وَالْاَرْضَ مَدَدْنٰهَا وَاَلْقَيْنَا فِيْهَا رَوَاسِيَ وَاَنْۢبَتْنَا فِيْهَا مِنْ كُلِّ زَوْجٍۢ بَهِيْجٍۙ
Wal-arḍa madadnāhā wa alqainā fīhā rawāsiya wa ambatnā fīhā min kulli zaujim bahīj(in).
(Demikian pula) bumi yang Kami hamparkan serta Kami pancangkan di atasnya gunung-gunung yang kukuh dan Kami tumbuhkan di atasnya berbagai jenis (tetumbuhan) yang indah
Dan apakah mereka tidak memperhatikan bumi yang Kami hamparkan dengan mantap untuk kediaman bagi manusia dan Kami pancangkan di atasnya gunung-gunung yang kokoh yang berfungsi sebagai pasak bumi agar bumi tidak goyah dan Kami tumbuhkan di atasnya tanam-tanaman yang indah dipandang mata?
Allah menerangkan bahwa Dia telah menghamparkan bumi bagi kediaman manusia dan meletakkan beberapa gunung yang berfungsi sebagai pasak bumi agar bumi tidak goyah, kukuh dan stabil, dan pada lereng-lerengnya ditumbuhkan berbagai tumbuh-tumbuhan yang indah permai sangat mengagumkan karena pemandangannya yang cantik itu.
‘Abdun Munīb عَبْدٌ مُنِيْب (QĀf/50: 8)
Secara kebahasaan kata ‘abdun munīb terdiri dari dua kata, yaitu kata ‘abd dan munīb. Kata ‘abd secara etimologi berarti seorang hamba atau pengabdi. Sedangkan kata munīb merupakan isim fā‘il (subjek) dari derivasi kata anāba-yunību yang berarti yang kembali. Dengan demikian, kata ‘abdun munīb yang berada pada surah Qāf ayat 8 tersebut bermakna, “Seorang hamba yang kembali (tunduk dan berpikir akan kekuasaan Allah).” Maksudnya, kejadian-kejadian di dunia ini dapat menjadi bukti nyata akan kebenaran datangnya hari kebangkitan, dan bukti-bukti nyata tersebut akan dimengerti hanya oleh orang-orang yang kembali mengingat Allah dan mempunyai kesadaran berpikir yang tinggi akan kekuasaan Allah.













































