abd dan munīb. Kata ‘abd secara etimologi berarti seorang hamba atau pengabdi. Sedangkan kata munīb merupakan isim fā‘il (subjek) dari derivasi kata anāba-yunību yang berarti yang kembali. Dengan demikian, kata ‘abdun munīb yang berada pada surah Qāf ayat 8 tersebut bermakna, “Seorang hamba yang kembali (tunduk dan berpikir akan kekuasaan Allah).” Maksudnya, kejadian-kejadian di dunia ini dapat menjadi bukti nyata akan kebenaran datangnya hari kebangkitan, dan bukti-bukti nyata tersebut akan dimengerti hanya oleh orang-orang yang kembali mengingat Allah dan mempunyai kesadaran berpikir yang tinggi akan kekuasaan Allah.








































