وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءً مُّبٰرَكًا فَاَنْۢبَتْنَا بِهٖ جَنّٰتٍ وَّحَبَّ الْحَصِيْدِۙ
Wa nazzalnā minas-samā'i mā'am mubārakan fa'ambatnā bihī jannātiw wa ḥabbal-ḥaṣīd(i).
Kami turunkan dari langit air yang diberkahi, lalu Kami tumbuhkan dengannya kebun-kebun dan biji-bijian yang dapat dipanen.
Dan dari langit Kami turunkan air yang memberi berkah bagi penghuni bumi, lalu Kami tumbuhkan dengan air yang tercurah itu bermacam-macam pepohonan yang rindang dan biji-bijian yang dapat dipanen, seperti gandum, jagung dan sebagainya.
Pada ayat ini Allah menerangkan bagaimana cara menumbuhkan tumbuh-tumbuhan itu, yaitu menurunkan dari langit air hujan yang banyak man-faatnya untuk menumbuhkan tanaman dan pohon-pohon yang berbuah, terutama tumbuh-tumbuhan dan biji tanamannya dapat dituai seperti padi, gandum, jagung, dan sebagainya.
‘Abdun Munīb عَبْدٌ مُنِيْب (QĀf/50: 8)
Secara kebahasaan kata ‘abdun munīb terdiri dari dua kata, yaitu kata ‘abd dan munīb. Kata ‘abd secara etimologi berarti seorang hamba atau pengabdi. Sedangkan kata munīb merupakan isim fā‘il (subjek) dari derivasi kata anāba-yunību yang berarti yang kembali. Dengan demikian, kata ‘abdun munīb yang berada pada surah Qāf ayat 8 tersebut bermakna, “Seorang hamba yang kembali (tunduk dan berpikir akan kekuasaan Allah).” Maksudnya, kejadian-kejadian di dunia ini dapat menjadi bukti nyata akan kebenaran datangnya hari kebangkitan, dan bukti-bukti nyata tersebut akan dimengerti hanya oleh orang-orang yang kembali mengingat Allah dan mempunyai kesadaran berpikir yang tinggi akan kekuasaan Allah.











































